SIDOARJO, sanubari.co.id — Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur mulai mengalihkan fokus penanganan gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dari fase tanggap darurat ke rehabilitasi dan rekonstruksi.
Dengan dukungan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Jawa Timur, program pemulihan direncanakan berlangsung selama lima bulan, mulai Oktober 2026 hingga akhir Februari 2027.
Baca Juga: Jatim Gelar QRES di 81 Daerah Irigasi
Peralihan tersebut dilakukan setelah pemerintah daerah di sejumlah kabupaten di Flores mencabut status tanggap darurat bencana. MDMC Jawa Timur pun menghentikan pengiriman relawan untuk operasi darurat dan mengalihkan sumber daya ke program pemulihan jangka menengah.
Perwakilan LAZISMU Jawa Timur sekaligus penata laksana bantuan, Aditio Yudono, mengatakan program rehabilitasi dan rekonstruksi ditujukan untuk memperkuat kapasitas masyarakat terdampak agar dapat bangkit setelah bencana.
“Alhamdulillah, MDMC Jawa Timur dengan dukungan LAZISMU Jatim telah melaksanakan respons tanggap darurat selama kurang lebih 60 hari, sejak hari kedua setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi di Flores pada 15 Agustus 2026.
Kini, penanganan bencana beralih dari fase tanggap darurat ke rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Aditio saat melepas lima anggota tim awal MDMC untuk program pemulihan di Flores.
Pelepasan tim berlangsung di Gedung Kemanusiaan LAZISMU Jawa Timur, kawasan Buduran, Sidoarjo, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Aditio menegaskan, LAZISMU Jawa Timur akan terus mendukung upaya MDMC dalam mendampingi penyintas melalui berbagai program penguatan di wilayah yang menjadi sasaran pendampingan Muhammadiyah Jawa Timur.
Ketua Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (MLHPB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, M. Rofii, mengatakan program rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut dirancang sebagai bagian dari komitmen jangka panjang Muhammadiyah dalam penanganan bencana.
Dalam rapat koordinasi gabungan MDMC dan LAZISMU Jawa Timur di kawasan Jemursari, Surabaya, pada 6 Oktober 2026, Rofii menjelaskan bahwa tim spesialis akan diterjunkan secara bertahap ke sejumlah wilayah terdampak, terutama Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada.
“Muhammadiyah hadir tidak hanya ketika tanggap darurat mencapai puncaknya, tetapi juga terus mendampingi masyarakat hingga bangkit, mandiri, dan tangguh menghadapi masa depan,” ujar Rofii.
Menurut dia, fase tanggap darurat berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar penyintas. Adapun tahap rehabilitasi dan rekonstruksi diarahkan pada pemulihan kehidupan masyarakat.
Mulai dari pembangunan infrastruktur yang lebih aman, pemulihan fasilitas pendidikan dan ibadah, penyediaan air bersih, hingga penguatan ekonomi keluarga dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Sembilan Program Pemulihan
Berdasarkan hasil asesmen kebutuhan terpadu, MDMC Jawa Timur menyiapkan sembilan program utama di wilayah Reo, Pota, Riung, dan sekitarnya.
Program tersebut mencakup sektor pendidikan, hunian, air bersih, fasilitas umum, pemberdayaan ekonomi, serta pengurangan risiko bencana.
Di sektor pendidikan, MDMC akan menyalurkan 856 paket perlengkapan sekolah (school kit) bagi pelajar di wilayah terdampak, khususnya Reo, Pota, dan Riung. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung keberlangsungan kegiatan belajar-mengajar setelah bencana.
Di sektor hunian, program rehabilitasi dan rekonstruksi diawali dengan pembangunan 30 unit prototipe hunian darurat (Hundar), lengkap dengan peralatan pendukung.
Prototipe tersebut akan dibangun di Reo, Pota, dan Riung sebagai contoh hunian sementara yang aman dan layak bagi keluarga terdampak.
Baca Juga: Update Gempa Panama M7.7: Episentrum, Penyebab, dan Data Kerusakan Terbaru
Selanjutnya, sebanyak 500 kepala keluarga direncanakan menerima bantuan bahan dan peralatan dari LAZISMU agar dapat membangun hunian darurat secara mandiri dengan mengacu pada prototipe yang telah disediakan.
Pemulihan akses air bersih menjadi program berikutnya. MDMC akan merevitalisasi jaringan perpipaan di Pota, Manggarai Timur, untuk memulihkan distribusi air kepada masyarakat.
Program serupa dilakukan melalui pembangunan sumur bor terpadu yang dilengkapi bak penampungan dan jaringan distribusi air di Baar, Riung, Kabupaten Ngada.
Pada sektor fasilitas umum dan ibadah, Muhammadiyah Jawa Timur merencanakan pembangunan atau penyelesaian Masjid Ahmad Dahlan berukuran 10 × 10 meter beserta fasilitas pendukungnya di Baar, Riung, Ngada.
Sementara itu, pemulihan sarana pendidikan anak usia dini akan dilakukan melalui pembangunan kembali TK ABA ‘Aisyiyah Paralando di Reok Barat, Kabupaten Manggarai. Fasilitas yang direncanakan meliputi dua ruang belajar, ruang kantor, sanitasi dan toilet, serta teras sekolah.
Di bidang ekonomi, program diarahkan pada penguatan kemandirian keluarga melalui pelatihan pengolahan hasil pertanian dan perikanan berbasis potensi lokal. Pelatihan tersebut akan menyasar masyarakat di Reo, Pota, dan Riung.
Program terakhir berfokus pada mitigasi dan penguatan ketangguhan komunitas. Kegiatan ini meliputi pelatihan kebencanaan berbasis masyarakat, pengelolaan posko mandiri, mitigasi risiko bencana, serta penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Tim Spesialis Diterjunkan Bertahap
Untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai sasaran, MDMC Jawa Timur menyiapkan tim relawan spesialis yang memiliki keahlian lintas sektor.
Penugasan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan teknis dan sosial masyarakat di lapangan.
Baca Juga: Khofifah Dampingi Prabowo ke Gontor
Tim teknis dan logistik bangunan akan mendampingi pembangunan hunian darurat, rehabilitasi sekolah, serta pemulihan fasilitas ibadah.
Tim air, sanitasi, dan kebersihan atau *Water, Sanitation, and Hygiene* (WASH) bertanggung jawab mengawal revitalisasi jaringan perpipaan dan pembangunan sumur air bersih.
Adapun tim pemberdayaan dan psikososial akan memfasilitasi pelatihan diversifikasi produk pertanian dan perikanan, sekaligus mendampingi pemulihan psikososial di lingkungan sekolah.
Tim fasilitator pengurangan risiko bencana akan bekerja bersama warga dan aparatur setempat dalam pelatihan pengelolaan posko serta penerapan SPAB.
Rofii mengatakan pengiriman relawan akan menggunakan sistem rotasi berkala untuk menjaga stamina dan efektivitas pendampingan di lapangan. Skema tersebut dirancang agar pelaksanaan program tetap berjalan hingga akhir Februari 2027.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para muzaki, donatur, relawan, LAZISMU Jawa Timur, jajaran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, LAZISMU di seluruh Jawa Timur, serta perusahaan dan komunitas yang turut mendukung operasi kemanusiaan tersebut.
Menurut Rofii, keberhasilan program rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan koordinasi erat dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tokoh masyarakat, dan jaringan mitra kemanusiaan di Flores.
Ia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga harus memastikan masyarakat kembali memiliki akses terhadap pendidikan, air bersih, penghidupan, serta kemampuan menghadapi risiko bencana pada masa mendatang. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob