Selama ini kita percaya bahwa buah itu sehat, sayur itu baik, dan kalau kemasan makanan mencantumkan skor gizi yang bagus, berarti aman dikonsumsi. Ternyata keyakinan seperti ini terlalu menyederhanakan masalah.
Sebuah studi terbaru memperkenalkan sistem Skor Nilai Nutrisi atau Nutritional Values Score (NVS). Sistem ini tidak hanya menghitung kalori, gula, atau lemak, tetapi juga menakar nilai gizi menyeluruh makanan dan kaitannya dengan pencegahan penyakit kronis.
Ternyata sayuran hijau tua, daging, ikan, dan makanan laut menempati posisi teratas. Sementara minuman ringan, mie instan, dan biji-bijian olahan justru berada di dasar daftar.
Hal terpenting untuk direnungkan adalah bayam dan semangka sama-sama "sayur dan buah", tapi nilai gizinya jauh berbeda. Begitu pula jambu biji dibanding semangka, atau bayam dibanding terong. Artinya, kategori luas seperti "makan buah" atau "makan sayur" saja tidak cukup. Pilihan spesifik di dalam kategori itu jauh lebih menentukan daripada yang kita kira selama ini.
Mengapa ini layak kita percaya? Karena NVS dibangun dari tujuh komponen ilmiah — vitamin, mineral, protein, omega-3, serat, kepadatan kalori, hingga rasio nutrisi seperti natrium-kalium dan lemak jenuh-tak jenuh — dan sudah diuji pada 289 jenis makanan dari lima negara, termasuk Indonesia. Ini bukan sistem yang hanya cocok untuk pola makan Barat, melainkan dirancang untuk mencerminkan realitas pangan yang beragam, termasuk makanan lokal yang kita konsumsi sehari-hari.
Tentu sistem ini bukan kebenaran mutlak. Para peneliti mengakui masih perlu adanya studi lanjutan. Namun bukan berarti temuan ini bisa diabaikan. Sebaliknya, ini adalah pengingat penting bahwa slogan pemasaran dan label warna-warni di kemasan tidak selalu mencerminkan kualitas gizi sesungguhnya.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Pesannya jauh lebih sederhana dan bisa langsung diterapkan: prioritaskan makanan asli dan minim olahan — sayuran hijau berdaun, ikan, telur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh — dan mulai lebih kritis terhadap makanan ringan ultra-olahan serta minuman manis yang selama ini kita anggap "cukup baik".
Di tengah banjir informasi gizi yang membingungkan, satu hal menjadi jelas: detail di piring kita jauh lebih penting daripada sekadar kategori makanannya. Sudah saatnya kita berhenti memilih makanan hanya berdasarkan label, dan mulai benar-benar memperhatikan apa yang sebenarnya kita makan.
Editor : Robby