TEXAS, sanubari.co.id - ManageEngine, divisi Zoho Corporation yang bergerak di bidang solusi manajemen TI. Mereka baru saja merilis pembaruan signifikan untuk platform pengelolaan biaya cloud mereka: CloudSpend.
Pembaruan itu menghadirkan arsitektur multi-portal. Ditujukan bagi managed service provider (MSP), cloud service provider (CSP). Serta perusahaan dengan banyak tenant.
Melalui sistem baru ini, seluruh biaya penggunaan cloud dapat dipantau dalam satu dasbor terpusat. Sehingga memudahkan perusahaan menata ulang kebijakan biaya dan mengontrol pengeluaran.
Dorongan untuk mengelola biaya cloud secara lebih sistematis kian menguat. Hal itu terjadi seiring pesatnya adopsi layanan cloud. Gartner memproyeksikan belanja global end-user untuk layanan cloud publik mencapai USD 723,4 miliar pada 2025.
Lonjakan itu menandakan kompleksitas baru –baik finansial maupun operasional– yang harus dihadapi penyedia layanan dan perusahaan besar.
Direktur Manajemen Produk ManageEngine, Srinivasa Raghavan mengatakan, penyedia layanan selama ini menghadapi persoalan klasik: kebutuhan klien akan transparansi penuh berhadapan dengan tuntutan isolasi data dan kepatuhan.
“Setiap klien ingin melihat seluruh urusan biaya cloud mereka. Sementara MSP dan CSP harus memastikan pemisahan data tetap terjaga,” katanya dalam rilis resmi yang diterima redaksi sanubari.co.id, Kamis 4 Desember 2025.
Situasi serupa terjadi pada perusahaan besar yang mengelola banyak unit bisnis dalam satu lingkungan cloud. Arsitektur multi-portal ini, kata dia, menawarkan jalan tengah. Satu sisi menyediakan pandangan menyeluruh lintas tenant.
Di sisi lain, menjamin isolasi data dan penerapan kebijakan biaya secara otomatis. “Penyedia layanan dan perusahaan dapat mengelola biaya cloud secara lebih aman dan efisien dalam skala besar,” katanya.
Tantangan Multi-Tenant yang Ingin Dipecahkan
Pengelolaan ratusan klien atau unit bisnis di berbagai platform cloud kerap menimbulkan laporan yang terfragmentasi, proses penagihan manual, hingga risiko pelanggaran kepatuhan. CloudSpend mencoba menjawab persoalan ini melalui beberapa fitur utama:
Portal terpisah dengan tata kelola terpusat: Setiap portal berdiri dalam lingkungan yang terisolasi, lengkap dengan anggaran, peringatan, batasan, dan alur kerjanya sendiri. Namun administrator tetap memiliki satu tampilan kendali untuk mengatur kebijakan dan akses tanpa mengorbankan kerahasiaan data.
Rekomendasi penghematan otomatis: Platform mengidentifikasi sumber daya yang idle, memberikan rekomendasi penyesuaian kapasitas, serta menampilkan peluang penghematan biaya. Cara ini membantu perusahaan memangkas inefisiensi tanpa audit manual yang memakan waktu.
Pengelolaan dan white-labeling yang lebih sederhana: Semua portal dapat dikelola dari satu titik, termasuk penagihan otomatis dan pembagian biaya. Dashboard dan laporan dapat disesuaikan dengan identitas visual masing-masing organisasi.
Deteksi anomali dan peramalan berbasis AI: Dengan memanfaatkan data historis, sistem memprediksi pola pengeluaran, mendeteksi anomali secara real-time, dan memberi insight yang membantu akurasi anggaran dan kontrol biaya.
Pembaruan ini menandai langkah baru CloudSpend menuju pendekatan FinOps generasi berikutnya. Di tengah ekosistem cloud yang makin kompleks, platform ini diarahkan untuk membantu organisasi memperkuat tata kelola, meningkatkan efisiensi operasional, serta menyusun strategi pengeluaran berbasis data.
Harga dan Ketersediaan
CloudSpend dapat digunakan oleh bisnis berbagai skala, termasuk MSP, CSP, dan perusahaan multi-tenant. Platform ini menyediakan penelusuran biaya gratis hingga USD 3.000 (sekitar Rp 50 juta) per bulan untuk penggunaan di GCP, AWS, dan Azure.
Paket berbayar dimulai dari 1 persen dari total pengeluaran bulanan di atas batas tersebut. Untuk penggunaan di atas USD 100.000 (sekitar Rp 1,6 miliar), perusahaan dapat meminta penawaran khusus. Uji coba gratis 30 hari tersedia melalui situs resmi ManageEngine. (*)
Editor : Redaksi Sanubari