Anekdot: Alan C. Singkali, direktur sanubari.co.id
PAGI itu di warung kopi ujung gang, Pak Sanu datang sambil membawa koran bekas yang sudah kucel di ketiaknya.
Baca juga: Tanda Tangan yang Tak Pernah Cukup Kering
"Bari! Bari! Denger nggak, Indonesia mau punya kapal induk!" kata Pak Sanu sambil mengangkat salah satu tangan yang memegang koran itu.
Kang Bari, yang lagi sibuk nuang kopi, cuma melirik sambil senyum. "Kapal induk? Buat apa, Pak? Kita kan mau naik ojek aja mikir dua kali."
"Ini serius! Namanya Giuseppe Garibaldi, bekas kapal Italia. Panjangnya 180 meter, Bari! Dek-nya kayak papan seluncur, bisa buat pesawat lepas landas!"
Kang Bari menaruh gelas kopi di depan Pak Sanu, masih dengan raut wajah tenang.
"Bekas ya, Pak? Kayak motor saya ini juga bekas. Tapi tetap bangga, karena bisa jalan."
Baca juga: "Saking Pintarnya Jadi Goblok": Kenapa Kita Perlu Dengar Pidato Ini Secara Utuh
Pak Sanu terdiam sebentar, lalu tertawa.
"Betul juga, Bari. Yang penting bukan baru atau bekas, tapi bisa dipakai buat apa. Katanya buat bantu bencana, patroli laut, jaga-jaga juga kalau perlu."
"Nah itu baru namanya kapal induk yang merakyat, Pak," kata Kang Bari sambil mengelap meja.
"Nggak sombong, walau gede. Kayak saya nih, warung kecil, tapi kopinya bisa bikin orang semangat sepagian."
Baca juga: Beras Fortifikasi Bermasalah: Ketegasan Menuju Kedaulatan Pangan
Pak Sanu mengangguk-angguk sambil menyeruput kopinya. "Ya sudah, kalau begitu, kita tunggu saja. Semoga beneran datang sebelum HUT TNI."
"Aamiin, Pak," sahut Kang Bari. "Yang penting jangan kayak janji-janji tetangga saya yang katanya mau bayar utang kopi bulan lalu — sampai sekarang belum nongol juga kapalnya."
Keduanya tertawa lepas, sementara asap kopi mengepul pelan di pagi yang mendadak terasa lebih... maritim. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob