Tangerang Selatan, sanubari.co.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyiapkan pengaktifan kembali konsol hujan buatan untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah ini diharapkan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), terutama ketika kebakaran meluas dan kondisi lahan semakin kering.
Baca Juga: Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Pemegang Konsesi Imbas Karhutla
Persiapan tersebut diawali dengan pemeriksaan peralatan oleh Tim Depo Pemeliharaan 10 TNI AU di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa, 20 Oktober 2026.
Selanjutnya, peralatan atau konsol itu akan dibawa ke Bandung untuk diperbaiki sebelum menjalani pemeriksaan kelayakan operasional.
Manajer Objek Vital Nasional dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja BRIN, Agus Basuki, mengatakan pemeriksaan menjadi tahap penting sebelum alat digunakan kembali.
“Pengecekan ini menjadi tahapan penting untuk mengetahui kondisi konsol hujan buatan sebelum dilakukan perbaikan,” ujar Agus dalam keterangan resmi BRIN, pada 21 Oktober 2026.
Teknologi modifikasi cuaca bukan menciptakan hujan dari langit yang cerah. Metode ini memanfaatkan awan potensial yang memiliki kandungan air dan kondisi atmosfer yang sesuai, kemudian meningkatkan peluang terbentuknya hujan melalui penyemaian bahan tertentu.
Baca Juga: Tegas! Singapura Tindak 7 Perusahaan Pemicu Asap Lintas Batas
Dalam praktiknya, pesawat membawa bahan semai, seperti natrium klorida (NaCl) atau bahan lain sesuai metode dan kondisi awan. Bahan tersebut dilepaskan pada ketinggian dan lokasi yang ditentukan berdasarkan analisis meteorologi. Partikel semai membantu proses pembentukan atau pertumbuhan butir air dan kristal es di dalam awan, sehingga peluang hujan meningkat.
Keunggulan pendekatan ini adalah cakupan pembasahan yang relatif luas. Hujan dapat membantu membasahi vegetasi dan tanah, menurunkan kondisi kering pada lahan rawan terbakar, serta mengurangi peluang api meluas. Teknologi ini juga bisa mendukung pengisian cadangan air di kawasan gambut sebagai langkah pencegahan kebakaran berikutnya.
Pengaktifan kembali konsol hujan buatan menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan peralatan. Namun, keberhasilan operasi tetap bergantung pada ketersediaan awan potensial, kelembapan, suhu, dan dinamika atmosfer. Karena itu, teknologi ini tidak bisa menjamin hujan turun tepat di lokasi kebakaran.
Pengalaman operasi sebelumnya menunjukkan teknologi tersebut telah digunakan untuk membantu penanganan karhutla. Pada Agustus 2026, TNI AU mengerahkan pesawat CASA NC-212 untuk penyemaian awan di wilayah Ibu Kota Nusantara dan Kalimantan Timur. Dalam operasi tersebut, sebanyak 800 kilogram natrium klorida digunakan pada ketinggian sekitar 8.000 kaki.
BRIN dan TNI AU berharap pemulihan konsol dapat memperkuat kesiapan operasi berikutnya. Agus menegaskan bahwa peralatan harus melalui perbaikan dan pemeriksaan kelayakan sebelum kembali digunakan.
Meski memiliki keunggulan untuk membasahi area yang luas, hujan buatan bukan pengganti pemadaman langsung. Tim darat tetap dibutuhkan untuk memutus sumber api, terutama di lahan gambut yang kebakarannya dapat menjalar di bawah permukaan.
Dengan demikian, kombinasi pemantauan cuaca, modifikasi cuaca, pemadaman darat, dan patroli menjadi kunci untuk menekan dampak karhutla.
Editor : Robby