Jakarta, sanubari.co.id — Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB.
Guruh mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, setelah menjalani perawatan intensif selama kurang lebih dua pekan.
Baca Juga: Guruh Soekarnoputra Kritis, Keluarga dan Elit PDIP Minta Doa
Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, melalui keterangan tertulis resmi.
"Almarhum meninggal dunia pada hari Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB," ujar Hasto.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas nama keluarga besar atas segala kesalahan dan kekhilafan almarhum semasa hidupnya, serta mengajak masyarakat mendoakan agar Guruh mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Guruh lahir pada 13 Januari 1953 sebagai putra Soekarno dan Fatmawati, sekaligus adik dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Sepanjang hidupnya, ia dikenal luas sebagai seniman multitalenta—musisi, koreografer, dan budayawan—yang memadukan seni pertunjukan dengan semangat kebangsaan.
Baca Juga: DPD PDIP Jatim Salurkan Sapi Kurban ke Masjid di Mulyorejo
Di jalur politik, Guruh bergabung dengan PDI sejak 1982 dan berlanjut ke PDI Perjuangan pada 1999. Ia sempat menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewakili daerah pemilihan Jawa Timur selama periode 1999–2024.
Hasto mengenangnya sebagai sosok Marhaenis dan pejuang partai, sekaligus menegaskan PDI Perjuangan akan memberikan penghormatan terakhir melalui Protokol Partai.
Jenazah Guruh disemayamkan di rumah duka keluarga di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Baca Juga: Ketika Persatuan Jadi Nafas Bangsa: Pelajaran dari Soekarno dan Hatta
Hingga berita ini diturunkan, jadwal dan lokasi pemakaman masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari pihak keluarga.
Kepergian Guruh Soekarnoputra menyisakan duka mendalam bagi jajaran PDI Perjuangan maupun dunia seni Tanah Air.
Ia dikenang sebagai figur yang konsisten menjaga warisan budaya bangsa lewat karya-karya seni pertunjukannya, sekaligus terus aktif dalam pergerakan politik nasional hingga akhir hayatnya. (*)
Editor : Robby