Saat mengikuti ibadah minggu pagi 1 November 2026 di Gereja Jawa & Belanda (Javanese and Dutch Church) jemaat Doeta Watjana di Paramaribo Suriname, salah satu lagu yang dinyanyikan dengan iringan musik keroncong adalah lagu “Bengawan Solo” karya Gesang. Liriknya sudah diganti dengan kata-kata pujian kepada Tuhan, dalam Bahasa Jawa Suriname dan bercampur dengan Bahasa Belanda.
Suasana menjadi seperti di kampung halaman. Walaupun Bahasa yang digunakan dalam ibadah ini 70 persen Bahasa Belanda, dan 30 persen Bahasa Jawa Suriname. Jejak budaya Jawa masih sangat kental terasa. Pakaian mereka banyak menggunakan batik, makanan yang disajikkan sesudah ibadah persis sama dengan makanan Jawa: ada gudangan, pisang goreng, sate lontong, gulai ayam, lumpia, dan kue lapis. Juga ada buah pisang ambon dan mangga.
Komunitas suku keturunan Jawa di Suriname memang memiliki sejarah panjang dan peran yang sangat signifikan dalam membentuk wajah sosial, budaya, serta politik negara tersebut.
Penggunaan Bahasa Jawa di sini sangat unik. Karena mayoritas imigran pertama berasal dari kalangan kelas pekerja/petani, kebutuhan sosial untuk menggunakan bahasa halus (Krama) menghilang di lingkungan perkebunan. Struktur bahasanya menjadi sangat demokratis, mencerminkan rasa solidaritas dan kesetaraan nasib di antara sesama pekerja perkebunan.
Saat ini, warga keturunan Jawa di Suriname diperkirakan berjumlah sekitar 75.000 hingga 83.000 jiwa. Mereka membentuk sekitar 13,7 - 14 persen dari total populasi Suriname. Angka ini menjadikan etnis Jawa sebagai kelompok etnis terbesar keempat di Suriname, setelah etnis India (Hindustani), Marun (Maroons), dan Kreol.
Menurut catatan sejarah, imigran Jawa pertama kali tiba di Suriname pada 9 Agustus 1890. Gelombang ini dibawa oleh kapal SS Koningin Emma yang mengangkut 94 pekerja kontrak asal Jawa.
Migrasi ini berlangsung dalam beberapa gelombang dari tahun 1890 hingga 1939 dengan total sekitar 32.956 orang Jawa yang diberangkatkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Belanda mendatangkan mereka sebagai buruh kontrak untuk menggantikan tenaga kerja di perkebunan tebu, kopi, dan kakao setelah sistem perbudakan warga Afrika dihapuskan secara total di Suriname. Sebagian besar buruh ini berasal dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setelah masa kontrak lima tahun selesai, banyak dari mereka yang memilih menetap daripada pulang ke Jawa karena keterbatasan biaya atau janji hak tanah yang diberikan oleh kolonial Belanda. Mereka mulai beralih menjadi petani mandiri, buruh tambang boksit, dan pedagang.
Untuk mempertahankan identitas di tanah rantuan, mereka merawat erat bahasa Jawa (yang berkembang menjadi bahasa Jawa Suriname), agama (mayoritas Islam dan tradisi Kejawen), serta kesenian seperti gamelan dan wayang. Wadah sosial-budaya ini memperkuat solidaritas kelompok.
Politik di Suriname secara historis berbasis pada keterwakilan etnis (sistem konsosiasional). Karena jumlah populasinya yang signifikan (menjadi penentu suara berimbang/swing voters), partai-partai politik Jawa sering kali menjadi mitra koalisi krusial yang dibutuhkan oleh partai etnis lain (Hindustani atau Kreol) untuk membentuk pemerintahan mayoritas di parlemen.
Menurut berbagai sumber, tokoh-tokoh politik keturunan Jawa yang tersohor antara lain:
- Iding Soemita. Pada tahun 1946, ia mendirikan partai politik Jawa pertama, yaitu Kaum Tani Persatuan Indonesia (KTPI).
- Salikin Mardi Hardjo. Aktivis sosial dan tokoh pergerakan anti-kolonial sesama generasi Iding Soemita yang mendirikan Pergerakan Bangsa Indonesia Suriname (PBIS).
- Paul Somohardjo. Ia mendirikan partai Pertjajah Luhur (PL) pada tahun 1998. Somohardjo pernah menjabat sebagai Ketua Parlemen (National Assembly) Suriname periode 2005–2010).
- Soewarto Mustadja. Politikus senior keturunan Jawa yang berulang kali dipercaya menjabat sebagai Menteri dalam berbagai kabinet pemerintahan Suriname, termasuk Menteri Dalam Negeri dan Menteri Tenaga Kerja.
- Bronto Somohardjo. Politikus muda (anak dari Paul Somohardjo) yang sempat menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Suriname pada era kabinet modern saat ini.
Lembaga Alkitab Suriname hanya memiliki 11 staf, dua di antaranya adalah keturunan Jawa. Yang satu sudah bercampur dengan darah India namanya Raitza berusia menjelang 30-an, sama sekali sudah tidak bisa berbahasa Jawa. Satu lagi Bapak dan Ibunya masih keturunan Jawa, namanya Marilyn Djojoseparto, seorang Ibu muda dari seorang puteri yang masih balita.
Saya meminta Marilyn untuk memperkenalkan diri dalam Bahasa Jawa Suriname dan saya rekam dengan video, memang sudah tampak terbata-bata. Lebih lancar berbahasa Belanda atau Bahasa Inggris. Tantangan tersendiri, karena semakin sedikit generasi di bawah tiga puluh tahun yang paham Bahasa Jawa.
Marilyn menjadi kebanggaan khusus Lembaga Alkitab Suriname. Karena tahun ini dia dinobatkan sebagai Typestter pertama dari Suriname yang mengerjakan penerbitan Alkitab Bahasa Aukan yang diluncurkan pada 30 Oktober 2026, saat 60 tahun usia Lembaga Alkitab Suriname. Saya pun ikut berbangga dan bersukacita. Puji syukur.
(Sigit Triyono, Sekretaris Umum LAI/Lembaga Alkitab Indonesia)
Editor : Robby