Hasil tersebut sebagai kemenangan bagi persatuan nasional Kanada. 

Referendum Alberta 2026: Mayoritas Warga Pilih Tetap Bersama Kanada

avatar Robby
Peserta referendum Alberta. (Reuters)
Peserta referendum Alberta. (Reuters)

Alberta, sanubari.co.id — Warga Provinsi Alberta, Kanada, menolak langkah menuju pemisahan diri dari negara tersebut dalam referendum pada 19 Oktober 2026. Hasil sementara yang dilaporkan Reuters menunjukkan sekitar 76 persen pemilih memilih tetap menjadi bagian dari Kanada, sedangkan 24 persen mendukung dimulainya proses menuju referendum pemisahan.

Pemungutan suara ini menjadi referendum pertama Alberta yang membahas masa depan hubungannya dengan pemerintah federal. Meski demikian, pemilih tidak secara langsung menentukan kemerdekaan Alberta. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah pemerintah provinsi perlu memulai proses hukum untuk menggelar referendum pemisahan yang mengikat pada masa mendatang.

Baca Juga: Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Pemegang Konsesi Imbas Karhutla

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyambut hasil tersebut sebagai kemenangan bagi persatuan nasional. 

“Warga Alberta telah membuat pilihan yang jelas. Mereka memilih persatuan, membangun bersama, dan saling menjaga,” kata Carney dalam pernyataan yang dikutip Reuters.

Perdana Menteri Alberta Danielle Smith juga menyambut keputusan pemilih. Namun, ia tetap mendorong peningkatan kewenangan provinsi dalam kerangka negara Kanada. Smith sebelumnya menegaskan bahwa pemerintahannya menginginkan “Alberta yang kuat dan berdaulat di dalam Kanada yang bersatu.”

Dorongan pemisahan Alberta tidak muncul begitu saja. Provinsi kaya minyak dan gas ini telah lama mengeluhkan kebijakan pemerintah federal yang dianggap membatasi potensi industri energinya. Ketidakpuasan tersebut memiliki akar sejarah, termasuk kontroversi Program Energi Nasional Kanada pada 1980 yang dinilai merugikan kepentingan Alberta.

Sebagian pendukung kemerdekaan berpendapat bahwa kekayaan energi Alberta terlalu banyak digunakan untuk menopang wilayah lain di Kanada. Mereka juga menginginkan kendali lebih besar atas kebijakan energi, perpajakan, imigrasi, dan pengelolaan sumber daya alam.

Baca Juga: Survei SMRC: Peta Elektabilitas Bergeser, Saatnya Kaum Muda Perkuat Peran Politik

Sentimen tersebut kembali menguat di tengah perselisihan politik antara pemerintah provinsi dan Ottawa. Setelah Mark Carney dan Partai Liberal memenangkan pemilu federal pada 2025, Smith membuka ruang pembahasan mengenai masa depan Alberta. Petisi kelompok separatis kemudian memperoleh cukup banyak tanda tangan untuk diverifikasi oleh otoritas pemilu.

Kubu pendukung Pro Kanada di referendum Alberta. (Reuters)Kubu pendukung Pro Kanada di referendum Alberta. (Reuters)

Menurut Elections Alberta, proses verifikasi menghasilkan 222.597 tanda tangan terkonfirmasi. Angka itu melampaui ambang 177.732 tanda tangan yang diperlukan, meskipun proses hukumnya menghadapi persoalan terkait putusan pengadilan dan konsultasi dengan masyarakat adat.

Baca Juga: Tegas! Singapura Tindak 7 Perusahaan Pemicu Asap Lintas Batas

Kemenangan kubu yang ingin tetap bersama Kanada tidak otomatis menghapus gerakan separatis. Sebagian pendukungnya berjanji melanjutkan kampanye untuk memperoleh kemerdekaan.

Namun, hasil pemungutan suara memperlihatkan bahwa mayoritas warga belum bersedia mengambil risiko politik dan ekonomi dari pemisahan. Pemerintah Alberta kini menghadapi tantangan untuk merespons tuntutan otonomi tanpa memperdalam perpecahan nasional.

Bagi Ottawa, hasil tersebut menjadi modal politik untuk memperkuat persatuan Kanada di tengah ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat. Bagi Alberta, perdebatan tentang pembagian kewenangan dan pengelolaan kekayaan energi kemungkinan tetap menjadi agenda politik penting.

Berita Terbaru