Jakarta, sanubari.co.id — Fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan kondisi tersebut dapat memperpanjang musim kemarau dan membuat musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta, pada 22 September 2026.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal.
Dampak kondisi tersebut sudah terlihat di berbagai daerah. BMKG mencatat 25 provinsi mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari. Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu wilayah dengan periode tanpa hujan terpanjang, yakni mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Wilayah yang menghadapi kondisi kering cukup luas terutama berada di bagian selatan Indonesia. Pemantauan BMKG menunjukkan kekeringan dan hari tanpa hujan panjang terjadi di Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, hingga Papua Selatan.
El Nino menyebabkan kemarau panjang dan curah hujan rendah. (Shutterstock)
Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pada pertengahan September, BMKG mencatat ratusan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, dengan konsentrasi terbesar berada di Kalimantan, disusul Papua-Maluku, Sulawesi, dan Sumatra.
Sektor pertanian dan ketersediaan air menjadi perhatian berikutnya. Musim hujan yang terlambat dapat memengaruhi jadwal tanam, sementara berkurangnya hujan meningkatkan tekanan terhadap sumber air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan berbagai aktivitas ekonomi.
BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 akan mundur di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia. Sebagian besar wilayah diperkirakan baru mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026.
Durasi musim hujan juga diperkirakan lebih pendek dari kondisi normal pada 482 Zona Musim, yang mencakup sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia. Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak perlu bersiap menghadapi periode kering yang lebih panjang sebelum hujan kembali berlangsung secara konsisten.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mengantisipasi keterbatasan air, menyesuaikan kegiatan pertanian, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi cuaca dan iklim resmi BMKG karena kondisi setiap daerah dapat berbeda.
Dengan El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027, dampak kekeringan masih menjadi perhatian dalam beberapa bulan ke depan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan yang mengalami musim kemarau lebih panjang.
Editor : Robby