BONTANG, sanubari.co.id - Tak semua keputusan besar dalam karier birokrasi bermula dari rapat panjang atau pertemuan resmi.
Bagi Sony Suwito Adi Cahyono, kabar tentang jabatan barunya sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bontang justru datang melalui sebuah pesan WhatsApp pada dini hari.
Baca juga: Agus Haris: Pancasila Perekat Keberagaman di Bontang
Sony menuturkan, saat itu jarum jam menunjukkan sekitar pukul 01.54 Wita ketika pesan dari Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni masuk ke telepon genggamnya.
Pesannya singkat. Tetapi cukup membuat Sony terkejut. Neni memintanya datang ke kediaman wali kota pada pukul 06.00 Wita. Saat pesan itu masuk, Sony mengaku sedang melaksanakan salat tahajud.
“Awalnya saya menerima pesan WhatsApp dari Bunda Wali Kota sekitar pukul 01.54 Wita. Beliau meminta besok pagi pukul 06.00 Wita saya menghadap ke rumah beliau,” kata Sony.
Sony baru membuka dan membalas pesan tersebut setelah menyelesaikan salat tahajud. Namun, sebelum rencana pertemuan pagi itu terlaksana, telepon dari Neni lebih dulu masuk.
Dalam percakapan itu, Neni sempat menanyakan apakah Sony sedang melaksanakan salat tahajud. Setelah Sony membenarkannya, percakapan berlanjut pada sebuah kabar yang mengubah perjalanan kariernya.
Neni menyampaikan bahwa Sony dipilih untuk menduduki jabatan Sekda Kota Bontang.
“Di situ sudah dikabari kalau saya dipilih sebagai Sekda. Lalu beliau bilang, ‘Sudah, enggak usah ke rumah lagi.’ Karena itu yang mau saya sampaikan,” tutur Sony.
Kabar tersebut menjadi puncak proses seleksi jabatan Sekda Kota Bontang yang telah berlangsung sebelumnya.
Dalam tahapan akhir seleksi Sekda Bontang 2026, tiga nama masuk sebagai kandidat akhir, yakni Sony Suwito Adicahyono, Sudi Priyanto, dan Much Cholis Edy Prabowo.
Ketiganya bukan nama baru dalam lingkup birokrasi Pemerintah Kota Bontang.
Sudi Priyanto sebelumnya menjabat Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Bontang.
Baca juga: Lama Dijabat Pj, Sony Resmi Jadi Sekda Bontang
Adapun Much Cholis Edy Prabowo atau Edy Prabowo menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang.
Sony sendiri sebelumnya menjabat Asisten II Administrasi Perekonomian dan Pembangunan.
Dari tiga kandidat tersebut, Sony kemudian ditetapkan sebagai Sekda dan resmi dilantik untuk menduduki jabatan definitif tersebut.
Setelah pesan WhatsApp dini hari itu berujung pada penetapan dirinya sebagai Sekda, Sony kini memasuki fase yang lebih serius: menjalankan tanggung jawab dari jabatan tersebut.
Sejumlah pekerjaan strategis telah menanti. Salah satunya berkaitan dengan pengelolaan fiskal daerah.
Kemampuan pemerintah daerah mengelola anggaran menjadi penting karena ruang fiskal turut menentukan seberapa besar program pembangunan dan pelayanan publik dapat dijalankan.
Baca juga: Kembali Bersahabat dengan Masker
Sony juga harus mengawal program-program kepala daerah agar berjalan secara terkoordinasi di setiap perangkat daerah.
Tantangan lain adalah membuka peluang dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat. Upaya itu membutuhkan koordinasi, perencanaan program yang matang.
Serta kemampuan pemerintah daerah menghubungkan kebutuhan pembangunan Bontang dengan berbagai skema dukungan pemerintah pusat.
Kini, cerita tentang pesan WhatsApp pada dini hari itu menjadi bagian kecil dari perjalanan Sony sebagai Sekda Bontang.
Bagian yang lebih besar justru baru dimulai: bagaimana ia menjalankan mandat tersebut dan menjawab berbagai pekerjaan yang menanti di meja kerjanya.
“Saya pribadi tentunya ingin bisa berbuat banyak untuk Pemerintah Kota Bontang. Tentu butuh support dari teman-teman di perangkat daerah,” tutupnya. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob