SURABAYA, sanubari.co.id - Menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, geliat pariwisata di Jawa Timur mulai terasa. Pergerakan wisatawan diprediksi meningkat signifikan, seiring panjangnya masa libur dan semakin beragamnya pilihan destinasi yang ditawarkan.
Namun di balik antusiasme tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengingatkan satu hal penting: keselamatan harus menjadi tujuan utama dalam berwisata.
Baca juga: Dominasi KEN 2025 dengan 11 Festival, Khofifah: Event Pariwisata Jatim Diakui Nasional
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur Evy Afianasari mengatakan, kesiapan daerah dan kedisiplinan wisatawan menjadi kunci penting. Tujuannya agar momentum libur Natal dan Tahun Baru dapat berjalan aman, nyaman, dan tetap menyenangkan.
“Liburan itu bukan hanya soal berkunjung ke tempat indah, tetapi juga tentang bagaimana semua orang bisa pulang ke rumah dengan selamat,” ujar Evy kepada awak media, Selasa 24 Desember 2025.
Imbauan tersebut sejalan dengan diterbitkannya Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 500.13.2/45269/118.5/2025 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Pariwisata pada Masa Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Surat edaran itu menekankan kewaspadaan terhadap dinamika cuaca sekaligus optimalisasi sektor pariwisata selama periode libur panjang. Menurut Evy, Jawa Timur pada prinsipnya siap menyambut wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.
Beragam destinasi unggulan mulai dari pegunungan, pantai, wisata buatan, hingga wisata edukasi telah bersiap. Namun kesiapan tersebut harus dibarengi dengan kesadaran bersama, tidak hanya dari pemerintah dan pengelola destinasi, tetapi juga wisatawan.
“Mitigasi bencana tidak bisa hanya dibebankan ke satu pihak. Ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Ia mengingatkan wisatawan agar aktif mencari informasi sebelum berangkat, mulai dari kondisi cuaca, karakter destinasi, hingga potensi risiko yang mungkin dihadapi.
Pemantauan informasi dari BMKG dan pihak berwenang menjadi langkah sederhana namun krusial untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
Setiap destinasi, lanjut Evy, memiliki tantangan masing-masing. Wisata pegunungan, misalnya, menawarkan panorama menakjubkan, tetapi juga menyimpan risiko cuaca ekstrem dan kondisi alam yang sulit diprediksi.
Untuk itu, wisatawan yang berkunjung ke kawasan seperti Gunung Bromo, Kawah Ijen, dan destinasi pegunungan lainnya. Ia menghimbau untuk melakukan pemesanan tiket secara resmi sesuai ketentuan.
Mematuhi batasan pengunjung dan jam operasional, serta tidak keluar dari jalur wisata yang telah ditetapkan. “Kondisi fisik juga harus diperhatikan. Jangan memaksakan diri jika cuaca tidak mendukung atau tubuh tidak prima,” ujarnya.
Hal serupa juga berlaku untuk wisata pantai yang selama ini menjadi primadona saat libur panjang. Evy menegaskan, pantai yang terlihat tenang bisa berubah berbahaya dalam waktu singkat.
Baca juga: Promosikan wisata di Pasuruan, Disbudpar Jatim selenggarakan event lari Adfuntorace
Oleh karena itu, wisatawan diminta mematuhi rambu peringatan, mengikuti arahan balawista, tidak berenang di area berisiko, serta selalu mengawasi anak-anak dan kelompok rentan.
Lonjakan Wisatawan Nataru Dongkrak Ekonomi Jatim, Wisata Alam Jadi Magnet Mancanegara. “Kalau kondisi angin dan ombak memburuk, segera menjauh dari laut. Jangan menunggu sampai terlambat,” katanya.
Pemprov Jatim juga menekankan pentingnya mengecek prakiraan cuaca secara berkala melalui BMKG, termasuk informasi dari Stasiun Meteorologi Juanda.
Jika terjadi hujan lebat, angin kencang, atau gelombang tinggi, wisatawan diimbau menunda atau menyesuaikan aktivitas. “Liburan bisa diulang, keselamatan tidak,” ujar Evy.
Untuk mendukung kenyamanan wisatawan, pemerintah daerah bersama pengelola destinasi terus mengoptimalkan penyampaian informasi melalui media sosial resmi, papan informasi di lokasi wisata, serta petugas di lapangan.
Informasi tersebut mencakup kondisi terkini destinasi, kapasitas pengunjung, aturan khusus, hingga potensi risiko. Wisatawan juga didorong mengakses sumber resmi yang telah ada.
Seperti media sosial @disbudparjatim, @jatimpemprov, @infobmkgjuanda, dan @eastjavatrip.id, serta layanan TIC Digital Nusantara Jawa Timur.
Sebagai alternatif, Pemprov Jatim juga merekomendasikan destinasi yang relatif aman dan ramah keluarga selama libur Nataru. Di antaranya wisata edukasi, budaya, dan sejarah seperti Museum Tugu Pahlawan, Jawa Timur Park Group.
Taman Safari Indonesia II Prigen, Dairy Land Prigen, Kampung Heritage Kayutangan, Makam Bung Karno, Kampung Coklat, hingga situs cagar budaya seperti Candi Penataran, Candi Singasari, dan Kawasan Trowulan.
Desa wisata berbasis masyarakat seperti Desa Wisata Osing di Banyuwangi dan Desa Wisata Pujon Kidul di Kabupaten Malang juga dinilai menjadi pilihan aman dan berkelanjutan. Karena aktivitasnya terkontrol dan didukung pendampingan pengelola setempat.
Meski demikian, Evy kembali menegaskan bahwa sebaik apapun persiapan pemerintah dan pengelola, keamanan wisata tetap sangat bergantung pada kedisiplinan semua pihak.
“Patuhi aturan, hormati alam dan budaya setempat, serta terus perbarui informasi. Dengan begitu, libur Natal dan Tahun Baru di Jawa Timur bisa berjalan tertib, aman, dan memberi pengalaman berkesan,” pungkasnya.
Dengan perencanaan matang dan kesadaran bersama, Pemprov Jawa Timur berharap momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 tidak hanya menjadi ajang rekreasi, tetapi juga mendorong kebangkitan pariwisata daerah secara berkelanjutan tanpa mengorbankan keselamatan. (*)
Editor : Redaksi Sanubari