Perkenalan ke Salon yang Terlupakan

Salon Misterius dan Kasus Lupa Kolektif

sanubari.co.id
Ilustrasi salon Potong & Lupa

Di sebuah sudut kota yang tidak terlalu kecil untuk disebut desa, tapi terlalu kecil untuk disebut kota metropolitan, berdirilah sebuah salon dengan nama yang begitu membingungkan.

---

Baca juga: Ketika Telaga Buntung Bergetar dalam Nuansa Perayaan

ORANG-ORANG tidak pernah yakin apakah mereka sedang membaca nama salon itu. Atau mungkin sedang melihat sesuatu yang salah cetak di papan namanya. "Potong & Lupa" itulah nama salon tersebut.

Entah, bagaimana nama itu menjadi tema utama dari apapun yang terjadi di dalamnya.  Salon ini dikelola oleh seorang pria bernama Pak Gunadi. Pak Gunadi adalah tipe orang yang tampaknya selalu tahu sesuatu yang tidak Anda tahu.

Ia memiliki kebiasaan berbicara setengah kalimat, berhenti, lalu menatap Anda seperti Anda seharusnya memahami sisanya sendiri.

Meskipun salon ini selalu ramai pelanggan, tidak ada satu pun orang di kota itu yang bisa menjelaskan bagaimana mereka berakhir di sana. Mengapa mereka memilih potongan rambut tertentu.

Atau bahkan, bagaimana mereka keluar dari salon itu dengan gaya rambut yang sama sekali berbeda dari yang mereka bayangkan.

Potongan Rambut yang Mengubah Segalanya

Suatu hari, seorang pelanggan baru datang ke salon "Potong & Lupa". Pelanggan itu adalah Farhan. Seorang pria muda dengan rambut lurus panjang yang telah tumbuh liar selama berbulan-bulan.

Dia masuk dengan penuh percaya diri. Membawa foto gaya rambut selebriti yang dia temukan di internet. Farhan menunjuk gambar itu kepada Pak Gunadi dan berkata, "Saya ingin potongan seperti ini."

Pak Gunadi mengangguk pelan, seperti seorang dokter yang baru saja mendengar diagnosis pasiennya, meskipun tidak ada indikasi bahwa dia benar-benar melihat fotonya.

"Tentu saja. Duduklah," katanya sambil menunjuk kursi salon yang terlihat seperti barang antik dari abad ke-19.

Farhan duduk. Proses pun dimulai. Tapi ada sesuatu yang aneh. Pak Gunadi tampaknya tidak menggunakan alat potong rambut seperti gunting atau pisau cukur.

Sebaliknya, ia memegang sesuatu yang menyerupai sikat gigi elektrik. Hanya saja berderak-derak seperti radio rusak setiap kali menyentuh kepala Farhan.

“Pak, itu apa ya?” tanya Farhan, mulai merasa gugup.

“Ini? Oh, ini hanya alat biasa. Jangan khawatir,” jawab Pak Gunadi singkat, dengan nada yang sama seperti seorang mekanik yang meyakinkan Anda bahwa suara aneh di mobil Anda "pasti normal."

Setelah 20 menit (atau mungkin 2 jam, waktu tampaknya bekerja secara aneh di salon ini), Pak Gunadi memutar kursi Farhan ke arah cermin. Farhan menatap pantulan dirinya dan... tidak ingat siapa dia.

“Ini... siapa ini?” Farhan bertanya, menunjuk dirinya sendiri.

“Oh, itu kamu,” jawab Pak Gunadi santai. “Tapi jangan khawatir. Kebanyakan pelanggan saya merasa seperti itu. Efek samping kecil dari potongan rambut yang sempurna.”

Baca juga: Festival Pusing-Pusing Nasional di Pasar Kaget Jaya

Farhan mencoba mengingat apa yang dia inginkan. Apakah itu rambut pendek? Rambut bergelombang? Rambut berwarna biru? Tidak ada satupun yang jelas.

Yang dia tahu hanyalah satu hal: rambutnya sekarang berbentuk seperti menara Eiffel, lengkap dengan antena kecil di puncaknya.

“Kenapa rambut saya jadi seperti ini?” teriak Farhan.

Pak Gunadi mengangkat bahu. “Kamu bilang kamu ingin sesuatu yang ikonik.”

Epidemik Lupa Kolektif

Dalam beberapa minggu berikutnya, kasus-kasus seperti Farhan mulai muncul di seluruh kota.

Orang-orang bangun keesokan harinya dengan potongan rambut yang tidak masuk akal--ada yang berbentuk seperti peta dunia. Ada yang berbentuk seperti logo aplikasi media sosial. Bahkan ada yang tampaknya dirancang menyerupai wajah selebriti terkenal.

Lebih parah lagi, tidak ada yang mengingat bagaimana mereka bisa mendapatkan gaya rambut itu. Hal ini menjadi begitu serius sehingga Walikota mengadakan rapat darurat di balai kota.

“Kita tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut,” kata Walikota, yang, ironisnya, memiliki rambut berbentuk seperti jam dinding. “Saya bahkan tidak ingat kenapa saya memotong rambut saya seperti ini! Ada yang tahu apa yang terjadi?”

Semua orang di ruangan itu menggelengkan kepala. Kecuali satu orang: Farhan. Sekarang dengan rambut menara Eiffel-nya yang menjadi semacam ikon lokal, dia telah mengambil peran sebagai detektif amatir untuk mencoba memecahkan misteri ini.

Baca juga: Sebuah Obsesi Renyah yang Terpelihara Rapi

“Semuanya dimulai setelah saya mengunjungi salon ‘Potong & Lupa,’” katanya. “Saya yakin ada sesuatu yang aneh dengan alat yang digunakan Pak Gunadi. Saya tidak tahu apa itu, tapi saya rasa itu bukan gunting biasa.”

Konfrontasi dengan Pak Gunadi

Farhan, bersama dengan beberapa warga yang berani (atau mungkin terlalu penasaran), memutuskan untuk menghadapi Pak Gunadi langsung. Mereka memasuki salon dengan tegang, siap menghadapi apa pun.

Namun, saat mereka masuk, mereka semua terdiam. Tidak ada Pak Gunadi. Tidak ada kursi antik. Tidak ada alat aneh. Salon itu kosong, seolah-olah tidak pernah ada.

“Bagaimana bisa?” bisik Farhan.

Namun, di sudut ruangan, mereka menemukan sebuah catatan kecil tertempel di dinding. Catatan itu hanya berisi satu kalimat: “Gaya rambut adalah seni melupakan siapa dirimu, agar kau bisa menjadi seseorang yang baru.”

Dan begitulah, Pak Gunadi menghilang, meninggalkan kota dengan misteri yang tidak terpecahkan dan rambut yang tidak masuk akal.

Warga kota akhirnya menerima nasib mereka, menganggap potongan rambut absurd mereka sebagai simbol unik dari identitas baru mereka.

Farhan, di sisi lain, memutuskan untuk merangkul rambut menara Eiffel-nya dan menjadi influencer gaya rambut aneh di media sosial.

Dia menjadi sangat terkenal, tetapi setiap kali seseorang bertanya tentang inspirasinya, dia hanya tersenyum dan berkata, “Saya lupa.”

Editor : Redaksi Sanubari

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru