Pemerintah Indonesia Perkuat Pasar Dalam Negeri

Geopolitik Timur Tengah Terus Memanas, Kemendag Lakukan Ini...

sanubari.co.id
Barang-barang yang ada di terminal Peti Kemas Surabaya.

JAKARTA, sanubari.co.id - Konflik antara Iran dengan Israel bersama sekutunya Amerika Serikat, berpotensi memiliki dampak lanjutan. Negara lain pun akan merasakan dampaknya. Salah satunya Indonesia.

Pemerintah Indonesia kini sedang menyusun langkah antisipatif menghadapi potensi tersebut. Fokus utamanya tidak hanya memantau perkembangan geopolitik semata. Melainkan memastikan kondisi perdagangan nasional tetap kokoh.

Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Rantai Pasok Global Terganggu

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan adalah penguatan pasar dalam negeri. Langkah ini dipandang krusial untuk menahan guncangan eksternal. Utamanya jika harga energi melonjak akibat konflik itu.

Risiko kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi perhatian serius apabila ketegangan itu tetap berlanjut. “Misalnya bahan bakar. Pasti akan naik. Kalau itu memang benar terjadi,” katanya, Senin 2 Maret 2026.

Dalam situasi global yang tidak menentu, konsumsi dan daya beli dalam negeri harus dijaga. Pasar domestik dinilai menjadi bantalan penting ketika pasar ekspor menghadapi tekanan. “Karena pasar luar negeri, pasti semua akan terdampak,” ujarnya.

Jika kondisi Timur Tengah terus memanas, ia khawatir distribusi energi akan terganggu. Lonjakan harga minyak pun tak terhindarkan lagi. Ketika kondisi itu terjadi, Indonesia masih memiliki penopang dari aktivitas ekonomi dalam negeri.

Baca juga: Sebelum Wafat Ali Sempat Memberi Pesan Kepada Keluarga, Begini Isinya...

Di sisi lain, Kemendag juga menyiapkan diversifikasi pasar ekspor. Pemerintah akan mendorong pengiriman barang ke negara yang relatif tidak terdampak konflik. Hal itu dilakukan untuk menjaga arus perdagangan tetap stabil.

Menurutnya, ketika harga minyak benar-benar terjadi, kondisi itu tidak hanya berdampak pada sektor energi saja. Tetapi, bisa merambat ke biaya logistik dan produksi. Pada akhirnya, akan meningkatkan ongkos ekspor Indonesia.

"Ekspor kita juga pasti cost-nya naik. Artinya kita dan negara lain juga semua terdampak. Negara lain yang butuh bahan baku juga terdampak. Barang jadi juga terdampak. Jadi semuanya akan terdampak. Tapi sekali lagi sih mudah-mudahan nggak ya,” ucapnya.

Baca juga: Operasi Militer Gabungan AS-Israel ke Teheran Tewaskan Ali Khameini

Baginya, dampak tersebut bersifat global. Negara pengimpor bahan baku akan menanggung kenaikan biaya. Begitu pula negara pengekspor barang jadi. Rantai perdagangan internasional berpotensi mengalami tekanan berlapis.

Meski demikian, pemerintah berharap konflik tidak berkembang lebih jauh. Dengan memperkuat pasar domestik dan memperluas tujuan ekspor, Kemendag berupaya memastikan aktivitas perdagangan nasional tetap terjaga. (*)

Editor : Redaksi Sanubari

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru