Catatan: Alan Christian Singkali — Direktur Sanubari.co.id
DARI nama jalan, gedung, sampai kampung telah dibahas. Sekarang kita bahas ke sisi Salatiga yang lain: cerita-cerita yang beredar dari mulut ke mulut, bukan dari arsip pemerintah kolonial.
Baca juga: Sekolah Perdamaian GAMKI Digelar di Sumba
Sebagai kota tua dengan banyak bangunan peninggalan Belanda dan dikelilingi lanskap pegunungan, wajar kalau Salatiga juga menyimpan berbagai kisah mistis dan tempat yang dianggap angker oleh warganya.
Perlu digarisbawahi di awal: ini semua cerita rakyat dan urban legend —bagian dari cara warga memaknai tempat-tempat tua di sekitar mereka, bukan catatan sejarah yang terverifikasi.
Rumah Reuneker — Gamelan yang Terdengar dari Rumah Kosong
Rumah itu terletak di Jalan Pattimura. Rumah kolonial tua ini dikenal sebagai salah satu rumah paling angker versi cerita warga Salatiga. Konon rumah ini dulu milik seorang arsitek Belanda pencinta budaya Jawa bernama Johan Leonard Reuneker.
Setelah lama terbengkalai, warga sekitar kerap bercerita soal suara sayup-sayup gamelan atau pementasan wayang orang yang terdengar dari dalam rumah kosong ini pada malam-malam tertentu.
Ada juga mitos setempat yang menyebut ada makam keluarga kuno di pekarangan rumah tersebut —menambah kesan wingit bangunan ini di mata warga sekitar.
Nonik Belanda di Gedung Papak — Sosok yang Menangis di Lorong Sunyi
Gedung Papak yang sudah kita bahas di seri 2 (dibangun akhir abad ke-19, sekarang jadi Kantor Wali Kota) juga punya cerita mistisnya sendiri. Sebelum jadi kantor pemerintahan, gedung ini pernah jadi markas militer tentara Belanda dan Jepang.
Konon para petugas jaga malam atau pegawai yang lembur kerap merasakan suasana yang kental.
Cerita paling populer: penampakan sosok Nonik Belanda berbaju putih yang terlihat menangis tersedu-sedu atau berjalan anggun di salah satu sudut lorong sunyi gedung pada tengah malam.
Kereta Jenazah De Drie Lijkkoetsen — Tersimpan di Garasi Tua Ngentak
Salah satu peninggalan kolonial yang cukup unik ini tersimpan di dalam garasi atau gudang tua peninggalan Belanda berukuran 4x6 meter.
Lokasinya di persimpangan Jalan Taman Pahlawan dan Jalan Candi Sari, daerah Ngentak, Kelurahan Kutowinangun Lor, KecamatanTingkir — kebetulan masih satu kawasan dengan Kampung Ngetuk yang sudah kita bahas di seri 3.
Baca juga: Salatiga Punya Cerita (3): Kampung-Kampung Tua yang Menyimpan Nama Penuh Makna
Tiga kereta jenazah kuno ini dinamai De Drie Lijkkoetsen, dengan ukiran yang kerap dikaitkan warga dengan simbol organisasi Freemasonry.
Awalnya benda-benda ini terbengkalai begitu saja, sampai akhirnya sejak 2015, komunitas pegiat sejarah setempat mendaftarkannya ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah agar statusnya terlindungi sebagai cagar budaya.
Nah, di sinilah cerita mistisnya lahir: karena usianya yang tua dan lokasinya yang cukup tersembunyi, kereta-kereta ini jadi bahan cerita horor dari mulut ke mulut.
Ceritanya banyak versi. Mulai dari mitos kereta yang bisa bergeser sendiri saat tidak diawasi, sampai kepercayaan bahwa hasil foto kamera ponsel terhadap kereta ini sering blur atau objeknya tidak tampak sama sekali.
Sosok Tinggi Besar di Jalan Lingkar Salatiga (JLS)
JLS dikenal sebagai jalur protokol yang cukup rawan kecelakaan lalu lintas. Angka kecelakaan yang tinggi ini melahirkan berbagai kisah mistis di kalangan pengemudi.
Warga sekitar kawasan Grogol yang dilintasi JLS bercerita bahwa jalur ini terasa gelap dan sunyi kalau malam tiba.
Di beberapa titik rawan kecelakaan, sejumlah pengendara truk atau motor mengaku pernah dikejutkan oleh penampakan sosok tinggi besar berwarna hitam (sering disebut Genderuwo) yang tiba-tiba menyeberang atau berdiri di pinggir jalan.
Baca juga: Salatiga Punya Cerita (2): Bangunan-Bangunan Tua yang Menyimpan Kisah Besar
Di sisi timur JLS, ada pula mitos soal Sumur Wali, tempat yang konon dijaga entitas gaib.
Pantangan di Waturumpuk — Situs Batu dengan Aturan Tak Tertulis
Waturumpuk adalah situs tumpukan batu andesit bersejarah di pinggir Jalan Pattimura, Kelurahan Kauman Kidul. Dekat lokasi Prasasti Plumpungan yang sudah kita bahas di seri 3.
Selain nilai sejarahnya, tempat ini juga punya pamali yang cukup kuat dipercaya warga: siapa pun yang melintasi kawasan ini tidak boleh berkata kotor, pamer kesombongan, atau berbuat asusila.
Kalau melanggar, konon orang tersebut akan diikuti makhluk halus penunggu batu, atau mengalami kesialan dalam perjalanannya.
Lima cerita, satu benang merah: kota tua dengan banyak bangunan kosong dan sejarah panjang selalu punya ruang bagi imajinasi warganya untuk mengisi kekosongan itu dengan cerita.
Entah itu soal gamelan yang terdengar dari rumah tak berpenghuni, atau pantangan di sebongkah batu tua — semuanya menunjukkan bagaimana warga Salatiga menjaga hubungan emosional dengan tempat-tempat bersejarah di sekitar mereka.
Walau lewat cerita yang belum tentu bisa dibuktikan. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob