Bangkok, sanubari.co.id - Keputusan Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) menunjuk Brunei Darussalam sebagai peserta pengganti Bahrain di King's Cup 2026 menuai kritik dari penggemar sepak bola.
Sejumlah suporter mempertanyakan kualitas lawan yang dipilih, terlebih Indonesia tidak masuk dalam daftar peserta turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Baca juga: PSIM Yogyakarta Pecat Van Gastel, Guntur Cahyo Utomo Jadi Pelatih Sementara
Kontroversi muncul setelah Bahrain memutuskan mundur dari turnamen yang memasuki edisi ke-52 tersebut. Sebelumnya, FAT telah mengumumkan Oman, Bahrain, dan Tajikistan sebagai tim undangan untuk mendampingi Thailand selaku tuan rumah.
Namun, mundurnya Bahrain membuat FAT harus mencari pengganti dalam waktu relatif singkat. Federasi Thailand akhirnya memilih Brunei Darussalam, yang menurut pemberitaan pada 16 Oktober 2026 berada di peringkat ke-196 dunia FIFA. Pilihan itu memicu kekecewaan karena kualitas Brunei dinilai jauh di bawah Bahrain dan sejumlah calon peserta lainnya.
Kritik publik Thailand berpusat pada kekhawatiran bahwa King's Cup kehilangan daya saing jika menghadirkan lawan yang dinilai kurang seimbang. Turnamen King's Cup selama bertahun-tahun menjadi ajang bagi tim nasional Thailand untuk menguji kemampuan melawan negara lain, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi internasional.
Sejumlah suporter bahkan mempertanyakan mengapa FAT tidak mengundang tim dengan peringkat lebih tinggi.
“Saya tidak bermaksud meremehkan Brunei, tetapi mereka memang terlalu lemah," kata seorang suporter.
Kritik lainnya menilai Thailand membutuhkan lawan yang lebih tangguh untuk mengukur perkembangan tim nasionalnya.
Di media sosial, tidak diundangnya Indonesia juga menjadi bahan perbincangan. Sebagian penggemar mempertanyakan keputusan tersebut setelah tim Garuda disebut baru mengalahkan Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026. Bahkan ada komentar yang menuding Thailand menghindari Indonesia.
Ketua FAT, Nualphan Lamsam atau Madam Pang, memberikan penjelasan bahwa keputusan tersebut diambil setelah Bahrain menarik diri secara mendadak. Menurutnya, federasi telah menghubungi sejumlah tim nasional untuk mencari pengganti yang bisa tampil pada jadwal turnamen.
Baca juga: MSCI Usul Status Pasar Saham Indonesia Turun, IHSG Langsung Rontok
“Setelah Bahrain mundur, kami mengirim undangan kepada sejumlah tim nasional di berbagai negara. Syaratnya, mereka tidak memiliki jadwal pertandingan internasional yang berbenturan dengan King's Cup pada pertengahan November,” kata Madam Pang, sebagaimana dikutip media Vietnam, Dan Tri.
Ia menegaskan bahwa Brunei menerima undangan tersebut dan memenuhi kebutuhan penyelenggara. Persoalannya, waktu persiapan yang sempit membuat FAT memiliki pilihan terbatas. Sejumlah negara lain dilaporkan telah memiliki agenda pertandingan, menghadapi kendala visa, atau mengalami persoalan internal.
Dengan demikian, alasan resmi FAT bukan karena ingin menghindari Indonesia, melainkan karena membutuhkan pengganti yang tersedia dalam waktu singkat.
Absennya Indonesia juga perlu dilihat dari rencana pertandingan tim Garuda pada periode FIFA Matchday November 2026. Ketua Umum PSSI Erick Thohir sebelumnya menyatakan bahwa Indonesia telah merencanakan pertandingan tandang melawan negara-negara Timur Tengah sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Asia 2027.
“Yang pasti, kita akan main di Timur Tengah,” kata Erick pada September lalu.
Baca juga: Tegas! Singapura Tindak 7 Perusahaan Pemicu Asap Lintas Batas
Namun demikian, PSSI tetap membuka opsi mencari lawan alternatif jika situasi keamanan kawasan tersebut tidak memungkinkan.
Kondisi itu menjadi salah satu konteks penting dalam menilai peluang Indonesia mengikuti King's Cup. Hingga informasi yang tersedia, tidak ada pernyataan resmi FAT yang menyebut Indonesia sengaja ditolak karena alasan persaingan atau kekhawatiran menghadapi kekuatan tim Garuda.
King's Cup 2026 dijadwalkan berlangsung pada November di Provinsi Sisaket, Thailand, dengan empat peserta: Thailand, Oman, Tajikistan, dan Brunei Darussalam.
Kontroversi ini pada akhirnya menjadi tantangan bagi FAT untuk menjaga daya tarik turnamen tersebut. Sementara itu, kritik publik masih berupa penilaian terhadap kualitas peserta, bukan bukti bahwa keputusan federasi dilandasi motif menghindari Indonesia.
Editor : Robby