Khofifah Minta Pacu Kinerja dan Jaga Visi Gerbang Baru Nusantara

Lantik 580 Pejabat, Khofifah: Program Prioritas Tak Boleh Turun Meski Fiskal Berkurang Rp 7 Triliun

Reporter : Robby
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (kiri) saat melantik jabatan fungsional di lingkungan Pemprov Jatim, di Gedung Negara Grahadi.

SURABAYA, sanubari.co.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melantik 580 pejabat, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Terdiri dari 246 pejabat administrator dan 334 pejabat pengawas.

Prosesi pelantikan ini dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 800.1.3.3/13954/204/2025. Pelantikan itu dilaksanakan dalam tiga sesi: Sesi I sebanyak 194 pejabat, Sesi II sebanyak 174 pejabat, dan Sesi III sebanyak 212 pejabat.

Baca juga: Pemprov Jatim Raih Be Award 2025 dari BSSN RI, Khofifah: Pengakuan Jatim sebagai Pionir Penerapan Teknologi Informasi

Gubernur Khofifah meminta mereka segera memacu kinerja dan menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) di unit kerja masing-masing. “Maksimalkan seluruh energi untuk menjalankan tugas dan pengabdian terbaik,” kata Khofifah, Sabtu 22 November 2025.

Ia menjelaskan, pelantikan ini penting. Karena sebanyak 2.836 ASN akan pensiun pada 2025. Karena itu pejabat yang dilantik akan langsung mengisi banyak posisi strategis. 

Khofifah mengingatkan agar seluruh pejabat bekerja secara dinamis, terukur, cepat, dan profesional. “Provinsi-provinsi lain bekerja dengan kecepatan dan profesionalisme yang sangat tinggi,” ujarnya.

Momentum pelantikan ini dimanfaatkan Khofifah untuk mengajak para pejabat mengimplementasikan filosofi kerja JATIM BISA (Berdaya, Inklusif, Sinergis, dan Adaptif) sebagai arah baru pembangunan Jawa Timur.

“Semangat JATIM BISA menegaskan bahwa Jawa Timur tidak hanya menjadi bagian dari perubahan, tetapi pelaku utama dalam membentuk arah kemajuan bangsa,” jelasnya.

Sebagai Gerbang Baru Nusantara, Khofifah meminta seluruh pejabat cepat beradaptasi dengan dinamika regional, nasional, maupun global. Adaptasi itu diharapkan menjadi bagian dari upaya merangkul semua sektor pembangunan Jawa Timur.

Salah satu bentuk adaptasi terhadap dinamika global, kata Khofifah, adalah upaya menjaga lingkungan dan mengurangi emisi karbon melalui penanaman mangrove di berbagai daerah di Jawa Timur.

Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak bersama pejabat fungsional yang baru dilantik di gedung Negara Grahadi.

Saat menghadiri program RISING FELLOWSHIP di Singapura, Khofifah menjelaskan peluang kerja sama di bidang carbon trading sebagai bagian dari upaya menuju net zero emission. 

Baca juga: Peluncuran Trans Jatim Malang Raya, Perluas Akses Transportasi Publik

Ia menilai langkah Singapura dalam membangun sistem perdagangan karbon dapat menjadi inspirasi bagi Jawa Timur. Upaya ini didukung oleh banyak perusahaan jasa karbon serta kebijakan pajak karbon di Singapura yang mendorong transisi menuju karbon netral.

Khofifah berharap langkah Singapura mencapai target net zero emission dapat dikembangkan pula di Jawa Timur. “Kami berharap Jawa Timur ke depan mampu mengembangkan carbon trading sebagai upaya mencapai net zero emission,” ujarnya.

Di akhir arahannya, Khofifah menegaskan pentingnya menjaga visi besar Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Posisi strategis Jawa Timur, menurutnya, membuat provinsi ini menjadi simpul konektivitas antara Indonesia bagian barat dan timur.

“Indonesia bagian timur membutuhkan banyak sinergi dari Jawa Timur. Karena itu di setiap misi dagang kita selalu melaksanakan penandatanganan MoU antar-OPD,” katanya.

“Saya ingin saudara-saudara membangun prestasi itu. Ketika kita berbicara Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara, maka hati kita terbuka untuk menerima dan mendorong kemajuan Indonesia bagian timur,” ujar Khofifah.

Baca juga: Silaturahmi dengan Warga Jatim di Sultra, Khofifah Ajak Perkuat Jejaring Usaha Antarwilayah

Pada kesempatan yang sama, ia juga berpesan agar para pejabat administrator dan pengawas terus memaksimalkan kinerja dan meningkatkan produktivitas di tengah kemampuan fiskal Pemprov Jatim yang menurun.

Ia meminta agar program-program prioritas Pemprov Jatim tidak terpengaruh oleh penurunan fiskal. Karena itu para pejabat diminta berinovasi dan menjalankan kerja yang berdampak.

“Secara alami, kalau dihitung, sudah Rp 7 triliun fiskal kita berkurang. Tetapi kita harus tetap memaksimalkan seluruh kinerja. Program-program prioritas tidak boleh berkurang, baik kuantitas maupun kualitasnya,” ujarnya.

Khofifah menyebut salah satu langkah untuk memastikan program prioritas tetap berjalan adalah dengan memperkuat fasilitasi kepada masyarakat. Contohnya melalui misi dagang yang mampu mempertemukan para buyer dan seller.

“Kita tidak mampu memberikan modal atau menggelar pelatihan manajerial bagi semua. Tapi yang bisa kita lakukan adalah memberikan fasilitasi,” pungkasnya. (*)

Editor : Redaksi Sanubari

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru