Arus ekspor mendominasi 51 persen lalu lintas peti kemas internasional TPS pada September 2026

TPS Catat Arus Peti Kemas 120.725 TEUs

avatar Michael Fredy Yacob
Kegiatan bongkar muat, receiving dan delivery berjalan lancar karena YOR di TPS masih di bawah 40 persen. (Foto: PT TPS)
Kegiatan bongkar muat, receiving dan delivery berjalan lancar karena YOR di TPS masih di bawah 40 persen. (Foto: PT TPS)

SURABAYA, sanubari.co.id - Angka ekspor-impor Indonesia kembali menunjukkan kinerja positif. Hal tersebut terlihat dari arus peti kemas internasional yang dicatatkan Terminal Petikemas Surabaya (TPS) sepanjang September 2026.

Di bulan tersebut, perusahaan tersebut mencatatkan kinerja sebanyak 120.725 twenty-foot equivalent units (TEUs). Sementara, total arus peti kemas internasional dan domestik mencapai 122.876 TEUs. 

Baca Juga: Publik Thailand Kecam FAT Pilih Brunei daripada Indonesia

Capaian tersebut ditopang oleh dominasi arus ekspor dan produktivitas bongkar muat yang melampaui standar minimum.

Arus peti kemas internasional masih didominasi aktivitas ekspor. TPS mencatat arus ekspor sebanyak 61.267 TEUs atau sekitar 51 persen dari total arus internasional. Sementara itu, arus impor mencapai 59.458 TEUs atau sekitar 49 persen.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa arus ekspor masih menjadi kontributor utama lalu lintas peti kemas internasional di TPS selama September 2026. 

Dari sisi operasional, produktivitas bongkar muat kapal internasional atau Box Ship Hour (BSH) rata-rata mencapai 51 boks per kapal per jam. 

Angka ini melampaui standar minimum 48 boks per kapal per jam yang ditetapkan Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak.

TPS mencatat 87 kunjungan kapal internasional selama September 2026. Adapun tingkat pemanfaatan lapangan penumpukan atau Yard Occupancy Ratio (YOR) internasional masih di bawah 40 persen. 

YOR ekspor tercatat 36,48 persen, sedangkan YOR impor mencapai 39,29 persen. TPS menyatakan tingkat keterisian tersebut mencerminkan pengelolaan lapangan penumpukan yang terjaga serta kesiapan terminal dalam mendukung kelancaran arus peti kemas.

Perusahaan juga terus mengoptimalkan penggunaan peralatan bongkar muat berbasis listrik, termasuk Electric Quay Container Crane (E-QCC) dan Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG). 

Baca Juga: MSCI Usul Status Pasar Saham Indonesia Turun, IHSG Langsung Rontok

Penggunaan peralatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung operasional yang lebih ramah lingkungan.

Direktur Utama TPS Ali Sodikin mengatakan capaian September 2026 menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga keandalan layanan di tengah dinamika perdagangan global.

“Arus peti kemas yang tetap terjaga pada September 2026 menunjukkan kemampuan TPS dalam memberikan layanan operasional yang andal, efisien, dan berkelanjutan,” katanya dikutip dalam rilis resminya, Jumat, 23 Oktober 2026.

“Dominasi arus ekspor dibandingkan impor menjadi indikasi positif bahwa aktivitas perdagangan internasional masih bergerak dinamis,” kata Ali lagi.

Ia mengatakan TPS akan terus meningkatkan kualitas layanan dan produktivitas operasional untuk memperkuat peran perusahaan sebagai gerbang logistik utama di kawasan timur Indonesia.

Baca Juga: Tegas! Singapura Tindak 7 Perusahaan Pemicu Asap Lintas Batas

Tentang PT Terminal Petikemas Surabaya

PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) merupakan penyedia jasa dalam mata rantai logistik, khususnya layanan peti kemas ekspor dan impor.

TPS adalah anak usaha PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP), subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.

TPS menjadi terminal pertama di Indonesia yang menerapkan International Ship and Port Facility Security Code (ISPS Code), standar keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan yang mulai diterapkan pada Juli 2004.

Pada 1 Oktober 2021, Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III, dan Pelindo IV bergabung menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero). 

Integrasi tersebut bertujuan menyederhanakan layanan kepelabuhanan, menstandarkan pelayanan, dan mendorong inovasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan sejalan dengan perkembangan industri logistik. (*)

Berita Terbaru