Seri Tulisan tentang Sejarah dan Lokasi di Salatiga

Salatiga Punya Cerita (2): Bangunan-Bangunan Tua yang Menyimpan Kisah Besar

avatar Alan Christian Singkali
Berbagai tempat yang meninggalkan cerita di Salatiga.  (Foto: AI)
Berbagai tempat yang meninggalkan cerita di Salatiga. (Foto: AI)

Catatan: Alan Christian Singkali — Direktur Sanubari.co.id

KALAU di part 1 kita ngobrolin nama jalan yang diam-diam menyimpan sejarah, sekarang giliran gedung-gedungnya.

Baca Juga: Salatiga Punya Cerita (1): Ketika Nama Jalan Menyimpan Sejarah

Salatiga ternyata punya banyak bangunan kolonial yang bukan cuma tua, tapi juga jadi saksi bisu dari pergantian kekuasaan, kejayaan, sampai peristiwa yang mengubah peta politik Jawa. 

Yuk kita bedah satu per satu.

Gedung Papak — Kantor Wali Kota yang Awalnya Rumah Pribadi 

Gedung Papak yang kini digunakan sebagai kantor Wali Kota Salatiga. (Sumber: Wikipedia)Gedung Papak yang kini digunakan sebagai kantor Wali Kota Salatiga. (Sumber: Wikipedia)

Berdiri di Jalan Sukowati Nomor 51, gedung ini mungkin yang paling dikenal warga Salatiga. Namanya sendiri unik — disebut “Gedung Papak” karena atapnya rata alias papak dalam bahasa Jawa. 

Ini sebenarnya agak nyeleneh, karena kebanyakan gedung kolonial Belanda di Indonesia justru pakai atap pelana atau perisai yang tinggi, biar hujan tropis nggak numpuk di atas.

Gedung bergaya neoklasik ini dibangun sekitar 1895 oleh Karel William Van Heekeren, seorang bangsawan bergelar Baron, sebagai rumah tinggal pribadi. 

Ada mitos populer yang bilang gedung ini dipersiapkan untuk menyambut kunjungan Ratu Juliana —meski catatan sejarah lebih condong menyebutnya sekadar rumah mewah milik sang Baron.

Namanya juga mitos, kadang lebih seru daripada faktanya. 

Perjalanan gedung ini juga nggak kalah dramatis: pernah jadi markas polisi militer Jepang (Kenpeitai), lalu markas Brigade Macan (Tijger Brigade) militer Belanda saat Agresi Militer. 

Baru pada Januari 1953, Pemerintah Kota Salatiga resmi membelinya seharga 300 ribu rupiah untuk dijadikan Balai Kota —sampai sekarang masih berfungsi begitu.

Istana Djoen Eng — Kemewahan yang Berakhir Bangkrut

Istana Djoen EngIstana Djoen Eng

Kalau Gedung Papak soal kekuasaan, Istana Djoen Eng ini soal kejayaan yang berujung tragedi. 

Terletak di Kelurahan Sidorejo Lor, Kecamatan Sidorejo (kini dikenal sebagai kawasan Institut Roncalli), istana ini dulu adalah simbol puncak kemegahan etnis Tionghoa di Salatiga awal abad ke-20. 

Dibangun sejak 1921 oleh Kwik Djoen Eng, taipan gula pemilik firma ekspor-impor NV. Kwik Hoo Tong Handel Maatschappij di Semarang, kompleksnya berdiri di atas lahan 12 hektare dengan biaya sekitar 3 juta Gulden —angka yang fantastis untuk zamannya. 

Lengkap dengan kebun binatang pribadi, lapangan tenis, kebun kopi, dan taman hias, ini bukan rumah biasa, ini benar-benar istana pribadi.

Bangunan utamanya dirancang megah dengan empat menara berornamen khas Tionghoa mengelilingi kubah utama — yang konon dulu berlapis emas. Sayangnya, krisis ekonomi global (Malaise) tahun 1930-an menghancurkan bisnis Kwik Djoen Eng.

Istananya disita Javasche Bank pada 1930, lalu berpindah fungsi berkali-kali: kamp tawanan perang dunia, hingga tangsi militer Belanda. 

Kompleks ini kemudian dibeli oleh Kongregasi FIC (Fratrum Immaculatae Conceptionis) pada 1940 dengan harga rendah, meski nama “Roncalli” sendiri baru mulai dipakai pada 1968, saat institut ini resmi berdiri dengan nama tersebut.

Rumah Dinas Wali Kota — dari Rumah Majelis Gereja ke Kediaman Pejabat Kolonial 

Rumah Dinas Wali Kota SalatigaRumah Dinas Wali Kota Salatiga

Berdiri anggun di Jalan Diponegoro (dulu Toentangscheweg: baca: Ketika Nama Jalan Menyimpan Sejarah), rumah ini adalah contoh khas arsitektur Indische Empire Style yang populer di kalangan pejabat kolonial. 

Bagian induk bangunannya diperkirakan sudah berdiri sejak 1825. Awalnya dipakai sebagai tempat tinggal anggota Majelis Gereja Protestan, masuk akal karena lokasinya dekat gereja tua GPIB Tamansari. 

Tapi sejak 1903, pemerintah kolonial mengalihfungsikannya jadi Rumah Dinas Asisten Residen Belanda yang memimpin wilayah administratif Salatiga. 

Baca Juga: Kapal Induk dan Kopi Kang Bari

Ciri khasnya gampang dikenali: pilar-pilar besar bergaya Yunani di bagian depan, langit-langit tinggi, dan halaman luas nan asri — khas kompleks perumahan elit Eropa (Europeesche Wijk) zaman dulu.

Benteng Hock — dari Fort de Hersteller ke Kantor Satlantas

Benteng Hock yang kini difungsikan sebagai kantor Satlantas Polres SalatigaBenteng Hock yang kini difungsikan sebagai kantor Satlantas Polres Salatiga

Berdiri kokoh di Jalan Diponegoro No. 82, bangunan ini awalnya bukan rumah mewah, tapi kompleks pertahanan militer.

Didirikan VOC tahun 1746 dengan nama asli Fort de Hersteller, benteng ini sengaja dibangun di jalur strategis antara Semarang dan Surakarta, buat mengawasi pergerakan pasukan perlawanan — termasuk sisa laskar Pangeran Diponegoro.

Sekaligus mengontrol kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Masuk abad ke-20, kawasan pemukiman Eropa di Toentangscheweg ini berkembang pesat.

Seorang pengusaha kaya bernama Van Blommestein merenovasi area ini jadi rumah tinggal super mewah. Sekaligus dijadikan asrama militer, dengan menunjuk arsitek Belanda bernama Mr. Hock.

Hasilnya, bangunan ini dirancang garang menyerupai benteng sungguhan —memadukan pilar silinder besar gaya Empire dengan jendela-jendela tinggi aliran Historisme.

Karena nama arsiteknya cukup terkenal, masyarakat lokal pun akhirnya menyebutnya Benteng Hock.

Pasca-kemerdekaan, sekitar 1947, kompleks militer ini diambil alih dan dialihfungsikan jadi kantor kepolisian.

Sampai sekarang, keaslian gedung utamanya masih terjaga baik dan dipakai sebagai Kantor Satlantas Polres Salatiga.

Gedung Pakuwon — Tempat Tanah Jawa Terbelah Jadi Tiga

Gedung Pakuwon SalatigaGedung Pakuwon Salatiga

Kalau ini, levelnya jauh lebih besar dari sekadar bangunan tua — ini lokasi sejarah yang mengubah peta politik Jawa.

Baca Juga: Tanda Tangan yang Tak Pernah Cukup Kering

Terletak di Kelurahan Kalicacing, Sidomukti. Tepat di samping Alun-Alun Pancasila. Gedung ini jadi saksi bisu penandatanganan Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757.

Perjanjian ini dihadiri Raden Mas Said (Pangeran Sambernyowo), Pakubuwono III, Kesultanan Yogyakarta (Hamengkubuwono I), dan perwakilan VOC.

Dampaknya besar banget: tanah Jawa terbelah jadi tiga kekuasaan. Raden Mas Said resmi diakui sebagai penguasa merdeka yang mendirikan Kadipaten Mangkunegaran. 

Jadi kalau kamu pernah dengar soal Mangkunegaran di Solo, cikal bakalnya justru ditandatangani di Salatiga. 

Soal nama, “Pakuwon” sendiri disematkan karena bangunan ini pernah jadi kediaman resmi pejabat setingkat bupati atau penguasa lokal Salatiga yang bergelar “Akuwu”

Hotel Kaloka —dari Pension Elit Belanda ke Kantor Bank

Mengingat Salatiga dijuluki De Schoonste Stad van Midden-Java — tempat peristirahatan paling indah di Jawa Tengah — wajar kalau kota ini dulu punya banyak penginapan elit Eropa. Salah satu yang paling ikonik adalah Pension Van Blommestein di Jalan Diponegoro. 

Dibangun awal abad ke-20, bangunan megah beratap perisai ini awalnya berfungsi sebagai pension (hotel keluarga) kelas atas, tempat pejabat Belanda maupun pemilik perkebunan swasta mencari udara sejuk. 

Setelah masa kolonial berakhir, hotel ini berganti nama beberapa kali — dari Hotel Kalitaman, jadi Grand Hotel Kalitaman, sampai akhirnya dikenal sebagai Hotel Kaloka.

Setelah tak lagi aktif jadi hotel, gedungnya sempat jadi tempat diklat Pemkot (Sasana Widya Praja), dan sekarang berfungsi sebagai kantor operasional Bank Jateng Cabang Salatiga.

Enam bangunan, enam nasib berbeda: ada yang jadi pusat pemerintahan sampai sekarang, ada yang jatuh dari kejayaan ke kebangkrutan, ada yang jadi lokasi perjanjian yang mengubah peta kekuasaan Jawa, dan ada yang berevolusi dari hotel jadi kantor bank.

Tapi semuanya sepakat pada satu hal — gedung tua itu bukan cuma bangunan, tapi lapisan waktu yang masih bisa kita datangi dan sentuh sampai hari ini. (*)

Berita Terbaru