Yerusalem, sanubari.co.id - Pemilu Israel belum menghasilkan pemenang yang jelas. Hasil penghitungan menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meraih 53 kursi, blok oposisi pimpinan Gadi Eisenkot mendapat 48 kursi, sedangkan partai-partai Arab mendapat 19 kursi.
Meski memimpin perolehan kursi, blok Netanyahu masih belum dianggap menang. Pasalnya, pemenang harus mendapat minimal 61 kursi. Namun angka tersebut masih akan berubah, karena surat suara amplop ganda dari tentara, pasien rumah sakit, dan pemilih lain masih dihitung.
Baca juga: Lula da Silva Kembali Pimpin Brasil untuk Periode Keempat
Melihat situasinya, partai-partai Arab bakal menentukan siapa yang bisa memerintah, padahal kedua kubu sama-sama enggan menggandengnya.
"Kita harus membentuk pemerintahan nasional sayap kanan yang kuat," kata Netanyahu.
Ia juga memperingatkan bahaya pemerintahan yang bergantung pada partai Arab. Likud bahkan menuduh partai-partai Arab berbuat curang dan meminta aparat hukum menyelidikinya.
Pemimpin Partai Demokrat, Yair Golan, mendesak rekan-rekannya berani menghitung ulang peta kekuatan. Salah satunya dengan membuka wacana berkoalisi dengan partai Arab. Namun para pemimpin oposisi lain menolak melibatkan partai Arab dalam pemerintahan.
Menilik dinamika yang terjadi, ada beberapa kemungkinan yang bakal terjadi.
Baca juga: Respons Santai Singapura atas Pengurangan Pasokan Migas Indonesia
Pertama, koalisi sayap kanan bertahan. Jika Netanyahu berhasil merangkul cukup kursi, kebijakan dalam negeri kemungkinan masih didominasi mitra religius dan nasionalis, dan partai Arab tetap di luar lingkaran kekuasaan.
Kebijakan luar negeri yang keras, terutama konfrontasi dengan Iran, bakal terus berlanjut. Terlebih kini Netanyahu meyakini kekuatan Iran melemah. Koalisi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pun mutlak diperlukan demi menyingkirkan ancaman Iran secara permanen.
Niat kerjasama dengan Amerika Serikat bukan tanpa kendala. Menurut beberapa sumber yang kredibel, Trump ingin pemerintahan Israel tanpa Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich. Padahal partai keduanya diproyeksikan meraih sekitar 13 kursi. Netanyahu bisa terjepit antara kebutuhan kursi dan keinginan sekutu terpentingnya.
Baca juga: Penembakan Gereja Karak: Raja Yordania Janji Hukum Berat Para Pelaku
Kedua, pemerintahan minoritas oposisi. Skenario ini hanya mungkin jika partai Arab mendukung dari luar tanpa masuk kabinet. Hasilnya cenderung rapuh dan mudah goyah, sementara arah kebijakan luar negerinya belum jelas karena kubu oposisi belum memaparkan sikap rinci.
Ketiga, akan ada pemilu ulang. Ini skenario yang ingin dihindari semua pihak. Presiden Israel, Isaac Herzog, sudah mengimbau para politisi datang ke konsultasi dengan pikiran terbuka demi menghindari terjadinya pemilu ulang.
Dalam beberapa hari ke depan, Herzog akan memulai konsultasi dengan seluruh fraksi untuk menentukan siapa yang diberi mandat membentuk pemerintahan. Hasilnya akan menentukan arah kebijakan politik Israel, dari sikap terhadap Iran dan hubungan dengan Amerika Serikat sampai posisi warga Arab dalam konstelasi politik nasional.
Editor : Robby