Dollar Terus Menguat, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Capai 5,7 Persen

avatar Robby
Perdagangan dollar. (Getty Images)
Perdagangan dollar. (Getty Images)

Jakarta, sanubari.co.id — Kebijakan moneter dan tingginya imbal hasil (yield) surat utang bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), terus membayangi pergerakan arus modal global hingga kuartal IV-2026. Ketatnya kebijakan keuangan AS tersebut memicu penguatan mata uang dolar dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Kendati demikian, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap berdaya tahan di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen sepanjang tahun 2026.

Bertahannya imbal hasil US Treasury yield pada tingkat tinggi memicu perpindahan dana investor global menuju aset berisiko rendah berbasis dolar. Kondisi ini menuntut langkah antisipatif dari otoritas moneter domestik agar tidak mengganggu momentum pemulihan ekonomi nasional. 

Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal II-2026 masih mencatatkan kinerja solid sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year), ditopang oleh kuatnya tingkat konsumsi rumah tangga serta geliat investasi hilirisasi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat respons bauran kebijakan guna memitigasi dampak ketidakpastian eksternal yang dipicu oleh dinamika moneter AS.

"Sinergi antara kebijakan moneter, makroprudensial, dan kemudahan sistem pembayaran terus kita optimalkan bersama stimulus fiskal pemerintah. Fokus utama kami adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan transmisi kredit tetap memadai untuk menopang sektor riil," ujar Perry Warjiyo dalam rapat koordinasi stabilitas sistem keuangan di Jakarta.

Tingginya imbal hasil instrumen keuangan di AS memang berpotensi memicu risiko inflasi barang impor (imported inflation) akibat transmisi nilai tukar. Namun, inflasi domestik Indonesia sejauh ini dinilai masih sangat terkendali pada kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Daya beli masyarakat yang terjaga, dibantu oleh kelancaran distribusi pasokan pangan serta berbagai stimulus sosial pemerintah, menjadi modal utama penyeimbang gejolak dari luar.

Di sisi lain, pengamat ekonomi menyoroti pentingnya memperkuat daya tarik modal asing langsung (Foreign Direct Investment) untuk mengurangi ketergantungan pada modal portofolio jangka pendek yang sangat sensitif terhadap suku bunga global.

"Penguatan fundamental ekonomi dalam negeri melalui percepatan hilirisasi industri dan belanja pemerintah adalah benteng terkuat kita. Selama daya beli masyarakat terjaga, dampak tingginya imbal hasil The Fed terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional relatif dapat diredam," kata Pengamat Ekonomi dan Pasar Keuangan, Farhan Adhitia.

Dengan respons kebijakan moneter yang terukur serta solidnya arus konsumsi domestik, pemerintah dan Bank Indonesia optimistis laju pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target 5,2 persen hingga akhir tahun.

Berita Terbaru