Amerika Serikat, sanubari.co.id — Teknologi ionokalori mulai mendapat perhatian sebagai salah satu kandidat sistem pendingin generasi baru yang berpotensi mengurangi ketergantungan pada refrigeran konvensional. Teknologi ini memanfaatkan perpindahan ion untuk mengubah titik leleh suatu material sehingga proses perubahan fase dapat menyerap atau melepaskan panas.
Istilah “freon” dalam penggunaan sehari-hari sering merujuk pada berbagai refrigeran, meski secara teknis Freon merupakan nama dagang. Sistem pendingin modern juga menggunakan hidrofluorokarbon (HFC) dan refrigeran lainnya. Persoalan lingkungan muncul karena sejumlah HFC memiliki potensi pemanasan global (GWP) sangat tinggi.
Dorongan mencari alternatif semakin kuat seiring penerapan pengurangan HFC berdasarkan Amandemen Kigali. Di Amerika Serikat, misalnya, pembatasan terhadap refrigeran HFC dengan GWP tinggi mulai berlaku untuk sejumlah sektor sejak 2025.
Ionokalori dikembangkan antara lain oleh peneliti Lawrence Berkeley National Laboratory dan University of California, Berkeley. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Science, peneliti menggunakan larutan natrium iodida (NaI) dan etilena karbonat. Pemberian tegangan listrik mengubah konsentrasi ion dan titik leleh material, sehingga material dapat menyerap panas ketika mencair dan melepaskannya ketika kembali mengkristal.
Eksperimen awal menunjukkan kenaikan atau penurunan temperatur hingga 25 derajat Celsius dengan tegangan sekitar 0,22 volt. Penelitian tersebut juga mencatat performa sebesar sekitar 30 persen dari batas efisiensi Carnot. Angka ini menunjukkan potensi teknologi, tetapi masih berasal dari tahap eksperimental dan belum dapat disamakan dengan performa sistem pendingin komersial.
Drew Lilley, peneliti yang memimpin studi tersebut, mengatakan teknologi ini masih menghadapi tantangan untuk memenuhi seluruh kebutuhan sistem pendingin.
“Situasi terkait refrigeran merupakan masalah yang belum terpecahkan. Namun kami berpendapat bahwa siklus ionokalorik memiliki potensi untuk memenuhi semua tujuan tersebut jika diwujudkan dengan tepat,” kata Lilley.
Perkembangan penelitian berlanjut. Studi yang diterbitkan pada 2025 mengkaji perilaku perubahan fase larutan NaI-etilena karbonat dan metode pemisahan komponennya untuk meningkatkan pemahaman terhadap siklus ionokalori.
Lembaga penelitian ILK Dresden juga menjalankan proyek ionokalori pada periode 2024–2026. Fokusnya mencakup pemilihan material, proses pencampuran dan pemisahan, efisiensi sirkulasi, serta persoalan korosi dan pengangkutan material dalam kondisi padat maupun cair.
Dengan demikian, prospek ionokalori cukup terbuka, terutama karena konsepnya dapat mengurangi kebutuhan terhadap gas refrigeran dengan GWP tinggi. Namun, teknologi ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut dalam kapasitas pendinginan, efisiensi, ketahanan material, biaya, dan kemampuan untuk diperbesar skalanya sebelum dapat menjadi alternatif komersial bagi sistem pendingin konvensional.
Editor : Robby