Di sebuah sudut kota yang jarang terpetakan oleh GPS modern, berdiri Pasar Kaget Jaya. Sebuah surga bagi mereka yang mencari barang-barang unik, diskon misterius, dan, belakangan ini, sumber kekhawatiran yang sangat spesifik: retribusi ruko.
----------------------
Baca juga: Fasilitas Bocor, Retribusi Selangit: Jeritan Pedagang Stadion Lang-Lang Bontang
CERITA ini berawal ketika pengumuman kenaikan retribusi sebesar 300 persen ditempelkan dengan gagah berani di papan pengumuman. Biasanya papan itu hanya berisi jadwal arisan dan lomba makan kerupuk.
Para pedagang Pasar Kaget Jaya, yang omset harian mereka sudah mirip grafik detak jantung pasien koma, langsung merasakan efeknya. Bukan di dompet mereka duluan, tapi di kepala. Mereka mulai “pusing” dalam artian yang sangat literal.
Pusing yang Terstruktur dan Terencana
Awalnya, Pak Somat, pemilik kios “Antik tapi Baru (Kemarin Nemu)”, menjual berbagai benda yang ia klaim memiliki “aura historis, walau baru beli di loak sebelah”, adalah yang pertama merasakannya.
Dulu, pusingnya hanya sesekali –seperti efek samping membaca manual pompa air. Namun, setelah retribusi naik, pusingnya jadi rutin, berirama, dan terkadang disertai visualisasi angka-angka retribusi menari-nari di depan matanya.
Salah satu benda paling aneh di kios Pak Somat adalah “Batu Penekan Badai”. Sebuah batu bundar kehitaman yang ia klaim bisa meredakan cuaca ekstrem di hati. Tapi belum pernah ada yang minat membeli.
“Kepala saya ini, seperti ada drum band di dalamnya,” keluh Pak Somat suatu pagi, memijat pelipisnya di depan Bu Reni, yang kios herbalnya persis di seberang. Bu Reni, spesialis ramuan “Anti-Jomblo Permanen” dan “Kuat Nonton Sinetron”, menawarkan teh daun katup-katup.
“Itu pusing biasa, Pak Somat,” kata Bu Reni dengan bijak, “Tanda-tanda otak bekerja keras memikirkan rumus keuntungan minus.”
Namun, Bu Reni sendiri tak lama kemudian merasakan sensasi serupa. Ia mulai mendengar dengungan frekuensi rendah setiap kali melihat kertas tagihan retribusi. Dengungan itu, menurutnya, adalah “frekuensi kesengsaraan ekonomi”.
Koh Ahong, penjual alat-alat pertukangan yang serba bisa dan serba tak laku, yang paling skeptis di antara mereka, akhirnya juga terjangkit. Ia mulai berjalan berputar-putar tanpa sadar setiap kali menghitung sisa modal.
Lingkaran yang ia buat semakin sempurna. Sampai suatu hari ia menemukan dirinya kembali di depan tokonya. Persis di tempat ia mulai berjalan, hanya untuk menyadari bahwa ia baru saja memutari seluruh pasar lima kali.
“Ini bukan pusing biasa,” kata Koh Ahong, napasnya tersengal, “Ini... pusing terorganisir!”
Teori Pusaran Ekonomi dan Solusi Absurd
Setelah serangkaian pertemuan di warung kopi Mbah Karto (yang untungnya tidak ikut pusing), para pedagang menyimpulkan bahwa pusing mereka bukan sekadar gejala stres.
Ini adalah manifestasi fisik dari “Pusaran Ekonomi Negatif”. Disebabkan oleh retribusi tinggi dan penjualan rendah.
“Pusaran ini,” terang Pak Somat, menunjuk ke kepalanya, “menyedot energi positif, menggantikannya dengan gelombang pusing. Kita harus menemukan cara untuk mengalirkan pusing ini keluar.”
Bu Reni mengajukan “Teh Daun Pengusir Pusaran”. Ramuan berwarna hijau kebiruan itu rasanya seperti campuran obat kumur dan daun kering. Setelah meminumnya, para pedagang bukannya sembuh, malah merasa pusing mereka makin berputar kencang.
Namun, mereka menafsirkannya sebagai “proses detoksifikasi pusing” yang ampuh. Mereka bersorak, meyakini bahwa pusing yang memburuk adalah tanda bahwa ramuan itu bekerja keras 'mengusir' energi negatif dari kepala mereka.
Mbah Karto bahkan mulai menawarkan Teh Daun Pengusir Pusaran sebagai menu baru di warungnya, menaikkan harga lima puluh perak karena efek samping yang dramatis.
Suatu sore, Pak Somat, dalam kondisi pusing yang membuat seluruh kiosnya terlihat seperti lukisan abstrak. Tak sengaja menjatuhkan Batu Penekan Badai miliknya. Ajaibnya, saat batu itu jatuh, kepalanya terasa sedikit lebih lega.
Ketika ia memungutnya, pusing itu kembali. Ia mencoba lagi, meletakkan batu itu, mengambilnya. Semakin sering ia meletakkan batu itu, semakin pusingnya mereda.
Baca juga: Sebuah Obsesi Renyah yang Terpelihara Rapi
“Eureka!” teriak Pak Somat, sambil memegangi kepala yang masih sedikit limbung. “Batu ini! Batu penekan badai. Bukan cuma meredakan cuaca di hati, tapi juga pusaran ekonomi di kepala!”
Para pedagang lain awalnya skeptis. Tetapi setelah Pak Somat mendemonstrasikannya –dengan proses meletakkan dan mengangkat batu yang terlihat sangat ritualistik dan konyol, mereka mulai percaya.
Mereka mengamati bahwa setiap kali Pak Somat meletakkan batu itu, pusingnya mereda. Bu Reni, yang berdiri di sampingnya, merasa dengungan di telinganya sedikit melambat.
Antrean Transfer Pusing dan Kenaikan Retribusi yang Tak Terduga
Berita tentang Batu Penekan Badai menyebar seperti gosip diskon akhir tahun. Setiap pagi, antrean panjang mengular di depan kios Pak Somat. Bukan untuk membeli dagangannya, melainkan untuk "transfer pusing".
Para pedagang datang membawa berbagai benda yang mereka yakini bisa menjadi konduktor pusing mereka: Koh Ahong membawa kalkulatornya, Bu Reni membawa cobek warisan, bahkan tukang jahit Pak RT membawa mesin jahit mininya.
Mereka bergantian meletakkan benda-benda itu di atas Batu Penekan Badai, berharap pusaran ekonomi di kepala mereka terserap. Proses ini dilakukan dengan khidmat, sambil komat-kamit membaca mantra-mantra yang terdengar seperti daftar harga barang.
“Rasakan, bagaimana pusing itu berpindah!” seru Pak Somat setiap kali ada pedagang yang mengaku merasa lega. Tentu saja, pusing itu belum hilang sepenuhnya. Tapi setidaknya ada harapan baru yang aneh.
Fenomena antrean ini menarik perhatian pengelola Pasar Kaget Jaya, Bapak Lurah Jaya sendiri, yang biasanya hanya muncul saat pembagian daging kurban. Ia melihat keramaian di kios Pak Somat dan menyimpulkan sesuatu yang sangat “logis” dari sudut pandang birokrasi.
“Pak Somat, Anda rupanya punya produk baru yang laris manis!” kata Pak Lurah Jaya, matanya berbinar melihat keramaian.
“Hebat! Pasar Kaget Jaya bangga memiliki pedagang inovatif seperti Anda. Oleh karena itu, sebagai bentuk apresiasi atas peningkatan keramaian yang Anda ciptakan, kami akan menaikkan retribusi kios Anda dua kali lipat lagi!”
Baca juga: Harmoni Kentang dan Kopi yang Hampir Punah
Seketika, pusing kolektif para pedagang kembali dengan intensitas penuh. Mereka terhuyung-huyung. Namun, anehnya, mereka tidak marah pada Pak Lurah Jaya. Mereka menatap Batu Penekan Badai dengan tatapan penuh kengerian dan kekaguman.
“Batu ini terlalu kuat!” desis Koh Ahong, “Pusaran ekonomi yang diserapnya begitu besar, sampai pengelola pasar pun merasakannya dan menuntut lebih!”
Bu Reni mengangguk setuju. “Ini bukan lagi batu penekan badai, ini magnet rezeki yang terlalu efektif!”
Rotasi Pusing dan Kesepakatan Baru yang Aneh
Maka, setelah musyawarah mufakat yang memusingkan, para pedagang menemukan solusi baru untuk Batu Penekan Badai yang terlalu "ampuh" ini. Mereka memutuskan untuk membuat jadwal rotasi.
Setiap hari, Batu Penekan Badai akan berpindah dari satu kios ke kios lain. Ini bukan hanya untuk meredakan pusing, tetapi juga untuk "mendistribusikan beban rezeki" agar tidak ada satu kios pun yang retribusinya naik terlalu tinggi lagi.
Setiap pagi, setelah doa bersama, Batu Penekan Badai akan diarak dalam sebuah prosesi kecil dari kios sebelumnya ke kios yang mendapatkan giliran. Mereka melakukannya dengan serius, seolah itu adalah benda suci.
Pak Lurah Jaya, yang sesekali melihat arak-arakan batu itu, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Aduh, para pedagang ini. Ada-ada saja ritualnya. Mungkin itu bagian dari pemasaran 'keunikan' Pasar Kaget Jaya," gumam Pak Lurah Jaya, sambil berpikir untuk menaikkan retribusi untuk "Dana Pelestarian Budaya Lokal" di kemudian hari.
Penjualan di Pasar Kaget Jaya tidak membaik. Retribusi masih mencekik. Tetapi pusing mereka? Pusing itu kini terasa terkelola. Ia telah bertransformasi dari sebuah masalah individu menjadi ritual kolektif yang aneh, penuh harapan, dan secara paradoks.
Cukup efektif meredakan stres. Mereka mungkin masih pusing, tapi setidaknya pusing itu sekarang punya tujuan yang jelas dan sebuah batu bundar sebagai pusat perhatian. (*)
Editor : Redaksi Sanubari