WHO Terbitkan Strategi Perluas Akses Obat Kanker Anak

Reporter : Robby
Seorang pasien kanker anak bersama perawatnya. (WHO)

Amerika Serikat, sanubari.co.id Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), setiap tahun setidaknya ada 400.000 anak usia 0-19 tahun yang didiagnosa menderita kanker.

Dari jumlah itu, leukemia atau kanker darah mendominasi dengan jumlah 34,8 persen.

Menurut penelitian, hampir 90 persen penderita kanker anak tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di negara-negara tersebut akses pengobatannya sangat terbatas, sehingga tingkat kesembuhan pasien di bawah 30 persen.

Sementara di negara-negara berpenghasilan tinggi yang akes kesehatannya baik, tingkat kesembuhan di atas 80 persen.

WHO menyebut kanker anak sebagai salah satu ketimpangan paling mencolok dalam kesehatan global. Bahkan WHO menyebut situasi ini terjadi akibat kegagalan pasar dalam menyediakan stok obat yang murah, mudah didapat, dan berkualitas bagi anak-anak.

Untuk  mengatasi hal tersebut, WHO menerbitkan strategi pembentukan pasar (market shaping) obat kanker anak yang berisi paket sepuluh intervensi untuk periode 2026–2030. Dokumen setebal 88 halaman itu dirilis pada 15 September 2026.

Fokus jangka pendeknya adalah menstabilkan pasokan dan menggabungkan permintaan. Dimulai dari upaya transparansi pasar dan keberlanjutan yang dimulai pada tahun 2027. Kemudian pemberian dukungan untuk inovasi pasar mulai pada 2029.

Adapun fokus jangka panjangnya mencakup perluasan pasokan obat bermutu dan pengadaan bersama, percepatan jalur regulasi, perbaikan perkiraan kebutuhan, pembiayaan berkelanjutan, serta riset dan pengembangan.

Strategi ini diadopsi dari Global Platform for Access to Childhood Cancer Medicines. Platform yang kemitraan WHO dengan St. Jude Children's Research Hospital yang menyediakan bantuan pembelian dan distribusi obat kanker.

Targetnya adalah menyediakan obat bagi 120.000 anak di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Petugas di fasilitas kesehatan memeriksa stok obat. (WHO)

Sejak dimulai pada Februari 2025, sudah 12 negara menerima manfaat platform tersebut. Kedua belas negara tersebut adalah Ekuador, El Salvador, Ghana, Yordania, Moldova, Mongolia, Nepal, Pakistan, Senegal, Sri Lanka, Uzbekistan, dan Zambia.

“Tanpa penanganan kelangkaan dan buruknya mutu obat kanker di banyak wilayah dunia, hanya ada sedikit pilihan untuk menyembuhkan penderita kanker anak. Maka penyedia layanan kesehatan harus memiliki sumber obat yang andal sesuai standar perawatan terkini," kata Carlos Rodriguez-Galindo, Direktur St. Jude Global

Dampaknya mulai terlihat di tingkat kebijakan nasional. Dengan dukungan platform, Nepal telah mengumumkan pengobatan gratis bagi anak penderita kanker di fasilitas pemerintah, sementara Sri Lanka sedang dalam proses ke arah sana.

WHO memposisikan strategi ini sebagai peta jalan. Melalui aksi terkoordinasi negara anggota dan mitra, dokumen tersebut diharapkan mengarah pada pasar yang lebih tangguh, akses obat esensial yang lebih baik, dan peningkatan harapan sembuh bagi penderita kanker anak. (*)

Editor : Robby

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru