SURABAYA, sanubari.co.id - Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara resmi memulai proses pemulihan bangunan sayap barat Gedung Negara Grahadi. Gedung tersebut terdampak insiden kebakaran pada Agustus 2025 lalu.
Langkah restorasi ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam melestarikan situs cagar budaya yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Jawa Timur.
Baca juga: Reuni Akbar FH Unair, Ribuan Alumni Satukan Kenangan dan Perkuat Jejaring
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, memimpin langsung prosesi groundbreaking pemulihan tersebut pada Rabu 1 April 2026, pagi.
Prosesi simbolis dilakukan dengan mengelupas lapisan dinding yang terbakar. Tindakan itu juga didampingi oleh Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jatim, I Nyoman Gunadi.
Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH. Asep Saifuddin Chalim. Serta pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan harapan agar pembangunan berjalan lancar.
Restorasi Tanpa Semen: Material Khusus dari Luar Negeri
Khofifah mengatakan, aspek utama dari pemulihan ini adalah menjaga kemiripan maksimal dengan bentuk aslinya. Koordinasi intensif telah dilakukan bersama Tim Cagar Budaya Pemerintah Kota Surabaya dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur.
“Kita ingin memastikan semaksimal mungkin bangunan ini kembali mirip dengan aslinya. Mengingat ini adalah cagar budaya, prosesnya sangat detail dan tidak sederhana,” katanya kepada awak media.
Baca juga: Pemprov Jatim Siapkan Strategi Hadapi Dampak Geopolitik Global
“Misalnya, bangunan asli ini dahulu dibangun tanpa semen, melainkan menggunakan kapur sebagai perekat,” tambah gubernur perempuan pertama di Jawa Timur tersebut.
Untuk menjaga integritas struktur lama, Pemprov Jatim mendatangkan material mortar khusus berbahan dasar kapur. Serta mineral dari luar negeri yang tidak ditemukan di Indonesia. Material ini dipilih agar tidak merusak karakteristik dinding asli yang masih ada.
Inovasi Lantai Kaca dan Edukasi Sejarah
Salah satu hal menarik dalam pemugaran ini adalah rencana mengekspos hasil ekskavasi arkeologi. Melalui kajian tenaga ahli, ditemukan bahwa lantai asli bangunan ini berada sekitar 50 cm di bawah elevasi lantai saat ini.
"Nantinya, lantai asli tersebut akan kita ekspos menggunakan lantai kaca. Ini bukan sekadar renovasi, tapi juga media edukasi sejarah dan teknologi konstruksi masa lalu bagi generasi mendatang," tambahnya.
Baca juga: Khofifah: Stok Energi Jatim Aman, Jangan Panic Buying
Target Pengerjaan dan Mitigasi Masa Depan
Proyek restorasi ini direncanakan berlangsung selama 210 hari kalender, terhitung sejak 30 Maret hingga 25 Oktober 2026. Dengan nilai kontrak sebesar Rp 12,7 miliar dari APBD Jatim. Lingkup pengerjaan mencakup:
- Rekonstruksi atap dengan penguatan ring balok.
- Replikasi kusen, pintu, dan engsel sesuai desain asli.
- Pemasangan marmer yang selaras dengan bangunan utama.
- Pemasangan sistem proteksi kebakaran modern sebagai langkah mitigasi risiko di masa depan.
Menutup arahannya, Gubernur Khofifah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian aset bersejarah.
"Gedung ini adalah identitas kita. Saya berharap kedepan tidak ada lagi cagar budaya yang menjadi sasaran perusakan. Kita semua memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga dan melestarikan warisan negeri ini," ucapnya. (*)
Editor : Redaksi Sanubari