Sony diminta memperkuat koordinasi birokrasi dan mempercepat agenda pembangunan

Lama Dijabat Pj, Sony Resmi Jadi Sekda Bontang

avatar Michael Fredy Yacob
Prosesi pelantikan Sony Suwito Adi Cahyono sebagai sekda definitif Bontang, Kamis, 1 Oktober 2026.
Prosesi pelantikan Sony Suwito Adi Cahyono sebagai sekda definitif Bontang, Kamis, 1 Oktober 2026.

BONTANG, sanubari.co.id - Kota Bontang akhirnya memiliki sekretaris daerah definitif. Sony Suwito Adi Cahyono resmi dilantik sebagai Sekda Bontang oleh Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Kamis, 1 Oktober 2026.

Pelantikan berlangsung di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Jalan Awang Long. Sebelum menduduki jabatan tersebut, Sony menjabat sebagai Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan.

Baca Juga: Kembali Bersahabat dengan Masker

Jabatan Sekda sebelumnya diisi penjabat, Akhmad Suharto, selama hampir 11 bulan setelah Sekda sebelumnya, Hj. Aji Erlynawati, memasuki masa pensiun. Akhmad Suharto kemudian juga pensiun pada 28 September 2026.

Dalam sambutannya, Neni mengatakan Sekda memiliki posisi strategis sebagai penggerak birokrasi sekaligus koordinator seluruh organisasi perangkat daerah. Karena itu, jabatan tersebut membutuhkan tanggung jawab, integritas, kompetensi, dan pengorbanan.

“Jabatan ini bukan sekadar pucuk karier administratif, melainkan posisi sentral yang menjadi motor penggerak dan dirigen birokrasi. Sekaligus jembatan strategis antara kebijakan kepala daerah, DPRD, dan seluruh perangkat daerah,” kata Neni.

Menurut Neni, proses seleksi Sekda Bontang menggunakan pendekatan manajemen talenta sebagai bagian dari penerapan sistem merit dalam pengelolaan aparatur sipil negara.

Sistem tersebut menempatkan kompetensi, kinerja, dan rekam jejak sebagai dasar pengisian jabatan.

Sebanyak 15 kandidat birokrasi mengikuti tahapan wawancara mendalam. Dari jumlah itu, lima kandidat melanjutkan ke tahap asesmen kompetensi.

Hasil asesmen kemudian mengerucutkan kandidat menjadi tiga besar. Setelah seluruh tahapan administrasi diselesaikan, proses seleksi menghasilkan satu nama yang kemudian dilantik sebagai Sekda Bontang.

“Seluruh tahapan seleksi dijalankan dengan prinsip kompetensi, kinerja, dan rekam jejak,” ujar Neni.

Ia mengapresiasi seluruh kandidat yang mengikuti proses seleksi serta Komite Talenta yang terlibat dalam memastikan tahapan berjalan secara profesional.

Bagi Neni, seleksi Sekda bukan sekadar memilih seorang pejabat. Proses itu juga menjadi bagian dari upaya membangun birokrasi yang profesional dan berbasis kinerja.

“Setelah resmi menduduki jabatan, banyak pekerjaan besar menunggu Sekda baru,” katanya.

Baca Juga: 700 Prajurit TNI Dikirim Amankan Perbatasan Indonesia-Malaysia

Neni menyoroti kondisi keuangan daerah dan keterbatasan APBD yang menuntut pemerintah bekerja lebih cermat dan efisien. Pada saat yang sama, pemerintah harus menjawab persoalan infrastruktur serta tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik yang semakin tinggi.

Kondisi tersebut membuat posisi Sekda menjadi penting untuk memastikan setiap perangkat daerah tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Pastikan setiap rupiah yang dikeluarkan berdampak langsung kepada kesejahteraan masyarakat,” tegas Neni.

Ia juga meminta perubahan pola pikir dalam pengelolaan anggaran. Setiap program pemerintah, kata Neni, harus memiliki tujuan yang jelas dan terukur, bukan sekadar mengejar penyerapan anggaran.

Menurut dia, tidak semua persoalan pemerintahan dapat diselesaikan dengan pola kerja lama.

“Kota Bontang butuh solusi out of the box. Jadilah dirigen yang mampu menyatukan ego sektoral agar perangkat daerah bergerak dalam satu harmonisasi,” ujarnya.

Baca Juga: 3.000 Pelari Ramaikan Merdeka Run

Sebagai koordinator birokrasi, Sekda dituntut memastikan program antarpemerintah daerah saling terhubung. Koordinasi diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih program maupun penggunaan sumber daya.

Neni juga meminta seluruh perangkat daerah meningkatkan responsivitas terhadap kebutuhan pimpinan dan masyarakat.

Ia bahkan menceritakan pengalamannya menguji kesiapan Sony sebelum pelantikan. Neni mengaku pernah menghubungi Sony pada dini hari.

“Saya biasanya bangun sekitar pukul 02.30. Saya telepon, diangkat. Saya memang hanya mau mengetes,” kata Neni.

Dengan dilantiknya Sony Suwito sebagai Sekda, Neni berharap koordinasi pemerintahan Kota Bontang semakin solid. Ia meminta Sony segera beradaptasi dengan tanggung jawab barunya dan mempercepat pelaksanaan berbagai agenda prioritas pembangunan.

“Semoga Saudara dapat segera beradaptasi, bergerak cepat, dan responsif dalam mengakselerasi berbagai agenda prioritas pembangunan Kota Bontang,” pesan Neni. (*)

Berita Terbaru