Catatan: Alan Christian Singkali, sekretaris umum GAMKI
HARI ini, rombongan delegasi Indonesia menjejakkan kaki di Fuqing. Rombongan itu terdiri dari Chindo Business Center, GAMKI, dan tim Youth Economic Fellowship Indonesia (YEFI) 2026.
Baca Juga: Selamat Tinggal Shanghai, Halo Fuzhou
Fuqing merupakan salah satu kota di Provinsi Fujian yang selama tiga dekade terakhir diam-diam tumbuh menjadi salah satu simpul penting kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok.
Tiga lokasi dikunjungi hari ini, masing-masing membawa cerita yang berbeda. Namun saling terhubung: dari kawasan investasi bersejarah, pabrik makanan olahan yang inovatif.
Hingga raksasa industri tekstil yang kini merambah Jawa Tengah — sebelum perjalanan hari itu berlanjut dan diakhiri di Fuzhou.
Kunjungan ke salah satu destinasi
Yuanhong Investment Zone — Jejak Kesepakatan 1991
Perhentian pertama adalah Yuanhong Investment Zone, kawasan yang lahir dari sebuah kesepakatan sederhana pada Agustus 1991 antara Xi Jinping (saat itu bertugas di Fuzhou) dan pengusaha Indonesia Liem Sioe Liong alias Sudono Salim.
Dari kawasan pesisir yang dulunya hanya ramai oleh perahu nelayan, Yuanhong kini menjelma jadi kawasan pelabuhan dan industri modern dengan puluhan proyek berjalan dan investasi mencapai belasan miliar yuan.
Yang membuat kunjungan ini terasa relevan bagi Indonesia adalah posisi Yuanhong sebagai bagian dari kerangka besar "Two Countries, Twin Parks" —skema kerja sama kawasan industri Indonesia-Tiongkok. Mencakup Kawasan Ekonomi Khusus Batang dan Bintan Industrial Park.
Lima sektor jadi fokus kerja sama ini: perikanan laut, pertanian tropis, tekstil, permesinan, dan pertambangan hijau — mulai dari kerja sama ekspor durian dan kelapa, hingga fasilitas pengolahan material baterai lithium untuk kebutuhan Tiongkok.
Yuguan Food (Zhen Xiang) — Dari Sosis Batu Vulkanik ke Ambisi Nasional
Perhentian kedua membawa rombongan ke dunia yang lebih "berasa" secara harfiah: pabrik Yuguan Food, produsen di balik merek Zhen Xiang (珍享) yang dikenal lewat produk-produk unik seperti Sosis Didao Batu Vulkanik dan aneka Bola Ikan khas Fuzhou.
Pabriknya sendiri berlokasi tak jauh dari Yuanhong Investment Zone, tepatnya di kawasan Yuanhong International Food Industrial Park — jadi masih satu wilayah Fuqing.
Sejak berdiri tahun 2015, perusahaan ini tumbuh cepat — kapasitas produksi kini menembus 100.000 ton per tahun dan produknya sudah menjangkau lebih dari 30 provinsi di Tiongkok, plus ekspor ke Asia Tenggara, Jepang, dan Korea Selatan.
Baca Juga: Anak-Anak Kita Tidak Bisa Menunggu: Membela MBG di Tengah Amarah yang Beralasan
Yang menarik dari kunjungan ini bukan sekadar skala produksinya, tapi bagaimana perusahaan ini membangun reputasi lewat cerita: rekor Guinness untuk bola ikan terbesar di dunia (2018), pengakuan sebagai perusahaan pertanian unggulan nasional (2020).
Hingga rencana besar menuju IPO dan target pendapatan 10 miliar yuan pada 2030. Sebuah pengingat bahwa di balik kemasan makanan beku, ada strategi jangka panjang yang cukup matang.
Mendatangi salah satu destinasi
Huagang Group — Benang yang Menyambung Fuqing dan Semarang
Perhentian terakhir hari ini mungkin yang paling langsung bersentuhan dengan Indonesia: Huagang Group, raksasa industri rajutan lusi (warp knitting) dengan investasi lebih dari 5 miliar yuan dan lebih dari 3.000 karyawan.
Produk kain dan bahan rajutannya dipercaya merek-merek global seperti Adidas, Puma, Zara, H&M, hingga Uniqlo — dengan lebih dari 140 paten dan lebih dari 1.000 produk baru diluncurkan setiap tahun.
Yang membuat kunjungan ke Huagang terasa dekat dengan Indonesia adalah proyek pabriknya di Kawasan Industri Terpadu Indonesia-China (KCIC), Semarang — investasi senilai 150 juta dolar AS yang diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja lokal.
Baca Juga: Chongqing, Kota Masa Depan China
Bagi delegasi asal Indonesia, melihat langsung "kampung halaman" teknologi tekstil yang akan beroperasi di Jawa Tengah memberi gambaran nyata soal alih teknologi dan standar produksi yang akan dibawa ke Tanah Air.
Tiga tempat, satu hari, satu benang merah: Fuqing bukan sekadar kota kecil di pesisir Fujian. Melainkan salah satu titik simpul nyata dari hubungan ekonomi Indonesia-Tiongkok yang terus berkembang —dari kawasan investasi, industri pangan, sampai tekstil yang siap "merantau" ke Semarang.
Menariknya, ketiga tempat ini pun tidak berjauhan satu sama lain — semuanya berkumpul di sekitar kawasan Yuanhong, seolah menegaskan bahwa Fuqing memang dirancang sebagai satu ekosistem investasi yang terus tumbuh sejak 1991.
Ada sesuatu yang syahdu dari menyusuri jalan yang sama seperti yang pernah dilewati Xi Jinping dan Liem Sioe Liong lebih dari tiga dekade silam —bahwa sebuah jabat tangan sederhana di masa lalu bisa tumbuh menjadi pelabuhan, pabrik, dan rantai pasok yang menghidupi ribuan orang di dua negara.
Menjelang siang, rangkaian kunjungan di Fuqing pun usai — kawasan yang dulunya hanya rawa dan perahu nelayan itu dilepas dengan kenyang cerita.
Sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke Fuzhou, membawa babak berikutnya yang belum selesai untuk dituliskan. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob