Jakarta, sanubari.co.id — Selama ini, perempuan kerap distigma sebagai pihak yang lemah sehingga peran penting mereka sering dipandang sebelah mata. Namun, sejarah membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi sosok tangguh penentu jalannya peradaban. Salah satu figur inspiratif tersebut adalah Malahayati, laksamana perempuan dari Kesultanan Aceh Darussalam.
Sosok Malahayati diangkat ke layar lebar oleh Menara Films melalui film Pasukan 1000 Janda. Film ini menyoroti momen ketika Malahayati "turun gunung" guna membela kedaulatan tanah air dari invasi pasukan asing asal Belanda pada tahun 1599.
Baca juga: Dua Lensa, Satu Laut: Menghidupkan Kembali Laut Bercerita
Dikisahkan, kapal-kapal Belanda yang dipimpin oleh Cornelis De Kraker (Ron Smoorenburg) mendarat di Aceh sebagai bagian dari upaya menguasai jalur perdagangan strategis Selat Malaka. Berbekal pasukan bersenjata lengkap dan kapal bermeriam, mereka awalnya mengira penaklukan ini akan berjalan mudah. Namun, asumsi tersebut runtuh tatkala mereka menghadapi perlawanan sengit dari penduduk Krueng.
Perlawanan tersebut bahkan tak surut meski seluruh lelaki di Krueng gugur, menyisakan para perempuan dan anak-anak. Di titik inilah Malahayati (Atiqah Hasiholan) memobilisasi para janda untuk membentuk laskar legendaris Inong Balee (inong = perempuan, balee = janda) guna melanjutkan perlawanan gigih terhadap penjajah.
Selain mengusung tema sejarah dan nasionalisme, Pasukan 1000 Janda menjanjikan adegan laga (action) dengan koreografi berkelas. Penonton akan disuguhkan berbagai teknik pertarungan, mulai dari pertempuran jarak dekat tangan kosong hingga penggunaan senjata tradisional rencong dan pedang Eropa klasik (fencing).
Ditemui dalam acara press screening di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 2 November 2026, Sutradara Archie Hekagery mengaku sangat antusias menggarap proyek film ini. Selain memiliki ketertarikan mendalam terhadap sejarah, ia merupakan pengagum berat sosok Laksamana Malahayati.
"Saya ingin membuat film ini untuk memperkenalkan sosok hebat Malahayati kepada generasi muda," ungkap Archie.
Antusiasme senada disampaikan oleh Produser Yuda Wirafianto. Ia berharap film ini dapat menjadi sarana edukasi sejarah yang menghibur sekaligus bermakna bagi keluarga Indonesia.
"Film ini saya dedikasikan untuk seluruh keluarga di Indonesia. Salah satu pesan penting dari film ini adalah bahwa perempuan Indonesia tidak boleh diremehkan," tegasnya.
Baca juga: Pelaku Manipulasi Saham Diungkap OJK, Denda Tembus Rp2,1 Triliun
Bagi Atiqah Hasiholan, memerankan tokoh sebesar Malahayati memberikan tantangan tersendiri yang menuntut totalitas tinggi. Ia harus mempelajari berbagai hal teknis, mulai dari penguasaan dialek bahasa Aceh, teknik menggunakan rencong, hingga pendalaman koreografi laga.
"Saya belajar memegang dan menggunakan rencong selama dua bulan. Untuk urusan aksen, saya dibantu oleh seorang teman asal Aceh agar pelafalannya tepat," jelas Atiqah.
Khusus untuk adegan aksi, Atiqah mengaku terbantu oleh kehadiran Ron Smoorenburg, aktor laga profesional internasional yang menjadi lawan mainnya.
"Mengingat Ron adalah seorang profesional, mulanya saya sempat cemas. Kalau salah gerak lalu kena pukul atau tendangannya, pasti sakit sekali. Namun, Ron membuat semuanya terasa mudah. Ia sangat menguasai ruang gerak dan tahu persis apa yang harus dilakukan," tambahnya.
Baca juga: Kementan: Indonesia Punya Banyak Varietas Padi Unggul Hasil Kolaborasi dengan BRIN
Sementara itu, Ron Smoorenburg menyampaikan kepuasannya atas keterlibatan perdananya dalam industri perfilman Indonesia. Meskipun banyak aktor pendukung yang baru pertama kali melakoni adegan laga, ia memuji hasil akhir pengambilan gambar yang dinilai sangat memuaskan.
"Saya sangat senang karena seluruh kru dan pemain saling mendukung, termasuk memberikan dukungan penuh kepada saya yang baru pertama kali bermain di film Indonesia," ujar aktor yang pernah membintangi film Who Am I? bersama Jackie Chan tersebut.
Pujian serupa datang dari Hans de Kraker, pemeran karakter Pieter. Menurutnya, film ini berhasil merepresentasikan ketangguhan perempuan Indonesia secara akurat.
"Selama ini perempuan Indonesia sering digambarkan sebagai sosok yang lembut. Namun, ketika memperjuangkan prinsip dan kehormatan, mereka ternyata bisa sangat keras dan gigih. Saya akan ikut mempromosikan film ini kepada para kolega saya di Eropa; mereka wajib menontonnya," pungkas Hans.
Film Pasukan 1000 Janda dijadwalkan tayang serentak di bioskop-bioskop Indonesia mulai 12 November 2026. Informasi lebih lanjut bisa didapat melalui Instagram @pasukan1000janda dan @manara.studios.
Editor : Robby