PACITAN, sanubari.co.id - Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu, Festival Mangrove Jawa Timur ke-9 menjadi momentum bagi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk menyerukan ajakan merawat, menjaga, dan menyapa Ibu Pertiwi.
Ajakan itu dilakukan melalui gerakan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Festival Mangrove Jatim ke-9 yang digelar di Pendopo Kabupaten Pacitan, Senin, 22 Desember 2025.
Baca juga: Peringatan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025, Gubernur Khofifah Ajak Bahagiakan dan Lindungi Perempuan
Menurut Khofifah, menjaga bumi sebagai Ibu Pertiwi merupakan tanggung jawab bersama demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
“Kita ingin mendedikasikan Hari Ibu kali ini kepada Ibu Pertiwi. Tempat kita mengambil air, oksigen, serta memperoleh kehidupan yang layak dan sehat. Ibu Pertiwi harus dikasihi, dirawat, dan disapa,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Khofifah bersama musisi Akhadi Wira Satriaji atau Kaka Slank juga mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan, salah satunya melalui penanaman mangrove.
“Kita berharap Festival Mangrove ini mampu memperkuat ekosistem alam, daya dukung lingkungan, serta keberlanjutan hidup kita bersama,” tegasnya.
Khofifah menekankan bahwa Festival Mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan kolektif untuk meneguhkan komitmen bersama dalam melindungi ekosistem mangrove.
Kegiatan ini juga mendorong pengelolaan mangrove dari hulu hingga hilir agar memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat.
“Banyak hal yang bisa dilakukan secara beriringan, mulai dari penanaman mangrove hingga aksi bersih-bersih sampah. Apa yang kita tanam dan apa yang kita jaga akan menentukan masa depan kita,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Festival Mangrove menjadi bagian dari gerakan Sedekah Oksigen sebagai amal jariyah yang manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi.
“Melalui Festival Mangrove, kita juga melakukan Sedekah Oksigen. Semoga ini menjadi ladang amal jariyah bagi kita semua,” imbuhnya.
Pelaksanaan Festival Mangrove ke-9 kali ini juga diwarnai kegiatan Mangrove Harmony Ride. Dalam kegiatan tersebut, Khofifah mengendarai sepeda motor listrik bersama Kaka Slank, Bupati Pacitan, serta jajaran Forkopimda Pacitan dari Pendopo Kabupaten Pacitan menuju Museum SBY-ANI, lalu ke titik penanaman mangrove di Watu Mejo Mangrove Park.
“Ini bukan hanya simbol kampanye gaya hidup rendah karbon dan penggunaan kendaraan ramah lingkungan, tetapi juga pesan kuat bahwa transisi menuju pembangunan rendah emisi membutuhkan keteladanan dan partisipasi seluruh elemen masyarakat,” kata Khofifah.
Dalam Festival Mangrove ke-9, Khofifah juga menyoroti semakin kuatnya dukungan lintas sektor. Salah satunya dari Yayasan Gajah Sumatera (Yagasu) yang berkomitmen mendukung penyediaan bibit mangrove hingga 20 tahun ke depan.
Kehadiran layanan kesehatan dari Kodam V/Brawijaya turut memperkuat integrasi Festival Mangrove sebagai ikhtiar menjaga kesehatan masyarakat dan lingkungan secara bersamaan.
Festival Mangrove juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat hilirisasi mangrove. Menurut Khofifah, hilirisasi penting agar masyarakat semakin mencintai mangrove dan memahami nilai tambah ekonominya.
Baca juga: Pelantikan Pengurus PMI Jawa Timur 2025–2030 Digelar di Ruang Terbuka Bersejarah
“Jika luasan mangrove sudah mencukupi, maka Festival Mangrove menjadi sarana untuk memaksimalkan hilirisasinya,” ucapnya.
Hilirisasi dilakukan melalui sinergi dengan dunia usaha dan industri agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk nelayan dan pelaku UMKM.
Salah satu contohnya adalah pemanfaatan mangrove sebagai pewarna alami batik yang telah masuk katalog merek internasional.
“Hilirisasi mangrove, salah satunya sebagai pewarna batik, sudah masuk katalog merek internasional. Banyak produk hilirisasi dihasilkan oleh UKM, IKM, hingga masyarakat tani hutan,” katanya.
Mendukung program Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kaka Slank memuji kepedulian Khofifah terhadap lingkungan.
“Ini paket lengkap. Kepedulian kepada Tuhan, manusia, dan alam ada semua. Ibu Gubernur super top,” ujarnya.
Ia juga mengaku telah membiasakan diri memberikan bingkisan berupa tanaman hidup kepada keluarga, sahabat, atau kerabat sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam.
Sementara itu, Sekretaris Ditjen PDAS RH Kementerian Kehutanan RI, Muhammad Zainal Arifin, mengapresiasi pelaksanaan Festival Mangrove yang telah digelar hingga sembilan kali.
Baca juga: Khofifah Serahkan Penghargaan Layanan Publik-Kinerja 2025, BPBD Jatim Raih Sakip AA
Ia menyebut Jawa Timur sebagai provinsi dengan luas mangrove terbesar di Pulau Jawa yang terus mengalami peningkatan signifikan, lebih dari 20 persen.
“Dalam catatan kami, terjadi peningkatan lebih dari 5.000 hektare dalam empat tahun terakhir. Ini bukti nyata komitmen Ibu Gubernur dalam membangun semangat kolaborasi untuk pelestarian lingkungan,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji. Ia mengucapkan terima kasih atas perhatian serta berbagai program yang dibawa Khofifah ke Kabupaten Pacitan.
Terkait Festival Mangrove Jatim ke-9, Indrata menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan pesan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk menjaga kelestarian hutan di Pacitan.
“Sesuai pesan Pak SBY, hutan harus dijaga karena merupakan investasi masa depan. Di Pacitan, tutupan hutan hampir mencapai 70 persen,” jelasnya.
“Dengan berbagai potensi Pacitan, seperti pantai dan goa, kami yakin potensi tersebut akan semakin berkembang dengan kunjungan dan perhatian Ibu Khofifah,” pungkasnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Yayasan Gajah Sumatera tentang Pemulihan Ekosistem di Jawa Timur, serta penyerahan Letter of Agreement (LoA) kepada Apolownia yang diwakili CEO Yayasan Gajah Sumatera.
Gubernur Khofifah juga menyerahkan penghargaan kepada kepala daerah dan tokoh masyarakat yang berjasa serta berkomitmen dalam pelestarian lingkungan. Kegiatan ditutup dengan aksi sosial berupa penyaluran zakat produktif kepada 22 ibu pedagang UKM ultra mikro di Kabupaten Pacitan. (*)
Editor : Redaksi Sanubari