Presiden RI Prabowo Subianto Kembali Menjadi Sorotan Karena Pidatonya di Puncak HUT PAN

"Saking Pintarnya Jadi Goblok": Kenapa Kita Perlu Dengar Pidato Ini Secara Utuh

avatar Alan Christian Singkali
Presiden RI Prabowo Subianto saat pidato di HUT PAN, beberapa waktu lalu. (Foto: Sekretariat Presiden)
Presiden RI Prabowo Subianto saat pidato di HUT PAN, beberapa waktu lalu. (Foto: Sekretariat Presiden)

Catatan: Alan Christian Singkali, Direktur sanubari.co.id

Dengar Pidato Ini Secara Utuh

KALIMAT itu viral dalam hitungan jam: “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok.” Diucapkan Presiden Prabowo Subianto, Jumat malam, 18 September 2026, di puncak HUT ke-28 PAN, JICC Senayan. 

Baca Juga: Dugaan Penyadapan Prabowo: Tiga Jenderal Tersangka

Potongan 15 detiknya menyebar tanpa konteks — dan itu masalahnya.

Dengar Dulu Apa yang Terjadi Sebelum Kalimat Itu

Sebelum menyinggung soal pakar, Prabowo justru bicara panjang soal hal yang jauh lebih mendasar: kelaparan, stunting, gizi anak, masa depan generasi. 

"Saya ingin membela bangsa saya, untuk melihat suatu saat Indonesia terhormat, rakyat Indonesia sejahtera, tidak ada orang lapar di Indonesia," katanya. 

Ia bahkan menegaskan sumpahnya sejak muda untuk memperjuangkan itu semua. Baru setelah menyampaikan visi itu, ia menyentil pihak yang disebutnya "pakar". Dan penting dicatat: ia tidak menyerang seluruh akademisi. 

Kalimat lanjutannya jelas membatasi sasaran: "Ada beberapa pakar, saking pakarnya, dia melontarkan fitnah. Tapi sudahlah, kita bangsa yang besar, bangsa yang kuat." 

Bahkan setelah itu ia justru mengangkat standar yang sangat akademis: "Kalau anda punya kepintaran, jangan lupa, seorang cendekiawan itu harus jujur. Itu namanya kejujuran intelektual. Intellectual honesty." 

Baca Juga: Tiga Bintang Jatuh, Satu Warung Gempar

Ia juga mengutip Al-Baqarah 191 soal fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan.

Jadi yang diserang bukan kepintaran atau ilmu pengetahuan — melainkan penyalahgunaan status pakar untuk menyebar tudingan tanpa dasar. Itu kritik moral terhadap kejujuran, bukan anti-intelektualisme.

Wajar Kalau Nadanya Emosional

Ini bukan pernyataan dingin di ruang seminar — ini pidato di depan pendukung, tepat setelah presiden menyampaikan sumpah pribadinya untuk mensejahterakan rakyat.

Dalam konteks itu, kritik yang dipersepsikannya sebagai fitnah bukan sekadar beda pendapat, tapi terasa seperti serangan terhadap integritas perjuangan yang ia klaim sudah dipegangnya sejak usia 18 tahun. 

Baca Juga: Pak Sanu, Kang Bari, dan Perjalanan Panjang Sebuah Kertas

Gaya blak-blakan seperti ini memang berisiko dipotong dan disalahpahami — tapi itu konsekuensi dari cara bicara yang jujur dan tidak dipoles, bukan bukti niat buruk.

Ujian yang Sebenarnya: Buktikan, Jangan Cuma Ribut Soal Diksi

Kritik yang sah terhadap kebijakan pemerintah tetap berhak disampaikan —itu bukan yang dipersoalkan Prabowo. Yang ia soroti adalah kritik yang melompat jadi tudingan tanpa data. 

Kalau memang ada pakar yang merasa dituduh tanpa alasan, jalan keluarnya sederhana: tunjukkan bahwa kritiknya berbasis data dan metodologi yang jujur. Perdebatan soal kepantasan kata"goblok" gampang jadi distraksi dari pertanyaan yang lebih substantif itu. (*)

Berita Terbaru

Cerita Kita,

Bengawan Solo di Suriname

Saat mengikuti ibadah minggu pagi 1 November 2026 di Gereja Jawa & Belanda (Javanese and Dutch Church) jemaat Doeta Watjana di Paramaribo Suriname, salah satu