Dewan Penasihat atau Seminar Nasional?

Wantimpres Edisi Warung Kopi

avatar Alan Christian Singkali
Obrolan politik di warung kopi
Obrolan politik di warung kopi

Anekdot: Alan Christian Singkali, Direktur sanubari.co.id

SABTU pagi, warung kopi pinggir pasar. Kang Bari datang tergopoh-gopoh sambil mengibas-ngibaskan koran.

Baca Juga: Relasi Prabowo Gibran: Pemerintah Salurkan Rp 200 Miliar untuk Gempa NTT

Pak Sanu sudah duduk dari subuh, kopinya tinggal ampas, dan ia sedang menghitung ulang uang receh di kantong.

"Pak Sanu! Wantimpres akhirnya dilantik!"

"Wantim apa?"

"Wantimpres. Dewan Pertimbangan Presiden. Kemarin, Jumat, di Istana Negara. Presiden Prabowo melantik 26 anggota lewat Keppres Nomor 107/P Tahun 2026."

Pak Sanu mengangguk pelan.

"Dua puluh enam. Banyak betul. Lha dewan penasihat kok lebih banyak dari pemain bola plus cadangannya?" gumamnya dengan dahi yang mengkerut.

"Itu belum semua, Pak. Ketuanya Pratikno, wakilnya Hatta Rajasa. Sekretarisnya Qodari."

"Jadi sudah ada ketua, wakil, sekretaris. Tinggal bendahara, lengkap, siap bikin arisan."

Kang Bari terkekeh, lalu membuka koran.

"Yang bikin heboh itu keragamannya, Pak. Ada dari pemerintahan, politik, dunia usaha, organisasi keagamaan, akademisi, sampai kebudayaan," celetuk Kang Bari.

"Ada Shinta Nuriyah Wahid, Quraish Shihab, Agum Gumelar, Chairul Tanjung, Bambang Soesatyo, sampai Said Aqil Siradj dan Gus Yahya." lanjutnya.

"Wah, kalau rapat, bahasan pertama pasti soal siapa duduk di sebelah siapa."

"Rocky Gerung juga masuk, Pak. Anwar Usman juga."

Pak Sanu terdiam lama.

"Kang, satu ruangan isinya pemikir, hakim, pengusaha, kiai, jenderal, dan pengamat yang biasa mengkritik. Ini dewan penasihat apa seminar nasional yang panitianya lupa memilah pembicara?"

"Kata pengamat, Pak, Presiden memang ingin mendapat pertimbangan yang beragam."

"Beragam itu bagus. Asal nanti kalau Presiden tanya 'jam berapa sekarang', jawabannya tidak ada dua puluh enam versi."

"Paling-paling jawabannya: 'tergantung perspektif'," sahut Kang Bari.

Keduanya tertawa. Kang Bari lalu menurunkan suara.

"Pak, ini yang paling saya penasaran. Katanya hak keuangannya Rp76,5 juta per bulan, plus fasilitas setingkat menteri, berdasarkan Perpres Nomor 15 Tahun 2026."

Pak Sanu langsung menegakkan punggung dan mengeluarkan kalkulator kuno dari sakunya. "Tujuh puluh enam juta lima ratus ribu... dibagi harga kopi lima ribu... berarti..."

"Lima belas ribu tiga ratus gelas sebulan, Pak.

Baca Juga: Reshuffle di Warung Kopi

"Lima belas ribu gelas! Sehari lima puluh gelas pun masih sisa. Kopinya lunas, lambungnya yang tidak."

"Tapi tugasnya berat, Pak. Mereka wajib memberi nasihat, baik diminta maupun tidak diminta Presiden."

"Nah, itu enaknya jadi penasihat. Orang lain harus sabar menunggu ditanya, mereka malah wajib ngasih nasihat sebelum ditanya."

Pak Sanu menyeruput ampas kopinya.

"Istri saya dua puluh tahun jadi penasihat tetap saya, Kang. Tidak pernah dilantik, tidak ada Keppres, apalagi gaji. Tapi nasihatnya selalu tepat waktu, sebelum saya bertanya."

"Haha! Berarti istri Bapak itu Wantimpres rumah tangga."

"Ketua merangkap anggota, malah. Dan tidak pernah ada anggota yang absen."

Kang Bari menunjuk satu paragraf di koran.

"Oh iya, Pak, konon sampai setahun pemerintahan berjalan, Wantimpres belum dibentuk secara resmi. Baru sekarang diresmikan."

"Setahun lebih, ya? Pantas." Pak Sanu manggut-manggut bijak.

"Mungkin Presiden menyeleksi dengan cermat, Kang. Namanya juga cari penasihat. Kalau salah pilih, nanti mereka yang dinasihati balik sama Presiden."

"Pelantikannya juga sehari setelah reshuffle kabinet."

Baca Juga: Salatiga Punya Cerita (4-Habis): Kisah Mistis dan Urban Legend yang Beredar di Salatiga

"Oh, Kamis rombak menteri, Jumat pasang dewan. Cepat juga kalau sudah jalan. Tinggal menunggu Sabtu, jangan-jangan ada yang dilantik jadi pengurus RT."

Kang Bari tertawa sampai tersedak. Setelah reda, ia melipat koran. "Tapi serius, Pak, menurut Bapak, mereka cocok?"

Pak Sanu menatap langit-langit warung yang ada sarang labanya.

"Kang, dulu ada DPA, Dewan Pertimbangan Agung. Dihapus setelah amandemen keempat UUD 1945, diganti dewan pertimbangan yang sekarang,"

"Nama berganti, aturan berganti, orangnya silih berganti. Tapi pesan lamanya satu: yang didengar itu bukan siapa yang bicara paling keras, tapi siapa yang bicaranya paling benar."

"Wah, dalam juga, Pak."

"Itu bukan dalam. Itu karena kopinya sudah habis. Dalam-dalaman memang di dasar gelas."

Pak Sanu menunjuk gelasnya yang kosong.

"Dan sekarang, nasihat saya untuk Kang Bari: gantian bayar kopi."

Kang Bari menghela napas, merogoh dompet, dan meletakkan selembar sepuluh ribuan. "Baik, Pak. Tapi saya catat, Bapak ini penasihat yang memberi masukan sebelum diminta."

"Dan dibayar," kata Pak Sanu puas, "setingkat menteri."

"Setingkat menteri itu harga gorengannya, Pak," sahut Kang Bari. "Sepuluh ribu tidak cukup." (*)

Berita Terbaru

Serba Serbi,

Merawat Damai dari Akar Rumput Sumba

WAINGAPU, sanubari.co.id - Pelatihan Sekolah Perdamaian Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) di Aula Rumah Sakit Kristen Lindimara, Waingapu, Sumba