Washington, sanubari.co.id — Pemerintah Amerika Serikat mendeportasi dua anggota delegasi Iran yang menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York setelah keduanya tetap berada di wilayah AS meski telah diminta meninggalkan negara tersebut. Keputusan ini menambah ketegangan hubungan Washington dan Teheran ketika upaya diplomatik kedua negara belum menghasilkan kesepakatan.
Departemen Luar Negeri AS pada Sabtu, 3 Oktober 2026 menyatakan dua anggota delegasi Iran masih berada di New York beberapa hari setelah sidang Majelis Umum PBB berakhir. Keduanya kemudian diminta meninggalkan AS. Menurut laporan yang mengutip pejabat AS, satu orang meninggalkan negara itu pada Jumat malam, sedangkan anggota lainnya berangkat Sabtu pagi.
“Dua anggota delegasi Iran ditemukan masih berada di New York jauh setelah Sidang Majelis Umum PBB berakhir. Mereka sekarang telah dikeluarkan dari AS,” kata seorang pejabat AS seperti dikutip oleh AFP.
Persoalan ini bermula pada 28 September 2026, ketika Departemen Luar Negeri AS meminta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan anggota delegasinya meninggalkan Amerika Serikat. Washington menilai agenda Sidang Majelis Umum PBB telah selesai sehingga keberadaan delegasi Iran tidak lagi diperlukan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. (Anadolu)
Namun, Teheran membantah bahwa delegasinya telah diusir. Misi Iran untuk PBB sebelumnya menyatakan keberangkatan delegasi telah dijadwalkan dan informasinya sudah disampaikan kepada pemerintah AS.
“Delegasi Iran meninggalkan New York pada Senin malam sesuai jadwal yang sebelumnya juga telah disampaikan kepada Departemen Luar Negeri AS pada 17 September,” kata anggota delegasi Iran untuk PBB.
Teheran bahkan menyebut pemberitaan mengenai pengusiran tersebut sebagai kabar yang tidak berdasar.
Sebelumnya, Washington memang memberikan visa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Abbas Araghchi, dan delegasi terbatas untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB. Izin tersebut diberikan meskipun AS dan Iran masih berada dalam konflik dan hubungan kedua negara sangat tegang. Delegasi Iran juga dikenai pembatasan pergerakan selama berada di New York.
Araghchi sendiri sempat bertahan di New York untuk mengikuti pembicaraan tidak langsung dengan pihak AS mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, konflik regional, dan program nuklir Iran. Namun, pembicaraan tersebut tidak menghasilkan terobosan berarti.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa ruang diplomasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi hambatan serius. Meski kedua pihak sebelumnya melakukan kontak di sela-sela sidang PBB, belum ada jadwal pembicaraan langsung baru yang diumumkan Iran.
Editor : Robby