Nairobi, sanubari.co.id — Para petani di Afrika kini mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi dampak El Nino yang berpotensi mengganggu musim tanam, produksi pangan, dan ketersediaan air. Salah satunya para petani di Kenya.
Departemen Meteorologi Kenya pada 23 September 2026 meluncurkan Forecast-to-Farmer Pilot, program yang memanfaatkan model prakiraan berbasis AI untuk menghasilkan informasi cuaca beresolusi tinggi hingga empat pekan ke depan.
Informasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi saran praktis mengenai waktu tanam, potensi periode kering, dan pengelolaan curah hujan.
“Data prakiraan yang telah diotorisasi akan didistribusikan melalui gerbang API kepada berbagai organisasi publik dan swasta. Hal ini memungkinkan mereka menerjemahkan pola cuaca yang kompleks menjadi saran pertanian yang dapat ditindaklanjuti,” kata Departemen Meteorologi Kenya dalam keterangan resminya.
Program tersebut menggunakan musim hujan Oktober-Desember 2026 sebagai tahap pembuktian awal sebelum direncanakan diperluas untuk musim hujan Maret-Mei 2027.
Informasi diperkirakan disalurkan melalui layanan penyuluhan, SMS, serta platform digital seperti iShamba dan layanan konsultasi pertanian KALRO.
Kebutuhan teknologi semacam itu meningkat seiring ancaman El Nino. Analisis FEWS NET pada September menunjukkan produksi tanaman di sejumlah wilayah Afrika Timur, termasuk Kenya, Uganda, Rwanda, Burundi, Sudan, Sudan Selatan, dan Ethiopia bagian barat, berada pada tingkat rata-rata hingga di bawah rata-rata.
Pada saat yang sama, El Nino diperkirakan meningkatkan curah hujan di sebagian Afrika Timur pada periode Oktober-Desember. Kondisi tersebut membuka peluang pemulihan produksi pertanian, tetapi sekaligus meningkatkan risiko banjir, genangan, dan tanah longsor.
AI juga mulai dikembangkan untuk memberikan rekomendasi yang lebih spesifik berdasarkan lokasi lahan. Gates Foundation dan Google pada 18 September 2026 mengumumkan perluasan program AI yang ditargetkan menjangkau hingga 200 juta petani kecil di Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan.
Kedua organisasi tersebut mengalokasikan lebih dari 100 juta dolar AS dalam pendanaan gabungan dan dukungan teknis untuk pengembangan alat AI terkait iklim dan pertanian.
"Di mana pun mereka bertani, masyarakat berhak mendapatkan akses terhadap informasi mengenai cuaca, tanaman, dan kondisi tanah yang dapat menentukan perbedaan antara panen yang baik dan kegagalan panen," jelas CEO Gates Foundation, Mark Suzman.
Menurut Global Center on Adaptation, layanan advisori iklim digital di Afrika telah menunjukkan potensi peningkatan hasil panen sekitar 10-30 persen dalam berbagai konteks. Namun, lembaga tersebut juga menyoroti sejumlah kendala, seperti keterbatasan konektivitas internet, data, pendanaan, dan akses terhadap teknologi.
Dengan demikian, AI bukan pengganti penyuluh atau petani, melainkan alat untuk mempercepat penyampaian informasi cuaca dan agronomi.
Keberhasilannya dalam membantu menghadapi El Nino akan sangat bergantung pada kemampuan menerjemahkan prediksi menjadi keputusan yang sederhana, tepat waktu, dan sesuai dengan kondisi lokal.
Editor : Robby