BALI, sanubari.co.id - Ribuan umat Hindu melaksanakan upacara Melasti di Pantai Petitenget, Kuta Utara, Badung, Bali, Rabu, 26 Maret 2025. Sejak pukul 09.00 WITA, masyarakat Hindu mulai berjalan kaki menuju pantai untuk mengikuti prosesi sakral ini.
Upacara Melasti merupakan bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi. Di 2025, hari raya itu jatuh pada Minggu 30 Maret. Melasti bertujuan untuk menyucikan diri dan membersihkan alam semesta dari energi negatif. Caranya dengan mengambil air suci (tirta amerta) dari laut.
Baca Juga: Antrean BBM di Bali, Gubernur dan Pertamina Percepat Distribusi, Polda Tangkap Lima Terduga Penimbun
Upacara ini dilakukan oleh berbagai desa adat. Mereka membawa pratima atau arca suci ke pantai. Selama perjalanan, para pemangku mengumandangkan suara genta. Sementara alunan tabuh baleganjur mengiringi langkah umat.

Umat yang melaksanakan upacara itu menggunakan pakaian adat serba putih. Pakaian itu merupakan simbol kesucian. Setelah tiba di pantai, para pemangku memimpin ritual pembersihan dengan menghaturkan sesajen.
Umat kemudian diperciki air suci, sebagai simbol penyucian diri sebelum menjalani Hari Raya Nyepi. Usai Melasti, pratima dan arca dari pura desa dan puseh adat ditempatkan sementara di Bale Agung Pura Desa Puseh, Desa Adat Kerobokan, selama dua malam.
Ada juga yang ditempatkan di Pura Dalem Kahyangan Tigas masing-masing. Dua hari kemudian, pratima akan dipendak (dijemput) oleh masyarakat penyungsung pura dan dikembalikan ke pura masing-masing dengan prosesi khusus.

Baca Juga: Kompetisi BKJW IV Surabaya Cara Tingkatkan Kualitas Tenaga Konstruksi Indonesia
Setelah rangkaian Melasti, umat Hindu bersiap menyambut Hari Raya Nyepi pada 30 Maret 2025. Nyepi adalah perayaan Tahun Baru Saka yang dilaksanakan dengan Catur Brata Penyepian.
Yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Selama 24 jam, seluruh aktivitas di Bali terhenti, termasuk transportasi, bisnis, hingga layanan publik.
Sehari sebelum Nyepi, digelar upacara pengerupukan. Ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh. Patung raksasa berwujud menyeramkan ini melambangkan kejahatan dan diarak keliling. Sebelum akhirnya dibakar sebagai simbol pembersihan dari roh jahat.
Rangkaian Nyepi diakhiri dengan Ngembak Geni keesokan harinya. Pada momen ini, umat Hindu saling bersilaturahmi dan memaafkan, menandai awal tahun yang lebih bersih secara spiritual. (*)
Editor : Redaksi Sanubari
MSCI Usul Status Pasar Saham Indonesia Turun, IHSG Langsung Rontok
Jakarta, sanubari.co.id – Pasar saham Indonesia terguncang setelah MSCI mengusulkan penurunan status menjadi Standalone Market. Hal tersebut menyebabkan IHSG a
Indonesia Perkuat Akses Ekspor Baja ke Eropa
BANTEN, sanubari.co.id - Pemerintah Indonesia sedang berupaya amankan akses pasar ekspor baja. Kondisi ini dilakukan di tengah perubahan kebijakan tarif dan
Tegas! Singapura Tindak 7 Perusahaan Pemicu Asap Lintas Batas
Singapura, sanubari.co.id - Pemerintah Singapura melalui Badan Lingkungan Nasional (NEA) bersiap mengambil tindakan hukum terhadap sejumlah korporasi yang
Gus Lilur: Ungkap Dugaan Suap Muktamar NU
SURABAYA, sanubari.co.id - HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy kembali menyampaikan pandangannya terkait dugaan praktik suap dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Razia Hiburan Malam Bontang, Tiga Positif Narkotika
BONTANG, sanubari.co.id - Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang bersama Satuan Reserse Narkoba Polres Bontang menggelar razia narkotika di sebuah tempat
Pemkab Badung Undang Wamenbud Buka Festival Seni Budaya
Jakarta, sanubari.co.id - Kabupaten Bandung dalam waktu dekat akan melaksanakan festival seni budaya ke-XV. Karena itu, pemerintah kabupaten (Pemkab) Bandung