India Bakal Larang Penjual Junk Food di Sekitar Sekolah

avatar Robby
Seorang anak sekolah di India membeli cemilan. (Reuters)
Seorang anak sekolah di India membeli cemilan. (Reuters)

New Delhi, sanubari.co.id – Pemerintah India semakin dekat pada aturan baru yang membatasi penjualan makanan tinggi lemak, garam, dan gula (HFSS) dalam radius 50 meter dari sekolah.

Aturan ini akan berdampak pada toko keluarga, restoran, dan pedagang kaki lima di sekitar 1,5 juta sekolah di India, mulai dari minuman manis dan keripik hingga samosa berminyak, pizza, dan burger.

Rencana ini berangkat dari lonjakan obesitas pada anak. Data World Obesity Federation menunjukkan jumlah anak usia 5–19 tahun yang kelebihan berat badan atau obesitas naik dari 28 juta pada 2015 menjadi 41 juta pada 2025 Angka ini diperkirakan bakal mencapai 56 juta pada 2040.

Perubahan pola makan turut berperan. Produk seperti keripik Lay's, cokelat Cadbury, dan mi Maggi makin populer, sebagian karena harganya murah dan dianggap simbol peningkatan gaya hidup oleh warga berpenghasilan rendah.

Gagasan ini pertama kali diusulkan pada 2020 dan belum memiliki tenggat pemberlakuan. Pada Agustus, Otoritas Standar Keamanan Pangan India (FSSAI) menerbitkan ambang batas kadar lemak, garam, dan gula yang memicu pembatasan penjualan di sekitar dan di dalam sekolah, dengan masukan publik dibuka hingga 6 Oktober. 

CEO FSSAI Rajit Punhani mengatakan program sekolah "makanan aman" bertujuan mengarahkan anak menjauhi kebiasaan tidak sehat sejak dini.

"Kita harus mencegah anak-anak mengonsumsi makanan ini. Kita harus menanamkan kebiasaan ini," ujarnya.

Ia menegaskan pemilik toko tetap bisa menjual makanan non-HFSS, dan aturan ini juga dimaksudkan mendorong perusahaan mengubah resep produknya.

Aturan federal hanya melarang toko dekat sekolah menjual dan mengiklankan produk HFSS kepada anak sekolah. Negara bagian Maharashtra menerapkan pendekatan lebih ketat dengan melarang toko dalam radius 50 meter menyimpan produk tersebut. Inspeksi di sana menemukan pelanggaran di 133 toko, dan 51 di antaranya diperintahkan menghentikan usaha.

Rencana ini menuai kekhawatiran pelaku usaha. Belasan pedagang di Bhubaneswar memperkirakan penjualan bisa turun sepertiga atau lebih. Asosiasi industri, Confederation of Indian Food Trade and Industry, menilai kepatuhan sulit karena banyak sekolah berada di dekat pasar padat, dan mengusulkan pembatasan hanya berlaku di dalam sekolah.

PepsiCo dan Nestle merujuk pada kebijakan global masing-masing. Coca-Cola dan Mondelez tidak menanggapi permintaan komentar. Perusahaan-perusahaan itu juga menghadapi usulan label peringatan merah pada produk HFSS.

Sebagai pembanding, peneliti University of North Carolina mencatat lima negara telah mengusulkan atau menerapkan pembatasan penjualan di sekitar sekolah, sedangkan 48 negara membatasi penjualan di dalam sekolah.

Studi The Lancet tahun ini juga menemukan bahwa 18 bulan paparan terhadap aturan Chile menurunkan peluang kelebihan berat badan sebesar 2,85 persen pada anak perempuan dan 2,4 persen pada anak laki-laki.

Berita Terbaru

Cerita Kita,

NU, Gus Dur dan Bromocorah Politik

Catatan: HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Warga NU, Kiai Kampung dan Penulis buku Prabowo untuk Indonesia Raya UNTUK memahami judul di atas, kita perlu lebih