Konflik Tigray di Ethiopia Kembali Memanas, Perjanjian Damai Pretoria Terancam

Reporter : Robby
Anggota Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).(AFP)

Addis Ababa, sanubari.co.id — Pertempuran bersenjata kembali pecah di wilayah utara Ethiopia sejak 22 September 2026, menandai eskalasi paling serius sejak perjanjian damai Pretoria mengakhiri Perang Tigray pada November 2022. Bentrokan kali ini melibatkan militer federal Ethiopia melawan Pasukan Pertahanan Tigray (TDF) yang berafiliasi dengan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), serta kelompok bersenjata Fano dari Amhara.

Menurut data yang dihimpun, pemerintah Ethiopia melancarkan serangan menggunakan sedikitnya lima drone dan lebih dari 21 serangan udara pada 22 September 2026. Dua di antara serangan drone tersebut mengenai dua sekolah di Alamata, menewaskan sekurangnya 14 warga sipil dan melukai 22 orang lainnya.

Merespons hal itu, TPLF menuduh pemerintah melancarkan "invasi terbuka" dan menyatakan dimulainya "perang defensif."

Sehari kemudian, pasukan Tigray berhasil merebut sejumlah bandara di kawasan tersebut, termasuk di Mekelle, ibu kota regional Tigray. Akibatnya, maskapai Ethiopian Airlines menghentikan sementara seluruh penerbangan ke Tigray, sementara warga setempat melaporkan penutupan jalan penghubung antara Tigray dan wilayah tetangga Afar.

Organisasi pemantau konflik ACLED mencatat pasukan Ethiopia telah melakukan serangan drone yang menyasar pasukan dan pejabat TPLF dalam beberapa bulan terakhir, dengan titik serangan terkonsentrasi di Mekelle dan Tigray selatan.

Ketegangan ini sebenarnya sudah terpendam sejak Mei 2026, ketika TPLF kembali menguasai pemerintahan regional Tigray setelah sebelumnya dikelola pemerintahan interim hasil kesepakatan 2022.

Dari pihak TPLF, anggota komite pusatnya, Abdisalam Balema, menyampaikan kepada media dari Mekelle: "Mereka telah memulai ofensif di Tigray selatan." Ia menambahkan bahwa serangan tengah berlangsung di berbagai titik.

Human Rights Watch memperingatkan risiko bagi warga sipil di tengah eskalasi ini. Organisasi tersebut menyatakan kekhawatiran bahwa pihak-pihak yang bertikai perlu mengambil segala langkah untuk melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil, mengingat catatan kekejaman masa lalu dan impunitas yang masih berlangsung.

Konflik ini berpotensi meluas melibatkan Eritrea, yang sebelumnya menjadi sekutu pemerintah federal namun tidak dilibatkan dalam perjanjian Pretoria. Perang Tigray 2020–2022 sebelumnya tercatat sebagai salah satu konflik paling mematikan di dunia dalam dekade terakhir, dengan estimasi korban jiwa mencapai sekitar 600.000 orang.

Situasi di lapangan terus berkembang dan pihak internasional mendesak gencatan senjata segera guna mencegah bencana kemanusiaan lebih lanjut.

Editor : Robby

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru