Jakarta, sanubari.co.id - Dugaan praktik suap dan transaksi jual beli suara pada ajang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kembali memantik sorotan publik.
Aktivis Nahdliyin, Haji Raden Mas Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy, membongkar dinamika di balik layar yang melibatkan sejumlah pengurus wilayah.
Baca juga: Bongkar Dugaan Suap Muktamar NU, Gus Lilur Ajukan Tiga Syarat Penarikan Diri
Pria yang akrab disapa Gus Lilur ini mengungkapkan, dirinya sempat menggelar pertemuan tertutup selama empat jam bersama beberapa Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Jakarta.
Pertemuan tersebut secara khusus membahas alur penyerahan uang muka (down payment/DP) hingga eksekusi pelunasan suara.
Berdasarkan pengakuan para pengurus wilayah, lokasi pelunasan DP terbanyak disinyalir terjadi di salah satu hotel di Jombang. Aset penginapan itu disebut-sebut milik mantan Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Menteri Sosial, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul.
Atas temuan itu, salah satu pengurus PWNU Sumatra menyampaikan keheranannya terkait sikap tenang Gus Ipul di hadapan publik. Figur pimpinan tersebut dinilai bersikap seolah tidak ada praktik kecurangan, padahal tuduhan penyuapan mengarah kuat kepadanya.
Gus Lilur menilai Gus Ipul bertindak sebagai orkestrator utama dalam skema transaksi suara tersebut. Langkah itu diduga dilakukan mulai dari pengumpulan jajaran PCNU dan PWNU sebelum agenda Muktamar, penyerahan DP, hingga pelunasan di hotel tersebut.
Baca juga: NU, Gus Dur dan Bromocorah Politik
Merespons hal itu, pria asal Situbondo yang mengklaim dirinya sebagai cicit Sayyidina Ali sekaligus cicit Ken Arok ini membagi penilaiannya ke dalam dua perspektif, yakni sudut pandang keagamaan dan teatrikal.
Dari sudut pandang drama, sosok Sekjen PBNU tersebut dinilai menjalankan peran sebagai aktor teater profesional yang mumpuni dalam memainkan narasi seolah-olah menjadi penjaga moral Muktamar NU.
Lakon yang dimainkan memberi kesan bersih dari praktik politik uang di forum tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut. Padahal, menurut dugaan Gus Lilur, yang bersangkutan merupakan penulis skenario sekaligus pelaku utama transaksi politik di lapangan.
Secara psikologis, Gus Lilur menilai ada dorongan kebohongan publik yang terus dipaksakan untuk menutupi fakta karena kekhawatiran terhadap penyokong dana.
Baca juga: PBNU Didesak Jadikan Hasan Gipo Pahlawan
Dugaan ketakutan kehilangan dukungan finansial membuat pilihan untuk menyangkal kenyataan terus diambil di ruang publik.
Ia menegaskan bahwa rekayasa narasi bersih yang ditampilkan saat ini sudah tidak lagi efektif di mata publik karena seluruh rekam jejak dinamika muktamar telah terbaca secara jelas.
Kritik tajam pun turut diarahkan pada kapasitas kepemimpinan di tingkat kementerian negara, di mana pejabat publik yang dinilai bersikap tidak jujur akan menjadi hambatan besar bagi kemajuan Indonesia.
Tokoh warga Nahdliyin ini pun mendesak agar seluruh panggung kepura-puraan segera diakhiri demi keadilan sosial. Ia meminta pejabat yang terlibat untuk segera mundur dari posisinya dan menghentikan narasi yang dinilai membohongi publik. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob