BONTANG, sanubari.co.id - Kota Taman mulai memasuki musim penghujan. Hujan yang beberapa kali mengguyur Bontang membuat Pemerintah Kota Bontang mengubah fokus kewaspadaan: dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi potensi banjir.
Selain mengandalkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, pemerintah mendorong masyarakat terlibat menjaga kebersihan saluran air.
Baca Juga: Agus Haris: Pancasila Perekat Keberagaman di Bontang
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris mengatakan, antisipasi banjir dilakukan melalui sejumlah program kebersihan lingkungan yang telah berjalan. Salah satunya Gerakan Sampah-Sampahku adalah Tanggung Jawabku (GESIT) yang digagas Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.
Menurut Agus, program tersebut telah berjalan sekitar satu tahun dengan melibatkan kelurahan, organisasi perangkat daerah (OPD), PKK, serta berbagai organisasi perempuan.
Kegiatan itu dilakukan secara rutin untuk membersihkan saluran air, mulai dari parit kecil hingga parit besar.
“Program ASRI yang digagas Presiden Prabowo dan program yang digagas oleh Wali Kota Bontang, GESIT, ini sudah berjalan. Lurah, semua dinas, DLH sudah menentukan setiap pekan untuk bersama-sama membersihkan parit kecil dan parit besar,” kata Agus, Jumat, 2 Oktober 2026.
Selain menjaga kebersihan saluran air, Pemkot Bontang mengandalkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir. Dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sekitar Rp86 miliar turut diarahkan untuk pembangunan turap di sejumlah wilayah.
Namun, Agus menyebut masih ada sejumlah titik yang menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya berada di Kelurahan Api-Api, tepatnya di belakang Bank Dhanarta, Jalan Polo Air.
Baca Juga: Sidak Tiga SPPG Bontang, Ini Temuan Agus Haris
Menurut dia, kawasan tersebut memiliki debit air yang cukup besar saat hujan turun. Kondisi itu diperparah dengan ketinggian tebing atau turap yang dinilai belum cukup untuk menahan luapan air.
“Itu kalau dilihat debit airnya sangat besar. Sementara tebingnya masih pendek. Mudah-mudahan masih ada anggaran di akhir tahun ini. Nanti kita coba. Ini sudah saya tinjau bersama PU,” ujarnya.
Kawasan tersebut sebelumnya kerap mengalami banjir. Pembangunan turap telah dilakukan sebagai salah satu upaya penanganan. Namun, menurut politikus Gerindra itu, ketinggian turap masih perlu ditambah.
Agus memperkirakan penambahan ketinggian sekitar 50 sentimeter diperlukan agar turap lebih mampu menahan debit air yang meningkat saat hujan deras.
Baca Juga: Upaya Pemadaman Karhutla Berlanjut, Sanksi bagi Pelaku Pembakaran Diperberat
“Wilayah itu dulu sering banjir. Sudah diturap, tetapi masih agak rendah. Sementara debit airnya masih tinggi. Mungkin kurang lebih 50 sentimeter harus ditinggikan tebingnya. Itu yang saya khawatirkan air bisa masuk,” katanya.
Agus menegaskan Pemkot Bontang akan terus memantau titik-titik yang berpotensi mengalami genangan. Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan risiko banjir, terutama ketika intensitas hujan meningkat.
Di sisi lain, masyarakat diminta ikut menjaga saluran air tetap bersih dan tidak menjadikannya tempat pembuangan sampah.
Pemerintah menilai pembersihan drainase secara rutin perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur. Dengan begitu, sistem pengendalian banjir di Kota Bontang diharapkan dapat berfungsi lebih optimal. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob