Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menilai keberagaman menjadi kekuatan jika dibangun dengan sikap s

Agus Haris: Pancasila Perekat Keberagaman di Bontang

Reporter : Michael Fredy Yacob
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat diwawancarai awak media.

BONTANG, sanubari.co.id - Pancasila menjadi satu-satunya dasar pemersatu keberagaman di Indonesia. Di sisi lain, perbedaan yang ada juga harus menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris menilai, hari kesaktian Pancasila tidak hanya sekadar seremonial tahunan. Peringatan ini jadi momentum untuk kembali mengingat posisi Pancasila sebagai dasar sekaligus perekat bangsa di tengah beragam perbedaan.

Baca juga: Pesan WhatsApp Antar Sony Jadi Sekda Bontang

Menurutnya, perjalanan Indonesia setelah kemerdekaan tidak serta-merta berlangsung tanpa persoalan. Berbagai gerakan dan kepentingan yang berpotensi mengganggu persatuan masih muncul. 

Dalam situasi itu, Pancasila menjadi titik temu bagi masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang berbeda.

"Banyak gerakan dan kelompok yang menginginkan Indonesia tetap rusuh, masih bisa dikendalikan atau dikuasai," kata Agus, saat apel peringatan Hari Kesaktian Pancasila, di Bontang, Kamis, 1 Oktober 2026..

Karena itu, kata dia, kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai perbedaan dalam satu identitas kebangsaan.

"Kita bisa dipersatukan dari seluruh perbedaan, baik kelompok, agama maupun kebudayaan. Kita bersatu di dalam Pancasila, bersama di dalam perbedaan," ujarnya.

Nilai persatuan itu, menurut Agus, terasa dalam kehidupan masyarakat Bontang. Kota yang berkembang sebagai kawasan industri dan dihuni masyarakat dari berbagai daerah tersebut memiliki keragaman suku, agama, budaya, serta latar belakang sosial.

"Bontang ini memang miniatur Indonesia. Seluruh suku ada di sini, seluruh agama ada di sini," tuturnya.

Namun, keberagaman tersebut tidak berdiri sendiri. Agus menyebut kehidupan yang rukun juga ditopang oleh peran berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, paguyuban, organisasi kepemudaan, hingga kelompok sosial lainnya.

Ia juga menyoroti peran masyarakat asli Kalimantan Timur dalam menciptakan ruang hidup yang terbuka bagi warga pendatang.

Baca juga: Lama Dijabat Pj, Sony Resmi Jadi Sekda Bontang

"Yang lebih penting kalau kita di Kalimantan Timur ini adalah diterimanya kita oleh penduduk asli di sini, baik itu Kutai, Dayak, Paser maupun Banjar. Kita diterima dengan baik di sini," katanya.

Menurut Agus, penerimaan tersebut merupakan sesuatu yang patut disyukuri sekaligus dihormati. Warga pendatang, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kehidupan bersama serta menghargai masyarakat dan budaya lokal.

"Kita harus patuhi dan kita harus syukuri. Kita bisa diterima mengabdi di sini, mencari kehidupan di sini oleh penduduk asli. Itu yang sangat kita junjung," ujarnya.

Agus menyadari kehidupan bermasyarakat tidak selalu berjalan tanpa perbedaan. Perbedaan pendapat, termasuk dalam persoalan politik, merupakan bagian dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, perbedaan tersebut semestinya tidak menghilangkan kepentingan yang lebih besar, yakni menjaga kehidupan bersama.

Baca juga: Sidak Tiga SPPG Bontang, Ini Temuan Agus Haris

"Riak-riak itu adalah dinamika kehidupan yang mewarnai perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Bontang ada saja yang berbeda pendapat, ada pro dan kontra. Itu sesuatu hal yang biasa karena memiliki latar belakang pandangan dan politik," jelasnya.

Ia menekankan, ketika kepentingan yang dibicarakan menyangkut kehidupan masyarakat dan masa depan daerah, perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk memutus persatuan.

"Ketika kita bicara kebangsaan, ketika kita bicara kota dan provinsi, alhamdulillah kita bisa bersatu," katanya.

Agus mengatakan Indonesia tidak boleh berhenti hanya karena masyarakat memiliki pilihan politik, warna kelompok, keyakinan, atau latar belakang yang berbeda. Negara harus terus berjalan dan masyarakat tetap memiliki ruang untuk hidup berdampingan.

"Kita harus berjalan terus. Tidak bisa kita berhenti bernegara karena berbeda politik, berbeda warna atau berbeda agama. Pancasila mengikat di situ. Itulah kesadaran kita bersama," ucapnya. (*)

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru