BONTANG, sanubari.co.id - Pimpinan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang, berganti. Sebelumnya, jabatan itu dipimpin oleh Lulyana Ramdani. Sekitar tiga tahun pria keturunan Sunda itu menjadi kepala BNNK Bontang.
Kini, harus pulang kampung halamannya. Ia mendapat tugas baru di BNN Provinsi Jawa Barat. Di sana, pria yang akrab disapa Luly itu dipercaya sebagai pejabat fungsional Penyuluh Sosial Masyarakat (PSM) Ahli Madya. Artinya, ia mendapat promosi.
Baca juga: Sekjen PBB Antonio Guterres Dorong Indonesia Perkuat Kerjasama Multilateral
Pelantikan Lulyana berlangsung secara daring melalui Zoom oleh Sekretaris Utama BNN RI, Asep Saepudin, Senin, 26 Oktober 2026, pukul 11.00 Wita.
Sejak menjabat Kepala BNN Kota Bontang pada April 2023, Lulyana menilai dukungan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam menjalankan program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika.
Menurut dia, karakter masyarakat Bontang yang guyub memudahkan pemerintah membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut, kata dia, bukan sekadar slogan, melainkan diwujudkan melalui kerja nyata.
“Bontang itu kota yang sangat guyub. Sinergitas dan kolaborasi tidak hanya wacana, tetapi memang terjadi,” ujar Lulyana seusai pelantikan.
Salah satu hal yang berkesan selama bertugas di Bontang, menurut Lulyana, adalah penerapan konsep pentahelix. Pendekatan ini melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, serta media.
Dalam penanggulangan narkoba, kolaborasi lintas sektor diperlukan karena persoalan tersebut tidak cukup ditangani melalui penindakan hukum. Upaya pencegahan juga membutuhkan edukasi, keterlibatan keluarga, kepedulian lingkungan, dan dukungan berbagai pihak.
Lulyana juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Bontang terhadap program-program BNN. “Pemerintah Kota Bontang sangat kooperatif dan sangat mendukung program-program pusat,” katanya.
Meski akan melanjutkan tugas di Jawa Barat, Lulyana berharap program pencegahan narkoba yang telah berjalan di Bontang tetap berlanjut.
Baca juga: Razia Hiburan Malam Bontang, Tiga Positif Narkotika
Ia secara khusus menitipkan program PEKA (Peta Kerawanan) dan upaya menekan prevalensi penyalahgunaan narkoba hingga 2029. “Saya titip PEKA dan prevalensi 2029,” ujarnya.
Menurut dia, keberlanjutan program penting agar upaya pencegahan tidak bergantung pada sosok pemimpin tertentu. Dukungan lintas sektor dan partisipasi masyarakat diharapkan dapat menjaga sekaligus mengembangkan program sesuai kebutuhan daerah.
Pengganti Kepala BNN Bontang Masih Menunggu Keputusan Pusat
Sementara itu, jabatan Kepala BNN Kota Bontang belum memiliki pengganti definitif.
Kepala BNN Provinsi Kalimantan Timur, Brigjen Pol. Rudy Mulyanto, mengatakan penetapan pejabat baru masih menunggu keputusan BNN RI.
Rudy mengapresiasi pengabdian Lulyana selama lebih dari tiga tahun memimpin BNN Kota Bontang. Ia juga menyampaikan selamat atas penugasan baru Lulyana di Jawa Barat.
Baca juga: Kemensos Berdayakan Eks Pengguna Narkotika di Bontang
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Lulyana yang sudah mengabdi sebagai Kepala BNN Kota Bontang selama tiga tahun lebih. Kami juga mengucapkan selamat bertugas di tempat tugas yang baru di Bandung, Jawa Barat,” kata Rudy saat mengunjungi BNN Kota Bontang, Senin, 26 Oktober 2026.
Ia turut mengapresiasi dedikasi dan motivasi Lulyana selama menjalankan tugas di Bontang.
Untuk sementara, operasional BNN Kota Bontang akan dibantu oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Subbagian Umum, Cokorda, sembari menunggu penetapan kepala definitif dari BNN RI.
Rudy berharap keputusan mengenai pengganti Lulyana dapat segera diterbitkan agar kekosongan kepemimpinan tidak berlangsung terlalu lama. “Maunya kami secepatnya, biar nggak ada kekosongan,” ujarnya. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob