Seri Tulisan tentang Sejarah dan Lokasi di Salatiga

Salatiga Punya Cerita (3): Kampung-Kampung Tua yang Menyimpan Nama Penuh Makna

Reporter : Alan Christian Singkali
Ilustrasi Kampung Salatiga

Catatan: Alan Christian Singkali, Direktur Sanubari.co.id

Di seri 1 dan seri 2 kita sudah ngobrolin jalan dan gedung. Sekarang kita turun ke level yang lebih dekat dengan keseharian warga: nama kampung.

Baca juga: Salatiga Punya Cerita (2): Bangunan-Bangunan Tua yang Menyimpan Kisah Besar

Ternyata, nama-nama kampung tua di Salatiga ini bukan asal comot —kebanyakan lahir dari kondisi alam, peristiwa sejarah, atau profesi warga zaman dulu. 

Yuk kita telusuri satu per satu.

Kalicacing — Antara Cacing di Sungai dan Legenda Joko Genthong

Salah satu kampung paling legendaris di pusat kota. Dekat Alun-Alun Pancasila. Ternyata punya lebih dari satu versi cerita asal-usul nama.

Versi yang paling umum beredar menyebut nama ini diambil dari kondisi geografisnya: wilayah yang dibelah sungai kecil (kali) yang airnya jernih, dengan banyak cacing tanah kecil di dasarnya.

Tapi ada versi lain yang lebih kaya cerita, berdasarkan sumber resmi kelurahan setempat: legenda Joko Genthong, seorang pemuda sakti yang dikutuk menjadi cacing oleh seorang gadis yang ditolaknya.

Ia kemudian menghilang ke dalam mata air. Dari situlah wilayah ini dinamai Kalicacing. Ada pula versi ketiga yang mengaitkannya dengan Ki Ageng Pandanaran. Dirinya konon melihat banyak cacing di sungai ini saat dalam perjalanan menuju Jatinom.

Tiga versi, satu nama —menunjukkan bagaimana cerita rakyat bisa punya banyak “cabang”. Tergantung siapa yang menceritakannya turun-temurun.

Yang pasti, kampung ini juga punya nilai sejarah besar: di sinilah berdiri Gedung Pakuwon, saksi bisu penandatanganan Perjanjian Salatiga tahun 1757 yang sudah kita bahas di seri 2.

Kutowinangun — Kota yang Dibangun Kembali

Terletak tak jauh dari pusat kota, nama kampung ini punya akar bahasa Jawa kuno yang bernuansa politis dan penuh harapan. Kata ini berasal dari perpaduan Kuto (kota, benteng, atau pusat pemerintahan) dan Winangun (dibangun, ditata, atau dikembangkan).

Sumber akademis mengonfirmasi bahwa nama ini disematkan ketika sebuah desa bernama Karangwono dibangun kembali menjadi wilayah yang ramai. Sehingga dikenal sebagai Kutho Winangun: “kota yang dibangun kembali”.

Catatan Peraturan Daerah Kota Salatiga juga mencatat sejarah pemekaran wilayah ini. Nama tersebut jadi simbol optimisme masyarakat untuk membangun kembali pemukiman dan pusat aktivitas mereka menjadi lebih baik.

Ledok — Cekungan Subur di Kaki Bukit

Kampung Ledok terletak di kawasan Argomulyo. Dalam bahasa Jawa, kata ledok atau nledok merujuk pada tanah yang cekung, rendah, atau lembah yang dikelilingi dataran lebih tinggi.

Karena pemukiman awal masyarakat di sini berada di area cekungan subur yang dialiri air, wilayah ini secara alami dipanggil Kampung Ledok oleh warga sekitarnya. Sederhana, tapi jujur menggambarkan bentang alamnya.

Pancuran — Sumber Air yang Memancar dari Tebing

Kampung ini terletak sangat dekat dengan kawasan Pasar Raya Salatiga. Sesuai namanya, dahulu di kawasan ini ada sumber mata air alami (tuk) yang keluar memancar (mancur) dari tebing atau bebatuan.

Sebelum pipa air modern masuk, sumber mata air Pancuran ini jadi pemandian umum sekaligus andalan utama warga Salatiga. Serta para pedagang pasar —buat mandi, mencuci, sampai mengambil air minum.

Bayangin, satu titik air yang sekarang mungkin cuma jadi nama kampung, dulunya adalah urat nadi kehidupan sehari-hari.

Jagalan — Kampung Para Penjagal

Terletak di kawasan Salatiga bagian tengah, nama Jagalan merujuk pada profesi mayoritas penduduknya di masa lalu. Kata ini berasal dari jagal, yang berarti tukang menyembelih hewan ternak seperti sapi atau kerbau.

Dahulu, pemerintah kolonial Belanda memusatkan area ini sebagai kawasan khusus rumah pemotongan hewan (abattoir). Sekaligus pemukiman para pekerja penjagal — tujuannya biar sanitasi pusat kota Eropa di Tamansari tetap terjaga.

Semacam zonasi kota yang cukup pragmatis: kegiatan “kotor” dijauhkan dari kawasan elit, tapi tetap dekat cukup untuk memasok kebutuhan.

Blondo (Kutowinangun Kidul) — Tongkat Seorang Panglima yang Tumbuh Jadi Pohon

Terletak di wilayah Kecamatan Tingkir. Kampung ini menyimpan kisah perjuangan nasional yang cukup kuat. Namanya diambil dari keberadaan sebuah pohon langka, yaitu Pohon Blondo (Litsea glutinosa).

Baca juga: Salatiga Punya Cerita (1): Ketika Nama Jalan Menyimpan Sejarah

Menurut cerita turun-temurun masyarakat, pohon Blondo raksasa di kampung ini tumbuh dari tongkat kayu milik Johar Manik, salah satu panglima sekaligus ulama kepercayaan Pangeran Diponegoro. 

Ketika Johar Manik bergerilya dan menetap di wilayah Salatiga untuk melawan Hindia Belanda, ia menancapkan tongkatnya —konon kemudian tumbuh hidup menjadi pohon Blondo pelindung.

Hingga sekarang, pohon Blondo tua berumur ratusan tahun itu masih berdiri kokoh dan dirawat baik oleh warga.

Tegalrejo (Argomulyo) — Dari “Kesel Loro” Jadi Tanah yang Ramai

Tegalrejo kini menjadi salah satu kelurahan besar di Salatiga, dengan sejarah yang tercatat sejak abad ke-18. Wilayah ini pertama kali dibuka oleh seorang prajurit dari Kerajaan Kartasura bernama Kyai Shuufi sekitar tahun 1740-an.

Saat melarikan diri dari kemelut politik kerajaan, ia tiba di daerah ini dalam kondisi sangat lelah dan sakit-sakitan.

Tempat itu mulanya dinamai Desa Seloro — singkatan dari kata bahasa Jawa kesel (lelah) dan loro (sakit). Nama yang jujur banget soal kondisi si penemunya. 

Seiring waktu, wilayah oro-oro (lahan kosong/tegalan) ini semakin subur, banyak didatangi pendatang, dan makin ramai.

Oleh keturunan Kyai Shuufi, namanya kemudian diganti menjadi Tegalrejo — dari kata Tegal (lahan tegalan) dan Rejo (ramai/makmur). Dari nama yang menandai kelelahan, jadi nama yang menandai kemakmuran.

Kauman Kidul (Sidorejo) — Kampung Ulama dan Akta Kelahiran Kota Salatiga

Kauman merupakan toponimi nama kampung yang sangat umum di kota-kota lama di Jawa. 

Kata “Kauman” berasal dari Kaum (atau Khauman), merujuk pada pemukiman tempat tinggal para kaum ulama, santri, dan penegak hukum agama Islam di bawah naungan kerajaan atau kadipaten —biasanya menempel di dekat Masjid Agung kota. 

Yang membuat Kauman Kidul istimewa: di wilayah inilah ditemukan Prasasti Plumpungan (tahun 750 M).

Baca juga: Kapal Induk dan Kopi Kang Bari

Prasasti batu andesit ini adalah “akta kelahiran” legal tertua yang mencatat cikal-bakal berdirinya Kota Salatiga. 

Jadi kalau ditanya: Salatiga lahir di mana? jawabannya ya di kampung ini.

Gendongan (Tingkir) — Kampung Para Penggendong Barang Dagangan

Terletak strategis di sepanjang jalur utama perdagangan luar kota di area Tingkir, nama kampung ini merujuk pada aktivitas ekonomi masyarakat tradisional tempo dulu.

Kawasan ini dulunya adalah tempat istirahat atau pasar transit bagi para pedagang kaki lima dari wilayah pinggiran kaki Gunung Merbabu/Merapi, yang membawa dagangannya dengan cara digendong memakai kain jarik (selendang).

Pelafalan tempat berkumpulnya para penggendong barang jualan ini perlahan melekat jadi “Gendongan” — nama yang lahir langsung dari gerak tubuh para pedagang setiap hari.

Ngetuk — Tanah yang Terus Memancarkan Air

Area kampung yang masih asri ini dekat dengan sumber-sumber mata air alami Salatiga. Namanya diambil langsung dari bahasa Jawa, yaitu tuk yang berarti mata air alami.

Kawasan ini dinamai “Ngetuk” (artinya: memancarkan/mengeluarkan mata air) karena tanahnya memiliki banyak titik rembesan air bersih murni yang terus mengalir sepanjang tahun tanpa pernah kering, menghidupi sawah-sawah di sekitarnya.

Sepuluh kampung, sepuluh cerita yang lahir dari hal-hal sederhana: sungai jernih, harapan membangun kembali kota, bentang tanah cekung, sumber mata air, profesi warga, sampai kisah heroik seorang panglima gerilya.

Kalau nama jalan dan gedung menyimpan sejarah kekuasaan, nama kampung justru menyimpan sesuatu yang lebih personal — cara warga biasa memahami dan menamai dunia di sekitar mereka, satu titik air dan satu pohon pada satu waktu.

Baca Besok: Kisah Mistis dan Urban Legend yang Beredar di Salatiga (Habis)

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru