Desak Dilakukan Investigasi Independen Atas Pembunuhan Warga Sipil di Tanah Papua

Pemuda Katolik dan GAMKI Kecam Keras Tewasnya Warga Sipil di Tanah Papua

Reporter : Michael Fredy Yacob
Puing pesawat yang dibakar di Papua

JAKARTA, sanubari.co.id - Tanah Papua kembali disorot. Hal itu karena beberapa tindakan yang menjadi sorotan beberapa waktu terakhir ini. Kondisi ini pun mendapat respon dari organisasi Pemuda Katolik dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI).

Aksi yang menjadi sorotan itu adalah pembakaran pesawat misionaris AMA PK-RCY serta penembakan pilot Nicholas F. Gosselin, Pendeta Elianus Agimbau, ibu hamil Melkiana Duwitau dan bayinya, anak muda Okto Tigau, dan aparat keamanan hingga tewas.

Baca juga: GAMKI Desak Negara Jamin Kebebasan Beribadah Jemaat GMS Bantul, Soroti Dugaan Intoleransi

Kedua organisasi kepemudaan itu pun mengecam keras semua tindakan yang dilakukan oleh oknum di daerah paling timur Indonesia itu. Tragedi itu pun sekaligus menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di Tanah Papua.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma mengatakan, tindakan kekerasan terhadap pelayanan kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.

“Kami berduka bersama Gereja Katolik di Tanah Papua atas gugurnya seorang pilot yang datang bukan untuk berperang, melainkan untuk melayani masyarakat di wilayah-wilayah terpencil,” katanya, Kamis, 9 Juli 2026.

“Pembakaran pesawat misionaris dan pembunuhan terhadap pilotnya bukan hanya menyerang aset gereja, tetapi juga melukai harapan masyarakat yang selama ini bergantung pada pelayanan kemanusiaan tersebut,” tambahnya.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat. Ia menekankan, setiap nyawa manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Tidak boleh direnggut oleh kekerasan.

“Kami mengecam segala bentuk kekerasan terhadap siapapun. Baik warga sipil, tokoh agama, tenaga kemanusiaan, aparat negara, maupun kelompok masyarakat lainnya,” ungkapnya.

Baginya, tidak ada perjuangan yang memperoleh legitimasi moral ketika dibangun di atas pembunuhan dan teror. “Papua membutuhkan ruang dialog, keadilan, dan rekonsiliasi, bukan lingkaran kekerasan yang terus memakan korban," tegas Sahat.

Sahat pun menyampaikan sejumlah usulan konkret kepada pemerintah. Yakni GAMKI dan Pemuda Katolik mendesak semua pihak menghentikan segala bentuk kekerasan, menjunjung tinggi martabat manusia, melindungi pelayanan kemanusiaan dan keagamaan. 

Baca juga: Pengurus DPC ABPEDNAS Kukar Dilantik, Ini Pesan Jannes...

Serta mengutamakan keselamatan masyarakat. Terkhusus ribuan warga sipil yang mengungsi. “Kami juga meminta dilakukan investigasi independen atas pembunuhan terhadap warga sipil yang terjadi baru-baru ini,” tegasnya.

“Kami mendorong dilakukannya dialog damai yang melibatkan gereja, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Papua membutuhkan keadilan dan perdamaian, bukan kekerasan yang terus berulang,” pungkas Sahat.

Sementara itu, Ketua Gugus Tugas Papua PP Pemuda Katolik, Melkior Sitokdana, menyatakan, rangkaian tragedi tersebut harus menjadi panggilan moral bagi seluruh bangsa Indonesia untuk menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama.

Melkior mendorong pemerintah mengambil langkah konkret untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan di Papua. Salah satunya melalui pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) lokal. 

Serta menjamin keamanan dan keselamatan tenaga kesehatan, guru, dan tokoh agama, yang melakukan pelayanan di daerah konflik.

Baca juga: GAMKI Bontang Terpilih, Tulo Ditunjuk Jadi Nahkoda

“Kami mendorong pemerintah memperkuat kapasitas putra-putri orang asli Papua. Agar semakin banyak mengambil peran sebagai pilot, tenaga kesehatan, guru, dan profesi pelayanan publik lainnya di wilayah-wilayah terpencil,” tegasnya.

Selain memperluas kesempatan bagi SDM lokal, langkah ini diharapkan memperkuat kepercayaan masyarakat. Termasuk menjaga keberlangsungan pelayanan dasar, serta mendukung terciptanya situasi yang lebih kondusif bagi pelayanan kemanusiaan.

Pemuda Katolik dan GAMKI menilai pesan para uskup di Tanah Papua serta seruan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menjadi pengingat bahwa setiap korban kekerasan—baik pendeta, ibu hamil beserta bayinya, warga sipil, pilot pesawat, maupun aparat negara—merupakan tragedi kemanusiaan yang melukai martabat bersama.

“Kami percaya bahwa damai tidak akan lahir dari senjata. Tapi dari keberanian untuk menghormati kehidupan, menegakkan keadilan, dan memulihkan persaudaraan,” ucapnya.

“Darah yang tertumpah di Papua harus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan membuka jalan menuju perdamaian sejati,” katanya lagi. (*)

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru