Angkatan bersenjata AS harus beradaptasi dengan medan operasi yang kini meluas jauh melampaui atmosf

Kerahkan Senjata di Orbit, Militer AS Siap Hadapi Konflik hingga Sekitar Bulan

Reporter : Robby
Satelit yang digunakan untuk mendeteksi ancaman militer. (Northrop Grumman)

Washington, sanubari.co.id Pemerintah Amerika Serikat resmi mengonfirmasi telah menempatkan senjata di orbit Bumi, sekaligus menyerukan kesiapan militernya menghadapi kemungkinan konflik yang meluas hingga wilayah sekitar Bulan. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi Air, Space and Cyber di luar Washington, pada 16 September 2026, sekaligus menandai babak baru keterbukaan Pentagon soal militerisasi luar angkasa.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menegaskan bahwa angkatan bersenjata AS harus segera beradaptasi dengan medan operasi yang kini meluas jauh melampaui atmosfer Bumi. Ia menyebut wilayah tersebut sebagai ruang cislunar — kawasan yang mencakup area antara orbit tinggi Bumi hingga sekitar Bulan.

"Bertempur, bertahan, dan menang, dari dasar laut hingga ruang cislunar," ujar Caine di hadapan personel militer dan kalangan industri pertahanan.

Pernyataan Caine muncul tak lama setelah Menteri Angkatan Udara AS, Troy Meink, untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui keberadaan senjata pengendali ruang angkasa milik AS yang telah aktif mengorbit. Menurut Meink, sistem tersebut dirancang untuk melindungi kepentingan strategis AS dari ancaman pihak lawan.

"AS kini memiliki senjata pengendali orbit untuk membela pasukan gabungan," kata Meink dalam forum yang sama.

Detail teknis mengenai jenis, waktu peluncuran, maupun kemampuan spesifik senjata tersebut tidak diungkap ke publik. Namun, langkah ini dinilai sebagai sinyal tegas kepada China dan Rusia, dua negara yang selama ini juga dikabarkan mengembangkan kapabilitas senjata antisatelit.

Kepala Combat Forces Command di US Space Force, Letnan Jenderal Gregory Gagnon, menambahkan bahwa pasukannya tengah membangun kapasitas tempur untuk wilayah Bulan dan sekitarnya. Ia menyebut langkah ini sebagai konsekuensi logis dari semakin jauhnya aktivitas manusia — baik sipil, komersial, maupun militer — menjelajah ke luar angkasa.

Sejumlah analis mengaitkan perkembangan ini dengan proyek "Golden Dome", sistem pertahanan rudal berbasis ruang angkasa yang digagas pemerintahan Presiden Donald Trump. Proyek tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan berlapis terhadap ancaman rudal balistik maupun hipersonik dari luar atmosfer.

Di sisi lain, China sebelumnya telah mendesak AS untuk menghentikan ekspansi militer di ruang angkasa demi menjaga prinsip pemanfaatan antariksa secara damai, sebagaimana diatur dalam berbagai perjanjian internasional soal luar angkasa.

Langkah keterbukaan Pentagon ini menegaskan pergeseran doktrin pertahanan AS, dari sekadar menjaga orbit dekat Bumi menjadi turut memperhitungkan Bulan sebagai bagian dari wilayah kepentingan strategis nasional di masa depan.

Editor : Robby

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru