Reshuffle atau arisan?

Reshuffle di Warung Kopi

Reporter : Alan Christian Singkali
Ilustrasi obrolan Pak Sanu dan Kang Bari. (Foto: AI)

Anekdot: Alan Christian Singkali, Direktur sanubari.co.id

KAMIS siang, Pak Sanu duduk di warung kopi sambil menatap layar HP. Kang Bari datang membawa pisang goreng, lalu duduk di sebelahnya.

Baca juga: Salatiga Punya Cerita (4-Habis): Kisah Mistis dan Urban Legend yang Beredar di Salatiga

"Wah, Pak, sampeyan serius sekali. Lagi lihat harga cabai?"

"Bukan, Kang. Ini lagi hitung kursi. Hari ini kabinet dikocok lagi."

"Lho, bukannya baru kemarin?"

"Itu bulan lalu, Kang. Menteri Keuangan diganti. Ini yang ketujuh sejak Presiden menjabat."

Kang Bari berhenti mengunyah. "Tujuh? Itu sudah kayak arisan, Pak. Bedanya arisan ada yang menang, kalau ini kita cuma disuruh hafal nama."

"Makanya saya catat. Dengar ya. Pagi tadi Pak Suyudi Ario Seto, yang sebelumnya Kepala BNN, lolos uji kelayakan di Komisi III DPR. Katanya disetujui aklamasi. Siang harinya paripurna, lalu langsung dilantik jadi Kapolri di Istana. Wakapolrinya Pak Wahyu Hadiningrat."

"Cepat sekali. Itu proses atau lomba lari estafet, Pak? Pagi fit and proper test, siang sudah ganti seragam."

"Ya begitulah. Pak Listyo Sigit yang lama tidak dibiarkan menganggur, Kang. Beliau pindah jadi Kepala Staf Kepresidenan."

"Oh, jadi bukan dicopot, tapi digeser?"

"Digeser, Kang. Kursi KSP kosong karena Pak Dudung pindah jadi Menko Polkam, menggantikan Pak Djamari."

Baca juga: Sekolah Perdamaian GAMKI Digelar di Sumba

Kang Bari manggut-manggut. "Jadi semua pindah satu kursi, tapi ruangannya tetap di Jakarta. Kayak main kursi musik, tapi musiknya tidak boleh berhenti sampai lima tahun."

"Hush, jangan keras-keras. Yang lain juga bergeser. Pak Sugiono naik jadi Menko PMK, dan kursi Menlu diisi Pak Arrmanatha Nasir. Pak Bahlil jadi Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, sambil tetap merangkap Menteri ESDM. Pak Sarmuji jadi Menteri Perindustrian."

"Pak Bahlil rangkap dua? Wah, kalau begitu paling hemat kartu nama, Pak. Cuma perlu cetak satu, jabatannya dipanjangin."

Pak Sanu tertawa sampai kopinya hampir tumpah. "Kamu ini. Tapi ada satu hal lucu lagi. Pagi tadi Pak Sigit masih mendampingi Presiden di Lubang Buaya, padahal siangnya sudah bukan Kapolri."

"Berarti paginya masih jadi bos, siangnya sudah ganti kartu nama. Cepat betul rotasinya, Pak."

Mereka diam sebentar, menyeruput kopi.

Baca juga: Salatiga Punya Cerita (3): Kampung-Kampung Tua yang Menyimpan Nama Penuh Makna

"Kang," kata Pak Sanu pelan, "yang penting bukan siapa duduk di mana. Yang penting yang di bawah ikut terasa enak."

"Setuju, Pak. Kalau menterinya ganti tapi harga cabai tetap naik, kita ini cuma ganti penonton, bukan ganti nasib."

"Nah, itu baru ucapan orang pintar."

"Bukan pintar, Pak. Cuma sudah sering lihat sinetron dengan pemain tetap dan judul berganti."

Keduanya tertawa.

Kopi dihabiskan, pisang goreng ludes, dan reshuffle ketujuh pun resmi ditutup dengan satu pertanyaan yang tidak terjawab: besok siapa lagi yang digeser? (*)

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru