YOGYAKARTA, sanubari.co.id - Puluhan ulama, pengasuh pondok pesantren, dan tokoh masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendesak perbaikan tata kelola organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Buntut dari dinamika panas Muktamar ke-35 di Jombang, mereka menyerukan agar K.H. Miftachul Akhyar mundur dari jabatannya sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Baca Juga: Gus Lilur Kembali Gaungkan “Ber-NU tanpa ber-PBNU”
Aspirasi tersebut mengemuka dalam halakah bertajuk "Menjaga Ainul Bashirah NU Abad Kedua" di Pondok Pesantren Tegalsari, Wedomartani, Sleman, Sabtu, 19 September 2026.
Acara yang diasuh oleh K.H. Asyhari Abdullah Tamrin ini diisi dengan istigasah, salat hajat, dan diskusi masa depan jamiyah pasca-muktamar.
Halakah tersebut dipandu oleh Kiai Nur Khalik Ridwan dan menghadirkan sejumlah pemantik, termasuk Rektor pertama Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Profesor Purwo Santoso.
Turut hadir dalam forum itu Ketua PW Muslimat NU DIY Nyai Fatma Amalia, Ketua PW Fatayat NU DIY Maryam Fithriati, Ketua Pergunu DIY Fauzan Satyanegara, Pengasuh Pondok Pesantren Afkaaruna K.H. Samsul Maarif Mujiharto.
Serta Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijogo K.H. Beni Susanto. Tokoh lain seperti K.H. Aguk Iriawan, Gus Gugun Elguyanie, dan Gus Izzul Haq juga tampak hadir di antara peserta.
Koordinator acara, Achmad Zuhri, menyoroti proses pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dan Rais Aam di Muktamar Jombang. Ia menyebut forum menuntut agar kepemimpinan NU dikembalikan pada fondasi akhlakul karimah, amanah, dan bersih dari praktik risywah (suap).
"Sudah menjadi rahasia umum terkait kabar penyekapan, karantina, hingga pengondisian peserta dengan tekanan psikologis melalui risywah dan ancaman pemecatan dari jabatan," kata Zuhri.
Dugaan pengkondisian itu, kata Zuhri, makin menguat dengan beredarnya informasi soal pembagian "uang souvenir" bernominal fantastis kepada para penentu posisi Rais Aam.
Meski masih memerlukan verifikasi lanjutan, kabar pengembalian uang oleh salah satu penerima kepada panitia telah memicu polemik luas di publik.
Baca Juga: Gus Lilur Dorong Sekjen PBNU Bukan Dari Jawa Timur, ini Analisanya...
"Informasi ini adalah petunjuk dari Allah SWT untuk membongkar kezaliman. Tinggal apakah ada kemauan bersama untuk mendorong proses yang lebih akuntabel," ujarnya.
Puncaknya, ulama dan tokoh masyarakat DIY sepakat mendesak K.H. Miftachul Akhyar untuk meletakkan jabatannya sebagai Rais Aam PBNU.
Pengunduran diri tersebut dianggap sebagai jalan terbaik sekaligus wujud akhlak ulama dalam menjaga martabat kepemimpinan.
Forum kemudian merekomendasikan agar amanat Rais Aam diserahkan kepada K.H. Nurul Huda Jazuli, ulama sepuh peraih suara muktamirin terbanyak yang dinilai memiliki kapasitas keilmuan dan keteladanan paripurna.
Zuhri menegaskan, pembiaran terhadap praktik risywah sama dengan membenarkannya. "Bahkan forum menilai, jika ada tokoh NU yang membenarkan praktik tersebut, dia bukan saja keluar dari NU, tetapi sudah masuk kategori murtad karena menghalalkan yang haram," tuturnya.
Baca Juga: Gus Kikin Pimpin PBNU, Golkar Jatim Dorong NU Perkuat Peran untuk Bangsa
Sebagai langkah perlawanan spiritual, forum mengajak warga nahdiyin untuk melakukan munajat usai salat maktubah (fardu).
Amalan tersebut mencakup pembacaan Surah Al-Fatihah satu kali untuk keselamatan NU dan bangsa, Surah Al-Ikhlas tiga kali sebagai niat khatmul Quran, serta Surah Al-Fil tiga kali untuk menangkal niat buruk dan melumpuhkan pihak-pihak yang ingin merusak jamiyah.
"Munajat ini bukan untuk menumbuhkan kebencian, melainkan ikhtiar agar NU dijauhkan dari kezaliman, penyalahgunaan wewenang, dan tindakan yang merendahkan martabat ulama," ucap Zuhri.
Zuhri menampik anggapan bahwa desakan ini bertujuan memecah belah Nahdlatul Ulama. Sebaliknya, hal ini murni sebagai kritik konstruktif.
"Seruan ini adalah panggilan moral untuk menjaga keutuhan NU, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, memperkuat pesantren serta ranting sebagai basis jamiyah, sekaligus menempatkan ulama sebagai penjaga moral perjalanan organisasi," ucapnya. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob