Pakar komunikasi Daniel Susilo mendorong warganet Indonesia meningkatkan literasi komunikasi

Kabut Asap Picu Konflik Warganet Indonesia-Malaysia, Begini Kata Pakar...

sanubari.co.id
Dr Daniel Susilo, Senior Lecturer Taylor’s University Malaysia saat memberikan Keynote Speech di University of the Philippines (2023). (Foto: Dokumen pribadi)

KUALA LUMPUR, sanubari.co.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia turut menyelimuti sejumlah wilayah Malaysia dalam beberapa bulan terakhir.

Dampak lintas batas itu tak hanya memicu persoalan lingkungan, tetapi juga menyulut ketegangan di ruang digital antara warganet kedua negara.

Baca juga: Mengapa Kebakaran Hutan 2026 Begitu Parah?

Di tengah memanasnya perseteruan di media sosial, warganet Indonesia didorong meningkatkan literasi komunikasi untuk mencegah polarisasi dan meredam konflik dengan masyarakat Malaysia yang terdampak polusi asap.

Senior Lecturer di Taylor’s University Malaysia, Dr. Daniel Susilo, mengatakan ketegangan di dunia maya perlu diatasi melalui dua jalur: diplomasi pemerintah yang tegas dan kedewasaan publik dalam berkomunikasi di media sosial.

“Kabut asap akibat karhutla ini sudah berbulan-bulan mengepung Malaysia,” kata Daniel dalam keterangan resmi yang diterima sanubari.co.id, Senin, 26 Oktober 2026.

Menurut dia, krisis yang berkepanjangan tersebut membutuhkan komunikasi diplomatik yang konkret antarpemerintah, terutama ketika perseteruan di media sosial antara warganet kedua negara semakin memanas.

“Dalam kondisi krisis yang berlarut-larut ini, kita sangat membutuhkan komunikasi diplomatik yang nyata antarpemerintah. Mengingat perang dunia maya di antara warganet semakin memanas,” ujarnya.

Pakar komunikasi yang pernah menjadi peneliti pascadoktoral di Vrije Universiteit Amsterdam itu secara khusus menyoroti pentingnya peningkatan literasi komunikasi di kalangan warganet Indonesia.

Dengan jumlah pengguna internet yang besar, respons publik Indonesia di media sosial berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat internasional. Sikap defensif, agresif, atau chauvinistis justru berisiko memperkeruh konflik dan merugikan citra Indonesia.

Baca juga: Polri Tetapkan 243 Orang dan 13 Korporasi Jadi Tersangka Karhutla

Daniel menilai literasi komunikasi tidak cukup hanya dengan kemampuan mengakses informasi. Warganet juga perlu bersikap kritis dalam memilah informasi serta memahami keluhan masyarakat negara tetangga yang terdampak polusi asap.

Alih-alih terpancing provokasi atau terlibat aksi saling menghujat, warganet Indonesia diharapkan menunjukkan empati dan menjaga objektivitas dalam menyikapi persoalan tersebut.

“Bentuk literasi komunikasi yang paling dibutuhkan dari warganet Indonesia saat ini adalah kemampuan mengarahkan diskursus ke akar masalah,” kata Daniel.

Ia menilai perhatian publik di media sosial sebaiknya diarahkan pada upaya mendorong transparansi dan penegakan hukum terhadap korporasi maupun pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran lahan.

“Bukan malah menyerang sesama masyarakat sipil yang sama-sama menjadi korban krisis ekologis,” ujarnya.

Baca juga: TPS Catat Arus Peti Kemas 120.725 TEUs

Menurut Daniel, sikap empatik, kritis, dan tidak reaktif dari warganet Indonesia dapat membantu meredakan ketegangan di media sosial.

Dengan demikian, perdebatan publik tidak berhenti pada sentimen kebangsaan, tetapi bergerak menuju pembahasan mengenai penyebab dan penyelesaian krisis lingkungan.

Kesadaran berkomunikasi di ruang digital juga diharapkan mendukung upaya diplomasi bilateral Indonesia dan Malaysia.

Di tengah persoalan kabut asap lintas batas, hubungan antarmasyarakat di kawasan ASEAN perlu tetap terjaga agar konflik di media sosial tidak memperlebar jarak antara kedua negara. (*)

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Berita Populer
Berita Terbaru