Menghindari naik Pesawat karena harga tiket selangit

Berbondong-Bondong Naik Kapal Laut

Reporter : Michael Fredy Yacob
Suasana di luar kapal Dharma Ferry 7, Sabtu, 20 Juni 2026. (Foto: Michael Fredy Yacob)

Kondisi perekonomian saat ini memaksa masyarakat menggunakan transportasi yang lebih lambat namun hemat. Saat ini masyarakat Indonesia dihadapkan dengan situasi yang cukup berat: gaji tetap, kebutuhan meningkat. Apalagi, harga BBM meroket.

-------------------------

Baca juga: Bawa UMKM Naik Kelas, Festival Kopi Jatim Bidik Pasar Menengah Atas di Ciputra World

MATAHARI hari itu, 20 Juni 2026, menyinari Balikpapan dengan maksimal. Belum lagi ditambah polusi udara akibat kendaraan bermotor dan pabrik, menambah gerah suasana. Saya baru saja tiba di Kota Minyak --sebutan Balikpapan, dari Samarinda.

Tujuan utama saya adalah Surabaya. Kali ini tidak seperti biasanya ke Kota Pahlawan menggunakan pesawat. Melainkan menggunakan kapal laut. Alasannya sederhana: harga tiket pesawat cukup mahal.

Saya tiba di terminal bus Batu Ampar sekitar pukul 14.30 Wita. Jarak terminal tersebut ke Pelabuhan Semayang sekitar 11,1 kilometer atau sekitar 30 menit menggunakan mobil jika lalu lintas tidak macet. Betul saja, perjalanan kali ini, lancar.

Sekitar pukul 15.00 Wita saya sampai di Pelabuhan Semayang dengan menggunakan mobil ojek online (Ojol). Saya tidak fokus dengan lingkungan di luar mobil. Sepanjang perjalanan, fokus saya hanya di layar handphone. Pun termasuk ketika tiba, membayar dan menurunkan barang.

Setelah semua barang bawaan turun dari mobil, saya sempat terdiam beberapa menit melihat ratusan masyarakat terhambur di halaman bangunan pelabuhan tersebut. Dari ujung sisi kiri bangunan ke ujung kanan, perlahan saya amati. Hampir tidak ada celah buat jalan.

Semakin malam, semakin padat. Sempat berpikir, besok keberangkatan kapal pasti cukup banyak. Lamunan itu langsung buyar setelah seorang pria menawarkan alas untuk beristirahat. Saya menolak secara halus. 

Saya langsung beranjak ke lantai dua bangunan itu, karena sudah ada orang tua yang menunggu di sana. Ketika itu, kami bertiga akan berangkat ke Surabaya. Kami memilih menggunakan kapal karena harga yang lebih murah.

Penumpang KM Dharma Ferry 7 saat menikmati pemandangan laut. (Foto: Michael Fredy Yacob)

Maklum, geopolitik yang terjadi di Timur Tengah berdampak pada harga BBM. Pun termasuk harga avtur yang menjadi bahan bakar pesawat. Harga tiket pesawat Balikpapan-Surabaya tembus di angka Rp 1,8 juta per orang. Padahal, sebelumnya paling mahal Rp 1,2-1,3 juta per orang. Naik hampir 50 persen.

Akhirnya, transportasi paling masuk akal adalah naik kapal. Walau, selisih waktunya cukup jauh. Kalau naik pesawat hanya sekitar 2 jam saja. Tetapi, kalau naik kapal, mencapai 36 jam. Jauh sekali. Harganya pun jauh lebih murah.

Perjalanan kali ini, kami mendapatkan tiket ekonomi non-seat. Harga tiketnya sekitar Rp 500 ribu. Kami gunakan kapal KM Dharma Ferry VII. Kapal itu di bawah naungan PT Dharma Lautan Utama (DLU). 

Kapal yang sedang naik daun karena kemewahan interior dan pelayanannya. Katanya sekelas hotel bintang empat. Sebenarnya, saya ingin membuktikan klaim tersebut. Ternyata salah momen. Secara kasat mata, memang interior kapal itu cukup mewah. 

Tetapi, kondisi ekonomi saat ini memaksa semua masyarakat menggunakan kapal. Ketika masih berada di pelabuhan, sebagian besar orang yang saya temui secara acak ngomong mereka akan berangkat ke Jawa Timur. Artinya, akan turun di Surabaya. 

Misalnya saja Gilang. Ia dari Sangatta akan ke Blitar. Gilang bersama keluarganya ingin berlibur ke kampung halaman. Biasanya mereka pulang naik pesawat. Tapi, kali ini kebiasaan itu diubah. Mereka memutuskan untuk menggunakan kapal laut.

Baca juga: Menjaga Momentum Ekonomi dengan Memperkuat Daya Beli Rakyat

“Saya pulang ini berempat. Kalau naik pesawat, dengan Rp 2 juta, saya hanya dapat satu tiket. Ini, saya bisa bayar untuk empat orang. Ya, tambah dikit lagi lah. Ini juga pertama kali kami naik kapal laut. Ekonomi non-seat lagi,” ungkapnya.

Sekitar pukul 09.00 Wita, Dharma Ferry VII sandar di pelabuhan Semayang. Tapi, penumpang baru diperbolehkan naik setelah check-in di loket sekitar pukul 02.00 Wita, dini hari. Ribuan orang berlomba naik kapal.

Salah satu penumpang yang mengabadikan sunset di atas KM Dharma Ferry 7. (Foto: Michael Fredy Yacob)

Ketika itu saya menyadari bahwa sebagian besar orang yang tidur di halaman pelabuhan Semayang menggunakan kapal yang sama dengan tujuan yang sama. Saya pun baru memahami bahwa saat itu penumpang non-seat harus war tempat tidur.

Bagi penumpang vip, kelas, dan ekonomi tidur, mereka sudah ada tempat masing-masing. Sehingga, naik kapal tidak perlu buru-buru. Kami sempat kesulitan mendapat tempat. Banyak penumpang non-seat yang tidur di sisi luar kapal. 

Tetapi, ada juga yang memanfaatkan jalan untuk istirahat. Kebetulan, kami mendapat tempat di musalah kapal. Berusaha tingkatkan kamar dengan melapor ke resepsionis kapal, tetapi, tetap tidak ada kamar yang kosong.

Saat itu, saya baru memahami ada istilah “war tiket” atau berusaha mendapatkan tiket kelas maupun ekonomi tidur dengan cepat. “Untuk naik kapal ini saya sudah mulai war tiket dari satu bulan yang lalu. Tapi ternyata, tetap juga tidak dapat,” ungkap Joko, salah satu penumpang.

Awalnya, ia sempat mendapatkan kuota ekonomi tidur. Tetapi, karena bermasalah jaringan ketika proses akhir, alhasil, tiket itu keburu diambil orang. Akhirnya, ia dan keluarganya harus menerima kenyataan mendapat tiket ekonomi non-seat.

Baca juga: Harga Pangan Turun, Ekonomi Jawa Timur Tetap Stabil

“Ya, daripada gak dapat sama sekali, jadi, mending kami langsung saja ambil tiket ini. Saya ini kasihan sama anak saya sih. Tidur di luar kapal seperti ini. Banyak angin. Apalagi kalau malam,” ungkapnya.

Belakangan diketahui bahwa total penumpang yang naik di KM Dharma Ferry 7 ini sekitar 2 ribu orang. Sudah termasuk penumpang vip, kelas, ekonomi tidur, ekonomi duduk dan ekonomi non-seat. Juga termasuk sopir truk yang memiliki ruangan khusus.

Saat dikonfirmasi, Direktur Operasional PT DLU, Rakhmatika Ardianto mengatakan, umumnya, saat ini kondisi penumpang tidak terlalu naik signifikan. Apalagi, penumpang yang menggunakan kapal berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah.

“Menurut saya, dengan kondisi ekonomi saat ini, masyarakat memilih untuk tidak kemana-mana. Mereka lebih memilih menyimpan atau mengalihkan penggunaan uang mereka ke hal yang lebih penting, ketimbang hanya jalan-jalan,” katanya, Senin, 13 Juni 2026.

Bahkan, tren penurunan penumpang sudah terjadi sejak April 2026 lalu. Kondisi Juni pun tergolong masih sama. Terjadi penurunan 5-10 persen dari bulan-bulan sebelumnya. Atau bahkan di periode yang sama tahun lalu.

Ia mengakui, di momen libur sekolah, terjadi peningkatan penumpang. Walau, kenaikannya juga tidak terlalu signifikan. “Setelah anak-anak mulai kembali sekolah, pasti jumlah penumpang akan kembali normal,” bebernya.

Ia berharap, ekonomi bisa secepatnya normal. Sehingga, industri bisa kembali berjalan maksimal. “Sangat terasa banget dengan pelemahan ekonomi saat ini. Tapi kami yakin, kondisi ini tidak akan berjalan lama,” ungkapnya. (*)

Editor : Michael Fredy Yacob

Serba Serbi
Senin, 13 Jul 2026 12:59 WIB
Senin, 13 Jul 2026 09:50 WIB
Senin, 13 Jul 2026 09:30 WIB
Senin, 13 Jul 2026 09:13 WIB
Minggu, 12 Jul 2026 16:49 WIB
Berita Populer
Minggu, 12 Jul 2026 16:58 WIB
Senin, 13 Jul 2026 17:25 WIB
Senin, 13 Jul 2026 08:52 WIB
Berita Terbaru