Suva, sanubari.co.id — Pemerintah Fiji resmi mengumumkan status darurat nasional atas lonjakan kasus HIV yang melanda negara kepulauan Pasifik tersebut. Keputusan ini diambil menyusul data terbaru yang menunjukkan satu dari 60 orang dewasa di Fiji kini hidup dengan HIV, jauh meningkat dibanding rasio satu dari 167 orang lima tahun lalu.
Berdasarkan data resmi pemerintah, tercatat 2.016 diagnosis baru HIV pada 2025, atau naik 27 persen dibanding tahun sebelumnya. Menurut estimasi Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS), sekitar 9.100 orang hidup dengan HIV di Fiji pada 2025, meningkat 12 kali lipat dibanding angka pada 2010.
Hal yang lebih mengkhawatirkan, hanya 39 persen dari mereka yang mengetahui status HIV-nya, dan cuma 22 persen yang benar-benar menerima pengobatan antiretroviral. Di kalangan ibu hamil, kondisinya lebih parah, satu dari 50 ibu hamil di Fiji kini terinfeksi HIV.
Menteri Kesehatan dan Layanan Medis Fiji, Atonio Lalabalavu, menegaskan situasi ini tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa.
"HIV kini menjadi krisis nasional dan pemerintah menanganinya sebagai krisis," ujarnya, seraya menambahkan bahwa jumlah warga Fiji yang hidup dengan HIV kini lebih banyak dari sebelumnya.
Alat tes HIV makin diperlukan di Fiji. (ABC News)
Penasihat UNAIDS untuk Fiji, Renata Ram, menyoroti kecepatan penyebaran wabah sebagai hal yang paling mengkhawatirkan. Ia mengatakan yang paling ia khawatirkan adalah kecepatan epidemi ini dan banyaknya orang yang mungkin hidup dengan HIV tanpa menyadarinya.
Lonjakan kasus ini sebagian didorong oleh masalah metamfetamin yang terus meluas di negara berpenduduk kurang dari satu juta jiwa tersebut. Ketua Tim Respons Wabah HIV Nasional Fiji, Jason Mitchell, mengungkapkan bahwa operasi penegakan hukum turut menyebabkan kelangkaan jarum suntik, yang meski sah dilakukan, justru menghambat upaya pengurangan dampak buruk bagi pengguna narkoba suntik.
Krisis HIV ini telah merenggut banyak nyawa. Data kesehatan nasional mencatat 117 kematian terkait HIV pada 2025, meningkat tajam dari 25 kematian pada 2021.
Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima, menyebut krisis Fiji sebagai pengingat keras bagi dunia bahwa AIDS belum berakhir. Sementara itu, Direktur Regional UNAIDS untuk Asia Pasifik, Eamonn Murphy, menyatakan optimismenya.
"Fiji masih memiliki peluang untuk mengubah arah epidemi ini," ujarnya, seraya menekankan pentingnya solidaritas internasional untuk mempercepat penanganan.
Pemerintah Fiji kini memperluas akses pemeriksaan, pasokan obat pencegahan, dan layanan pengurangan dampak buruk bagi kelompok berisiko guna menekan laju penyebaran virus tersebut.
Editor : Robby