Seri Tulisan tentang Sejarah dan Lokasi di Salatiga

Salatiga Punya Cerita (1): Ketika Nama Jalan Menyimpan Sejarah

avatar Alan Christian Singkali
Sejarah Salatiga
Sejarah Salatiga

Catatan: Alan Christian Singkali, Direktur sanubari.co.id

SALATIGA itu unik. Kota kecil di kaki Gunung Merbabu ini dulu jadi favorit orang Eropa buat "healing" — iya, dari dulu udah ada strategi healing — sampai dijuluki De Schoonste Stad van Midden-Java, alias kota tercantik di Jawa Tengah pada masanya.

Baca Juga: Kapal Induk dan Kopi Kang Bari

Udaranya sejuk, pemandangannya menenangkan, dan buat orang Belanda zaman kolonial, tempat ini jadi semacam pelarian dari hiruk-pikuk kota-kota besar seperti Batavia atau Semarang.

Selain jadi tempat peristirahatan, Salatiga juga punya sejarah panjang sebagai kota garnisun, alias kota militer. Ada barak, ada ksatrian, ada bangunan-bangunan pemerintahan kolonial yang sampai sekarang masih berdiri — meski fungsinya sudah berubah. 

Semua jejak itu, ternyata, nggak cuma tersimpan di gedung tua atau museum. Ia juga tersimpan diam-diam di nama-nama jalan yang setiap hari kita lewati, kadang tanpa pernah bertanya kenapa jalan itu dinamai begitu.

Tata kota Salatiga sendiri berpusat di sekitar Bundaran Tamansari, warisan perencanaan zaman kolonial yang masih dipakai sampai hari ini.

Dari titik itu, jalan-jalan utama menyebar ke berbagai penjuru — dan hampir semuanya, kalau ditelusuri, dulu punya nama yang jauh berbeda dari yang kita kenal sekarang.

Setelah Indonesia merdeka, nama-nama berbau kolonial itu perlahan diganti dengan nama pahlawan nasional dan unsur-unsur lokal, sebagai bagian dari semangat membangun identitas bangsa yang baru. Yuk, kita telusuri satu per satu.

Dari “Jalan Menuju Kota Lain” jadi Nama Pahlawan

Beberapa nama jalan di Salatiga dulunya cuma penunjuk arah harfiah — orang Belanda kelihatannya memang praktis, tinggal lihat jalan itu menuju ke mana, ya sudah itu jadi namanya.

  • Jalan Jenderal Sudirman - dulu bernama Solosche weg (Jalan Solo), karena merupakan jalur utama menuju Kota Solo.
  • Jalan Diponegoro - dulu bernama Toentangsche weg (Jalan Tuntang), jalur penghubung ke arah Semarang melalui Tuntang.
  • Jalan Imam Bonjol - dulu dikenal sebagai Banjoebiroe Che weg (Jalan Banyubiru), karena menuju Desa Banyu Biru di sekitar Telaga Rawa Pening.
  • Jalan Pattimura - dulu bernama Bringinsche weg (Jalan Bringin), karena menuju Desa Beringin, yang kini masuk wilayah Kabupaten Semarang. 

Sekilas memang terkesan malas, tapi kalau dipikir-pikir, cara penamaan seperti ini justru memudahkan orientasi. Bayangkan jadi pendatang baru zaman itu: cukup tanya "jalan mana yang ke Solo?", dan jawabannya sudah ada di papan nama jalan itu sendiri.

Baca Juga: Tanda Tangan yang Tak Pernah Cukup Kering

Jejak Ratu Belanda yang Kini Jadi Nama Pahlawan

Dua jalan berikut ini dulu sempat "dipersembahkan" untuk anggota keluarga kerajaan Belanda — lumrah, karena saat itu Salatiga masih di bawah pemerintahan Hindia Belanda.

  • Jalan Pemuda - dulu dinamakan Wilhelminalaan, diambil dari nama Ratu Belanda, Wilhelmina.
  • Jalan Monginsidi - dulu bernama Juliana Laan (Jalan Juliana), dinamai dari Ratu Belanda, Juliana. Konon dipilih karena pemandangannya mengarah lurus ke Gunung Merbabu, sampai-sampai kadang disejajarkan dengan sebuah jalan yang tegak lurus dengan Gunung Fuji di Jepang.

Detail soal arah pandang ke gunung ini menarik, karena menunjukkan bahwa penataan kota kolonial tidak sekadar fungsional, tapi juga memperhitungkan estetika dan simbolisme —jalan yang punya "pemandangan bagus" pun layak diberi nama istimewa.

Nama yang Menyimpan Fungsi Bangunan di Sekitarnya

Ini bagian paling seru menurut saya, karena nama lamanya benar-benar menggambarkan apa yang ada di lokasi itu dulu — semacam label fungsional yang jujur apa adanya.

  • Jalan Yos Sudarso - sebelumnya sempat dinamai Jalan Penjara, karena ada bangunan yang sampai sekarang masih digunakan sebagai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
  • Jalan Muhammad Yamin - dulu dikenal sebagai Jalan Kantor Pos, karena di sana masih berdiri kantor pos tua, lengkap dengan sebuah brievenbus (kotak surat) peninggalan masa kolonial Belanda.
  • Jalan Ahmad Yani - dulunya disebut Jalan Kesatrian, karena lokasinya berdekatan dengan barak militer atau asrama tentara (ksatrian). Kini, bangunan barak tersebut menjadi markas Brigade Infanteri TNI.
  • Jalan Sukowati - dulu dinamai Jalan Kotapraja, karena merupakan akses utama menuju pusat pemerintahan Salatiga — di sana ada kantor walikota dan gedung DPRD.

Menariknya, pola ini bukan kebetulan. Salatiga memang punya sejarah panjang sebagai kota garnisun —kota militer.

Sehingga wajar kalau banyak nama jalan lama yang "mengabadikan" fungsi militer atau administratif kota ini di masa lalu, sebelum akhirnya diganti dengan nama-nama pahlawan nasional setelah kemerdekaan.

Baca Juga: Sejarah Hari Statistik Nasional 26 September

Jalan sebagai Arsip Kota kalau dipikir-pikir, nama jalan itu semacam arsip kota yang paling awet.

Arsip itu tidak disimpan di rak perpustakaan atau lemari kaca museum, tapi dipakai setiap hari oleh warganya sendiri —di alamat rumah, di papan nama toko, di aplikasi peta di ponsel.

Tanpa sadar, setiap kali menyebut "ketemuan di Jalan Jenderal Sudirman" atau "rumahnya di Jalan Diponegoro", kita sebenarnya sedang mengucapkan potongan sejarah yang sudah berganti wajah berkali-kali.

Dan ini baru permulaan. Salatiga masih menyimpan banyak cerita lain — soal bangunan-bangunan tua, kampung-kampung dengan nama unik, sampai lokasi-lokasi yang jarang diketahui asal-usulnya. Nantikan lanjutannya di tulisan berikutnya.

Baca Besok: Bangunan-Bangunan Tua yang Menyimpan Kisah Besar

Berita Terbaru

Cerita Kita,

NU, Gus Dur dan Bromocorah Politik

Catatan: HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Warga NU, Kiai Kampung dan Penulis buku Prabowo untuk Indonesia Raya UNTUK memahami judul di atas, kita perlu lebih