MAKASSAR, sanubari.co.id - Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur-Sulawesi Selatan yang dipimpin Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Hotel Clarion, Makassar, Rabu, 4 November 2026, mencatatkan komitmen transaksi sebesar Rp5,69 triliun.
Nilai tersebut terdiri atas penjualan produk Jawa Timur ke Sulawesi Selatan sebesar Rp 4.717.044.900.000 dan pembelian produk dari Sulawesi Selatan sebesar Rp 976.086.000.000.
Baca Juga: Disperindag Jatim Luncurkan Dashboard JATIM MELESAT
Khofifah berharap kerja sama perdagangan kedua provinsi dapat terus berkembang. Serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Terima kasih semuanya. Kita inginkan adalah bagaimana kita tumbuh bersama, berkembang bersama, maju bersama, dan tentu sejahtera bersama," dalam misi dagang tersebut.
Produk peternakan menjadi penyumbang terbesar komitmen transaksi, dengan nilai mencapai Rp4.255,34 miliar atau sekitar Rp4,26 triliun.
Komoditas yang diperdagangkan meliputi olahan daging unggas, olahan daging ruminansia, susu, daging ruminansia, daging unggas, anak ayam, kambing atau domba, serta pakan ternak.
Selain produk peternakan, penjualan Jawa Timur mencakup makanan dan hasil laut beku, aluminium ekstrusi, tepung gaplek, gula cair, material atap bitumen, produk fesyen, beras, gula kristal putih, benih pertanian, arang putih atau white charcoal, cabai, serta pakan ikan dan udang.
Adapun komoditas yang dibeli Jawa Timur dari Sulawesi Selatan antara lain kayu gergajian dan veneer, arang batok kelapa, ikan tuna, rotan, rempah-rempah, mete, cengkeh, dan gagang cengkeh.
Pertukaran komoditas ini membuka peluang bagi kedua provinsi untuk saling memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memasok bahan baku industri.
Di luar komoditas yang masuk dalam rekapitulasi transaksi, forum tersebut juga mempertemukan pelaku usaha dengan beragam produk unggulan dari kedua daerah.
Jawa Timur menawarkan produk berbasis konstruksi dan bahan bangunan, seperti rumput sintetis Artgrass, taman vertikal Art Vertikal, lumut sintetis, art wall, art sports, tangki air, bio septic tank, atap UPVC double layer, produk waterproofing, dan membran bakar.
Produk lainnya meliputi kain batik, tenun gedhog, produk konveksi, makanan siap saji, air minum dalam kemasan, buah-buahan, minyak herbal, olahan tuna, bawang merah, serta aneka kerupuk.
Sementara itu, Sulawesi Selatan menawarkan tepung sagu, pala, lada, jahe, rumput laut, agar-agar laut, serta berbagai produk olahan. Di antaranya sirup, kacang sembunyi, kerupuk lokal, abon tuna, bawang goreng, selai kaya, dan selai nanas.
Khofifah mengatakan misi dagang tersebut menjadi sarana untuk mempertemukan kebutuhan pasar dan potensi ekonomi kedua daerah. Dengan begitu, produk unggulan masing-masing provinsi dapat saling melengkapi.
"Misi dagang ini menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan dan potensi masing-masing daerah. Kita ingin perdagangan antardaerah semakin kuat, sehingga produk unggulan Jatim maupun Sulawesi Selatan dapat saling mengisi kebutuhan pasar," katanya.
Menurut Khofifah, hubungan perdagangan Jawa Timur dan Sulawesi Selatan selama ini telah berjalan cukup baik. Berdasarkan data perdagangan antarwilayah pada 2024, total nilai perdagangan kedua provinsi mencapai Rp2,24 triliun.
Dari jumlah tersebut, nilai penjualan atau muat Jawa Timur ke Sulawesi Selatan mencapai sekitar Rp1,39 triliun. Adapun nilai pembelian atau bongkar Jawa Timur dari Sulawesi Selatan sebesar Rp841,05 miliar.
Dengan demikian, Jawa Timur mencatatkan surplus perdagangan sebesar Rp552,91 miliar. Data tersebut menunjukkan daya saing produk Jawa Timur sekaligus potensi Sulawesi Selatan sebagai pemasok berbagai komoditas dan bahan baku bagi industri di Jawa Timur.
Baca Juga: Misi Dagang Jatim-Aceh Raup Rp1,2 Triliun
Khofifah juga menilai posisi Sulawesi Selatan strategis sebagai hub perdagangan Indonesia Timur. Sementara itu, Jawa Timur membawa semangat Gerbang Baru Nusantara untuk membangun konektivitas ekonomi yang lebih produktif antara wilayah barat dan timur Indonesia.
"Artinya, kita ingin membangun konektivitas yang lebih produktif antara sisi Indonesia bagian barat dan sisi Indonesia bagian timur. Apa yang kita lakukan hari ini adalah menabuh genderang efektivitas, produktivitas, dan nilai tambah bagi kedua provinsi," ujarnya.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Khofifah mendorong penguatan konektivitas logistik antara Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Efisiensi distribusi serta optimalisasi muatan berangkat dan pulang dinilai dapat menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan nilai perdagangan.
Menurut dia, potensi perdagangan kedua provinsi masih terbuka lebar. Karena itu, kerja sama yang terbangun melalui misi dagang diharapkan tidak berhenti pada pertemuan bisnis, tetapi berlanjut menjadi transaksi dan kemitraan jangka panjang.
"Potensi perdagangan antara Jawa Timur dan Sulawesi Selatan masih sangat besar untuk terus dikembangkan. Karena itu, kita ingin kerja sama ini tidak berhenti pada pertemuan bisnis, tetapi berlanjut menjadi transaksi dan kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi kedua daerah," katanya.
Khofifah menegaskan, misi dagang tidak semata-mata berorientasi pada nilai transaksi. Kegiatan tersebut juga menjadi instrumen untuk membangun konektivitas ekonomi antarwilayah, memperkuat rantai pasok nasional, dan mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru.
"Misi dagang ini bukan semata urusan transaksi jual beli, tetapi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan pemerataan ekonomi. Kita ingin antardaerah saling menguatkan, membuka peluang investasi, dan memberikan ruang lebih luas bagi produk unggulan daerah untuk berkembang," ujarnya.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengapresiasi kehadiran Khofifah beserta rombongan pelaku usaha Jawa Timur dalam kegiatan tersebut.
Baca Juga: Sarmuji Raih Lencana Emas Jatim
Menurut dia, misi dagang ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat hubungan perdagangan kedua provinsi.
"Kami sangat mengapresiasi Ibu Gubernur Jawa Timur yang hadir langsung membawa para pelaku usaha. Ini menjadi kesempatan baik untuk memperkuat kerja sama sekaligus membuka peluang perdagangan antara Jawa Timur dan Sulawesi Selatan," kata Andi.
Ia berharap kolaborasi kedua provinsi tidak hanya berlangsung dalam bentuk transaksi perdagangan, tetapi juga mencakup pendampingan dan pertukaran pengalaman dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah.
"Kami berharap Sulawesi Selatan bisa terus dibantu dan dibimbing oleh Jawa Timur. Kita tahu kekuatan ekonomi Jatim sangat tinggi. Karena itu, kami ingin belajar dan membangun kolaborasi agar potensi ekonomi Sulawesi Selatan semakin berkembang," ujarnya.
Misi dagang di Makassar merupakan pelaksanaan ke-10 dari rangkaian misi dagang Pemerintah Provinsi Jawa Timur sepanjang 2026.
Sejak 2019 hingga 2026, Pemprov Jatim telah menggelar 57 misi dagang domestik di 29 provinsi. Total komitmen transaksi yang tercatat dalam rekapitulasi sebelumnya mencapai Rp50,38 triliun.
Selain memperkuat perdagangan antardaerah di dalam negeri, Pemprov Jawa Timur juga memperluas jejaring perdagangan internasional.
Sejumlah negara dan wilayah yang menjadi tujuan misi dagang luar negeri antara lain Timor Leste, Hong Kong, Arab Saudi, Malaysia, Jepang, dan Singapura. (*)
Editor : Michael Fredy Yacob