Teheran, sanubari.co.id - Iran memperingatkan bahwa konflik yang berlangsung di Timur Tengah dapat meluas hingga Samudra Hindia apabila Amerika Serikat (AS) atau Israel kembali melancarkan serangan.
Peringatan itu disampaikan Yahya Rahim Safavi, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, pada 24 September 2026.
Baca juga: Trump Larang Tiga Media Melakukan Liputan di Gedung Putih
Safavi mengatakan militer Iran telah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan serangan baru.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui video yang dirilis kantor berita Iran, Fars, dan diberitakan sejumlah media internasional.
“Karena konflik telah menyebar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz ke Laut Merah, ada kemungkinan sebagai respons terhadap perang lebih lanjut, front akan meluas lebih jauh hingga Samudra Hindia dan mungkin lebih dari itu,” kata Safavi.
Peringatan tersebut muncul ketika ketegangan antara Teheran dan Washington kembali meningkat. Pada saat yang sama, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidatonya di Majelis Umum PBB menegaskan bahwa Iran tetap terbuka terhadap dialog, diplomasi, dan negosiasi, tetapi menolak tekanan melalui kekuatan militer.
Konflik juga telah berdampak langsung terhadap jalur pelayaran strategis. Pada September ini, serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu eskalasi terbesar sejak perang berlangsung.
Baca juga: Samsung dan Verizon Sukses Uji Coba Teknologi Jaringan 6G di Texas
Reuters melaporkan Iran pada 9 September menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar selat tersebut setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker Iran. Harga minyak Brent saat itu sempat menembus USD100 per barel.
Situasi di kawasan Laut Merah juga semakin kompleks. Kelompok Houthi yang didukung Iran terlibat dalam pertempuran dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Pada 24 September 2026, koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan Houthi menuju wilayah Saudi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperingatkan mengenai dampak kemanusiaan konflik tersebut. Komisaris Tinggi HAM PBB menyatakan warga sipil menjadi pihak yang paling terdampak oleh meningkatnya kekerasan di Yaman.
Baca juga: Era Baru Dimulai, Pesawat Listrik Terbesar di Dunia Terbang Perdana
Sementara itu, perkembangan terbaru menunjukkan jalur diplomasi AS-Iran masih berjalan meski kedua pihak belum menemukan titik temu.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa posisi Washington dan Teheran masih berjauhan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang.
Ancaman perluasan konflik ke Samudra Hindia belum berarti operasi militer tersebut akan benar-benar terjadi.
Namun, pernyataan Safavi menunjukkan bahwa kemungkinan perluasan wilayah konflik kini secara terbuka masuk dalam retorika dan perencanaan militer Iran. (*)
Editor : Robby